Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 14 Juni 2017 | 05.56 WIB

Kenali Gejala Bell’s Palsy, Stroke Ringan yang Menyerang Bagian Wajah

Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Pertamina Balikpapan dr Fajar Rudy Qimindra saat ditemui di ruang kerjanya pekan lalu. - Image

Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Pertamina Balikpapan dr Fajar Rudy Qimindra saat ditemui di ruang kerjanya pekan lalu.

JawaPos.com - Meski bukan tergolong penyakit baru, masih banyak orang yang belum memahami salah satu penyakit saraf, bell’s palsy. Penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan di bagian wajah.


Sering kali keluhan yang datang dianggap bagian dari stroke ringan karena sama-sama bersifat mendadak. Namun kurangnya pemahaman masyarakat tentang penyakit ini membuat rumor seputar bell’s palsy terus berkembang. Banyak yang salah mengartikan gejala antara keduanya. Padahal, perbedaan antara bell’s palsy dan strok ringan ternyata sangat jauh. Termasuk gejala dan pengobatannya.


Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) Fajar Rudy Qimindra mengungkapkan, jika bell’s palsy menyerang saraf tepi, lain halnya dengan strok yang menyerang saraf utama. Selain itu, efek yang terjadi dari bell’s palsy hanya menyebabkan kelumpuhan pada salah satu sisi otot wajah. Berbeda dengan strok yang bisa membuat kelumpuhan hingga saraf tangan dan kaki.


“Bell’s palsy merupakan kelainan yang terjadi di saraf nomor 7 tepi. Saraf tepi sendiri berada di telinga hingga dahi, mata, dan bibir. Sarafnya seperti kipas dan mengelilingi daerah itu. Biasanya terjadi mendadak. Makanya sering disalahartikan jadi strok ringan, padahal jauh berbeda,” katanya.


Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya itu menyebutkan, gejala bell’s palsy justru mirip dengan flu. Kalangan medis kerap menyebutnya dengan gejala flu like syndrome. Keluhan yang terasa seperti demam, batuk, badan menggigil. Alasannya karena bell’s palsy berkaitan dengan penurunan daya tahan tubuh. 


Ia mengatakan, hingga saat ini memang belum ditemukan penyebab pasti bell’s palsy. “Tidak ada ahli saraf yang telah memastikan penyebab. Namun jika melihat terjadinya penyakit ini dugaan terbesar karena infeksi virus dan daya tahan tubuh yang menurun. Sehingga menimbulkan reaksi peradangan,” ujar pria berusia 40 tahun tersebut.


Qimmi, begitu dia disapa menuturkan, pasien bell’s palsy akan datang dengan keluhan nyeri di bagian bawah telinga. Sebab, daerah tersebut merupakan saluran saraf nomor 7 tepi. Kemudian dari situ bisa menyerang ke bagian mata bibir. Maka dari itu, sering kali pasien bell’s palsy mengalami kelopak mata yang tidak bisa menurun dan bibir yang miring ke salah satu sisi wajah. 


“Kenapa ada kelopak mata yang tak menutup dan bibir mencong karena saraf nomor 7 tepi itu lemah, harusnya dia bekerja namun mengalami peradangan. Selain itu, wajah rasanya kebas dan telinga berdengung, jadi kadang bisa dikira sakit telinga. Ancaman paling berbahaya bisa komplikasi ke mata,” tuturnya.


Pria kelahiran Magetan, Jawa Tengah, tersebut mengungkapkan, tidak hanya karena infeksi virus dan imun, ada pula faktor pemicu lain yang turut membuat tubuh rentan terserang bell’s palsy. Contohnya, pengaruh angin saat keluar malam bagi mereka yang kerap kerja lembur. Kemudian tidur dengan wajah menghadap AC dan kipas angin langsung.


“Tapi ini bukan penyebab utama. Sebelumnya memang sudah ada bell’s palsy. Namun semakin parah karena ada pengaruh itu yang membuat daya imun semakin menurun. Ada tiga golongan yang masuk dalam faktor risiko bell’s palsy. Yakni wanita, penderita diabetes, dan ibu hamil,” imbuh sulung dari dua bersaudara.


Misalnya, ucap dia, penderita diabetes, rata-rata mengalami sakit di daerah saraf tepi atau neuropati. Sehingga begitu ada reaksi inflamasi dapat semakin memperparah. Lalu, ibu hamil karena faktor hormonal. Dokter bisa mengambil diagnosis dari hasil anamnesa atau mendengar keluhan dan pemeriksaan fisik. Kalau ada kelainan yang terjadi di saraf utama berarti bukan sepenuhnya bell’s palsy.


“Kalau butuh bisa juga melakukan pemeriksaan nerve conduction studies (NCS), cek saraf tepi dan saraf pusat. Nanti dapat terlihat di level berapa penyakitnya. Jadi bell’s palsy mempunyai grade dari I-VI. Kemudian electromyography (EMG) untuk prognosis. Kalau masih ragu, pasien dapat melakukan CT-Scan sampai MRI,” kata ayah dari tiga anak tersebut.


Suami dari spesialis mata dr Sujarwati itu menuturkan, penyakit ini termasuk tidak mengenal usia dan bisa menyerang siapa saja. Tercatat, Qimmi pernah menangani pasien dari usia 5-71 tahun. Dia menjelaskan, pasien berusia muda dapat mengalami masa penyembuhannya lebih cepat. Sebab usia muda masih mengalami regenerasi saraf.


“Sedangkan semakin tua penderita, maka membutuhkan waktu pengobatan lebih lama. Belum lagi mereka yang tua masih bisa mengalami gejala sisa seperti nyeri dan belum sepenuhnya otot wajah normal kembali. Berbeda dengan anak-anak yang bisa pulih 100 persen,” ucap anak dari pasangan Suharsono dan Tumiken itu.


Qimmy menjelaskan, pengobatan akan jauh lebih rumit terlihat dari waktu deteksi dan pengobatan. Biasanya, dalam tahap awal pasien mendapatkan obat antiradang dan obat antivirus seperti herves. Sebagian besar, bell’s palsy berasal dari virus. Maka dari itu pemberian obat anti virus merupakan hal utama.

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore