Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 Februari 2017 | 05.16 WIB

Tim 'Ketuk Pintu Layani dengan Hati' Dibentuk, Ini Tujuannya

dr Ade Meidian Ambari, SpJP - Image

dr Ade Meidian Ambari, SpJP

JawaPos.com – Jumlah penderita Penyakit Jantung Koroner (PJK) di era modern ini semakin tinggi dan bergeser ke usia muda. Karena itu, lembaga kesehatan dan berbagai rumah sakit tergerak untuk mencegah peningkatan penyakit mematikan ini.

Selain kuratif dan hanya mengobati pasien, rumah sakit juga memiliki fungsi pencegahan atau preventif. Karena itu Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita bersama Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan kerja sama dengan membentuk tim “Ketuk Pintu Layani dengan Hati”.

Tim ini menjadi garda terdepan untuk mencegah bertambahnya penderita penyakit kardiovaskular dan berbagai faktor risiko PJK. Tim ini terdiri dari para tenaga kesehatan profesional di bidangnya, dari mulai dokter, bidan, dan perawat dengan total lebih dari 400 orang. Mereka akan terjun blusukan ke masyarakat melakukan pemetaan populasi yang berisiko dan mencegah bertambahnya angka penyakit kardiovaskular.

“Ini programnya Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Tim ini dari rumah ke rumah, satu tim membawahi beberapa orang dan kepala rumah tangga yang akan didatangi satu persatu. Kepentingan kita, RS Jantung punya peran dan bertanggung jawab untuk membina,” kata Ketua Pelaksana Tim Pembekalan Muatan Kardiovaskular pada Tim Ketuk Pintu Layanan dengan Hati, dr. Ade Meidian Ambari, SpJP, Rabu (23/2).

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita ini menambahkan pihaknya sebagai pembina menggelar layanan 2-3 kali kepada tim tersebut untuk membekali dengan muatan kardiovaskular. Sebagai Pusat Jantung Nasional, Ade menjelaskan pihaknya memiliki kewajiban untuk menurunkan angka kejadian penyakit kardiovaskular.

“RS kan biasanya kuratif, cuma ngobatin pasien. Kelihatan sih memang pasien kita obati dan pasang ring lalu sehat. Tapi apa kita mau begitu terus? Sebagai dokter kita punya kewajiban. Kita punya kewajiban turunkan angka kejadian penyakit kardiovaskular,” jelasnya.

Ade menjelaskan banyak masyarakat belum mengetahui berbagai faktor risiko penyakit kardiovaskular seperti jantung dan stroke. Faktor risikonya ada lima yaitu merokok, hipertensi, kolesterol, diabetes, dan faktor genetik.

“Kami engkak punya tangan ke masyarakat, kita lakukan pembinaan pada tim ini. Kita harapkan kita titipkan program prevensi ini. Program prevensi primer, sebelum masyarakat sakit,” tutur Ade. (cr1/JPG)

Editor: Muhammad Syadri
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore