Ilustrasi: Bubur Bayi Instan sebagai MPASI Tak Direkomendasikan Ahli Gizi,
JawaPos.com – MPASI atau makanan pendamping asi diberikan saat usia anak memasuki 6 bulan hingga 23 bulan pertama kehidupan. Selama periode ini, tetap diberikan asupan asi atau susu formula hingga usianya mencapai 2 tahun.
Selama periode yang berlangsung dari kelahiran hingga anak berusia 2 tahun, terjadi perkembangan yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan anak. Mulai dari perkembangan otak yang menjadi landasan bagi kemampuan berpikir dan belajar, hingga kemampuan berbahasa yang menjadi kunci interaksi sosial dan pemahaman dunia sekitarnya.
Tak hanya itu, perkembangan saraf sensorik untuk penglihatan dan pendengaran juga mencapai puncaknya, memberikan dasar yang kuat bagi persepsi anak terhadap lingkungannya. Ditambah lagi, dengan perkembangan fungsi kognitif yang meningkat, periode ini benar-benar menjadi tonggak penting dalam pembentukan potensi anak untuk masa depannya.
Maka dari itu, sangat penting untuk memberikan asupan MPASI yang sehat pada anak. Kualitas makanan yang diberikan akan menjadi dasar yang kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Makanan yang sehat akan menyediakan nutrisi penting yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan.
Saat ini, masih banyak para orang tua yang memberikan bubur fortifikasi atau bubur instan selama masa MPASI sang anak. Perlu diketahui bahwa pemberian bubur instan pada anak saat masa MPASI tidaklah dianjurkan, hal ini diungkapkan langsung oleh Ahli Gizi Masyarakat, Dr dr Tan Shot Yen.
Dilansir dari ANTARA pada (2/2), Dr dr Tan Shot Yen mengungkapkan bahwa bubur fortifikasi atau bubur instan telah mengalami penambahan jumlah mineral dan vitamin tertentu saat proses pembuatan, meskipun bubur tersebut terbuat dari bahan dasar alami seperti beras.
Menurutnya, penambahan berbagai zat tersebut bukan berarti bubur akan menjadi lebih sehat dan bernutrisi. Dia percaya bahwa MPASI yang baik merupakan MPASI yang dibuat dan diolah sendiri sesuai dengan panduan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
"Bubur fortifikasi itu berasal dari bahan dapur kita juga sebetulnya, tetapi dengan suhu yang sangat tinggi dikeringkan, diberikan suatu cara industri yang membuat menjadi makanan kering," ujarnya.
Dia menyarankan salah satu pilihan adalah membuat bubur yang lembut dengan menggunakan hati ayam dan wortel. Prosesnya dapat dilakukan dengan cara diulek atau disaring menggunakan alat penyaring agar teksturnya lembut namun tetap kental dan tidak encer/cair.
Selain itu, ia juga menyarankan untuk memberikan MPASI berupa buah, seperti pisang atau pepaya, namun dengan cara dikerok menggunakan sendok, bukan dihaluskan menggunakan blender, agar tetap memiliki konsistensi yang kental dan tidak cair.
"Jadi yang benar itu konsistensinya adalah kental, jatuh perlahan, jadi tinggal mangap, suap, telan," pungkasnya lebih lanjut.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
