
dr Ade Meidian Ambari, SpJP
JawaPos.com – Jumlah penderita Penyakit Jantung Koroner (PJK) di era modern ini semakin tinggi dan bergeser ke usia muda. Karena itu, lembaga kesehatan dan berbagai rumah sakit tergerak untuk mencegah peningkatan penyakit mematikan ini.
Selain kuratif dan hanya mengobati pasien, rumah sakit juga memiliki fungsi pencegahan atau preventif. Karena itu Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita bersama Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan kerja sama dengan membentuk tim “Ketuk Pintu Layani dengan Hati”.
Tim ini menjadi garda terdepan untuk mencegah bertambahnya penderita penyakit kardiovaskular dan berbagai faktor risiko PJK. Tim ini terdiri dari para tenaga kesehatan profesional di bidangnya, dari mulai dokter, bidan, dan perawat dengan total lebih dari 400 orang. Mereka akan terjun blusukan ke masyarakat melakukan pemetaan populasi yang berisiko dan mencegah bertambahnya angka penyakit kardiovaskular.
“Ini programnya Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Tim ini dari rumah ke rumah, satu tim membawahi beberapa orang dan kepala rumah tangga yang akan didatangi satu persatu. Kepentingan kita, RS Jantung punya peran dan bertanggung jawab untuk membina,” kata Ketua Pelaksana Tim Pembekalan Muatan Kardiovaskular pada Tim Ketuk Pintu Layanan dengan Hati, dr. Ade Meidian Ambari, SpJP, Rabu (23/2).
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita ini menambahkan pihaknya sebagai pembina menggelar layanan 2-3 kali kepada tim tersebut untuk membekali dengan muatan kardiovaskular. Sebagai Pusat Jantung Nasional, Ade menjelaskan pihaknya memiliki kewajiban untuk menurunkan angka kejadian penyakit kardiovaskular.
“RS kan biasanya kuratif, cuma ngobatin pasien. Kelihatan sih memang pasien kita obati dan pasang ring lalu sehat. Tapi apa kita mau begitu terus? Sebagai dokter kita punya kewajiban. Kita punya kewajiban turunkan angka kejadian penyakit kardiovaskular,” jelasnya.
Ade menjelaskan banyak masyarakat belum mengetahui berbagai faktor risiko penyakit kardiovaskular seperti jantung dan stroke. Faktor risikonya ada lima yaitu merokok, hipertensi, kolesterol, diabetes, dan faktor genetik.
“Kami engkak punya tangan ke masyarakat, kita lakukan pembinaan pada tim ini. Kita harapkan kita titipkan program prevensi ini. Program prevensi primer, sebelum masyarakat sakit,” tutur Ade. (cr1/JPG)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
