Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 18 April 2022 | 05.33 WIB

Berpulangnya Khadijah dan Konsep the Year of Sorrow dalam Islam

Photo - Image

Photo

JawaPos.com–Konsep the year of sorrow atau tahun kesedihan dikenal sejak 619 sebelum Masehi, atau 10 tahun setelah Malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad SAW.

The year of sorrow atau عام الحزن (am al-Huzn) merupakan tahun di mana Nabi Muhammad SAW kehilangan istrinya, Khadijah, dan juga pamannya Abu Thalib.

Empat hari lalu, tepatnya pada 10 Ramadan tahun 619 sebelum Masehi, Khadijah radiyallahu anhu (r.a) meninggal dunia. Selain dikenal sebagai istri Nabi Muhammad SAW, Khadijah juga dikenal sebagai perempuan pertama yang masuk Islam.

Edward Gibbon, sejarawan asal Inggris menulis bahwa berpulangnya Khadijah membuat Nabi Muhammad SAW sangat kehilangan. Terlebih lagi, Khadijah telah menemani Muhammad selama lebih dari 24 tahun.

Khadijah juga merupakan perempuan pertama yang menolak poligami. Dalam buku The Decline and Fall of the Roman Empire, poligami tidak pernah dibenarkan meskipun rivalitas antar istri tidak akan berpengaruh pada kelembutan hati seorang ibu.

Pasca Khadijah berpulang, dalam kesedihannya, Nabi Muhammad menempatkan Khadijah dalam urutan 4 perempuan sempurna di Islam. Di urutan itu, Khadijah bersanding dengan Fatimah (putrinya), Maryam (ibu Nabi Isa), dan Asiyah binti Muhazim (istri Pharaoh).

Khadijah dimakamkan di Hujun yang berada di atas Makkah. Sebulan setelah berpulangnya Khadijah, Nabi Muhammad SAW harus kembali berduka dengan berpulangnya Abu Talib, pamannya.

Meninggalnya dua orang terdekat dalam hidupnya itu membuat Nabi Muhammad menyebut tahun ke-10 Hijriah sebagai Tahun Kesedihan. Kondisi itu diperparah dengan kondisi keamanan Makkah yang semakin ringkih. Menigngat Abu Thalib merupakan pemimpin kabilah Bani Hasyim. Otomatis, tidak ada jaminan keamanan dari kabilahnya.

Terelebih lagi, posisi Abu Thalib digantikan Abu Lahab yang dikenal sebagai sosok penentang Islam. Sehingga perlindngan dari Abu Lahab tak dapat diandalkan.

Pada saat yang sama, Rasulullah SAW pun memutuskan untuk memulai perjalanan ke Thaif. Di sana, Nabi bertemu dengan 3 saudara pemimpin kabilah Banu Tsaqif dengan harapan mendapatkan perlindungan dan mampu menghindari musuh.

Namun, kondisi justru berbalik. Sebab tiga bersaudara itu malah mengirimkan pasukan untuk menyerang Rasulullah SAW. Berdasar buku Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources yang ditulis Martin Lings (2006), Nabi Muhammad kemudian mencari perlindungan lain ke Akhnas Ibnu Shariq dari Bani Zuhrah dan Suhayl Ibnu Amir dari Bani Amir. Keduanya tetap menolak permohonan bantuan dari Rasulullah SAW.

Menurut mereka, apa yang akan mereka lakukan tidak akan berpengaruh pada Islam, namun hanya menyakiti suku Quraisy. Perjalanan Muhammad selama tahun kesedihan itu membuatnya lebih tangguh menghadapi berbagai masalah dan peristiwa keislaman tahun-tahun berikutnya. Sebab dalam dukanya, Rasulullah SAW lebih dekat dengan Allah SWT. Akhirnya mempertemukan dirinya dengan Mutcim Ibnu Adi, pimpinan Bani Nawfal.

Berdasar buku Karen Armstrong, Islam: A Short History, Mut'im disebut membantu Rasulullah SAW bersama putra dan saudara-saudara sepupunya untuk keluar dari Makkah dengan perlindungan maksimal.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore