Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 3 Agustus 2025 | 19.17 WIB

Penyakit Kardiovaskular Menjadi Salah Satu Penyebab Kematian Terbanyak, Teknologi Terkini untuk Deteksi Awal Dibutuhkan

Ilustrasi dokter lakukan operasi jantung ulang/ dok Heartology Cardiovascular Center

JawaPos.com - Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2024 mencatat lebih dari 651.000 kematian setiap tahun berasal dari stroke, penyakit jantung koroner, hingga hipertensi dengan komplikasi jantung.

Untuk mengatasi kondisi ini, dibutuhkan kolaborasi antarprofesi medis serta pemanfaatan teknologi deteksi dini seperti USG portabel (POCUS). Hal ini menjadi fokus utama dalam konferensi ilmiah tahunan CARES 2025 yang diselenggarakan oleh Heartology Cardiovascular Hospital.

CEO Heartology, dr. Ridwan Tjahjadi Lembong, menekankan pentingnya platform seperti CARES 2025 untuk memperbarui pengetahuan para dokter umum dan spesialis tentang kasus-kasus kardiovaskular.

Ia menuturkan bahwa CARES tak hanya sekadar wadah pembelajaran, melainkan juga ajang berbagi pengalaman nyata dari praktik klinis. Salah satu poin penting dalam kegiatan ini adalah pelatihan penggunaan USG portabel yang memungkinkan deteksi dini penyakit jantung di wilayah-wilayah terpencil tanpa harus menunggu dokter spesialis.

“Heartology membekali para dokter umum dengan keterampilan teknologi POCUS agar deteksi awal bisa dilakukan lebih luas. Ini strategi penting agar tidak semua pasien harus menunggu atau pergi ke luar negeri untuk mendapatkan penanganan,” ujar dr. Ridwan, Minggu (3/8).

Ia juga menyebut bahwa dengan teknologi mutakhir seperti pulse field ablation dan keahlian tim medis dalam negeri, Indonesia mampu menjadi rujukan layanan jantung berkualitas.

Konferensi bertajuk “Heart & Vessel Dialogues: Case Sharing Across Cardiovascular Medicine” ini digelar di Ballroom Mandarin Oriental, Jakarta, dan menghadirkan 300 peserta simposium serta 165 peserta workshop. CARES 2025 dirancang lebih interaktif dibanding tahun sebelumnya, dengan sesi berbagi kasus nyata dari lapangan, kompetisi Abstract Sharing Case, hingga diskusi mendalam tentang penyakit jantung koroner kompleks, intervensi penyakit jantung struktural, serta penanganan aorta rumit.

Ketua Panitia CARES 2025, dr. Adrianus Kosasih, Sp.JP(K), menjelaskan bahwa konferensi ini menjadi jembatan antara teori kedokteran dan praktik klinis sehari-hari.

“Kami percaya, setiap dokter di mana pun berada punya kontribusi besar untuk meningkatkan penanganan penyakit jantung di Indonesia,” katanya.

Workshop CARES 2025 juga membekali peserta dengan kemampuan membaca EKG dalam kondisi darurat, menggunakan Holter monitor, serta mendeteksi kelainan jantung melalui USG portabel. Semua sesi dipandu oleh para spesialis dari Heartology, termasuk dr. Radityo Prakoso, Sp.JP(K) yang kerap menangani pasien gagal terapi dari luar negeri.

Deretan pembicara CARES 2025 melibatkan para ahli di bidang kardiologi dan bedah toraks seperti Dr. dr. Dafsah Arifa Juzar, Sp.JP(K), Dr. dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K), Dr. Dicky A. Hanafy, Sp.JP(K), hingga dr. Sunu B. Raharjo, Sp.JP(K), PhD. Mereka turut menegaskan pentingnya kontribusi bersama untuk menciptakan sistem pelayanan kardiovaskular nasional yang berkualitas dan merata.

Heartology berharap CARES 2025 bukan sekadar forum diskusi, tapi juga momentum menciptakan cara pandang baru dalam menangani penyakit jantung di Indonesia.

“Di dunia kedokteran, kita tidak bisa bekerja sendiri. Perubahan besar hanya bisa tercapai ketika kita duduk bersama dan bicara tentang praktik nyata di lapangan,” tutup dr. Ridwan.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore