Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 Mei 2018 | 19.00 WIB

Nasi Sorgum, Solusi Karbo Rendah Gula Bagi Diabetisi

Para peneliti berada di ladang tanaman sorgum di Citayam, Depok. - Image

Para peneliti berada di ladang tanaman sorgum di Citayam, Depok.

JawaPos.com - Sumber karbohidrat tak hanya beras padi, tetapi ada juga pangan kearifan lokal seperti umbi-umbian, beras merah dan gandum. Namun, ada satu sumber karbo lainnya yang memiliki nilai Glikemik Indeks atau zat gula yang lebih rendah. Namanya sorgum. Sorgum ramah bagi penderita diabetes karena rendah gula.


Nasi memiliki Glikemik Indeks atau zat gula yang tinggi dan cepat diubah menjadi glukosa. Sehingga jika terlalu banyak makan nasi akan mudah mengantuk, cepat lapar, dan berisiko meningkatkan penyakit diabetes serta obesitas.


Di Indonesia, budidaya sorgum sebagai sumber pangan kurang populer. Sorgum adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak, dan bahan baku industri. Sebagai bahan pangan, sorgum berada pada urutan ke-5 di dunia. Sorgum memiliki kandungan Glikemik Indeks yang rendah tetapi nilai karbohidratnya ekuivalen dengan beras.


“Ini bukan barang baru untuk dunia, sudah menjadi sumber pangan 5 terbesar di dunia. Seluruh dunia kecuali Indonesia. Afrika kalau kita runut sudah makan ini begitu pula Mediterania makanan mereka,” kata Peneliti Utama Kebijakan Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Nur Mahmudi Ismail baru-baru ini.


Tenaga Ahli Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Bidang Teknologi Pertanian
itu menjelaskan sorgum hidup di areal yang sumber airnya tak terlalu membutuhkan irigasi teknis atau cocok di iklim tropis. Nur Mahmudi mengungkapkan sorgum sangat baik dikonsumsi bagi penderita diabetes (diabetisi) dan masyarakat seluruhnya yang ingin menerapkan pola pangan sehat.


“Kalau di Jawa dikenal dengan jagung cantel. Di candi Borobudur ada relief tentang sumber pangan salah satunya tanaman sorgum. Batang dan daunnya juicy cocok sebagai pakan ternak,” kata Wali Kota Depok periode 2006-2016 ini.


Untuk kesehatan dan nilai gizinya, kata dia, masyarakat yang berisiko atau mempunyai kecenderungan diabetes agar menjauhi gandum dan beras. Mereka dapat berpindah ke jagung atau sorgum. Cara memasaknya sama seperti memasak beras padi.


“Glikemik indeks rendah, karbohidrat sama dengan beras, dan protein tinggi. Sumber vitamin dan mineral yang bagus. Sehingga kandungan energi tinggi tetapi glukosanya rendah. Mari sekarang perlu dihidupkan kembali dan gampang ditanam,” jelas Anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Nasional Kementerian Pertanian.


Maka, Nur Mahmudi berniat menjajaki pengenalan sorgum dengan menggandeng masyarakat salah satunya melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Caranya dengan memperkenalkan nasu sorgum ke sejumlah pesantren sebagai makanan utama.


"Jangan sampai Indonesia mengalami darurat pangan di mana pola makan tergantung impor. Dengan kondisi ini ada komoditi yang menawarkan nilai lebih bergizi. Lebih ramah diabetes. Potensial dan ekonomis diproduksi di Indonesia serta disajikan dengan aneka masakan lainnya," kata Nur Mahmudi.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore