Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Mei 2025 | 17.31 WIB

Khairul Fahmi: Pemusnahan Amunisi Afkir Mengakibatkan 13 Tewas, Kepatuhan SOP Menjadi Pertanyaan Serius

Khairul Fahmi. (Dokumen Khairul Fahmi) - Image

Khairul Fahmi. (Dokumen Khairul Fahmi)

JawaPos.com - Insiden pemusnahan amunisi afkir yang menelan korban jiwa 13 orang di Garut menimbulkan tanda tanya. Bagaimana kedisiplinan dan kepatuhan menjalankan standar operasional prosedur (SOP) pemusnahan amunisi tidak layak pakai.

Berikut wawancara dengan Pengamat Militer Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi:  

Bagaimana terkait insiden pemusnahan amunisi afkir yang menewaskan 13 orang? 

Secara normatif, pemusnahan amunisi tidak layak pakai (ATLP) merupakan kegiatan rutin yang dilakukan untuk menjaga keselamatan jangka panjang, karena amunisi yang sudah kedaluwarsa bisa sangat tidak stabil. 

Namun, prosedur ini seharusnya dijalankan dengan pengamanan ketat sesuai SOP militer, termasuk pemilihan lokasi yang jauh dari permukiman, pengendalian penuh atas zona steril, dan evakuasi semua pihak yang tidak berkepentingan dari area sekitar.

Mengingat kalau salah satu elemen ini tidak dilaksanakan secara konsisten, maka risiko kegagalan teknis dan jatuhnya korban meningkat drastis.

Ada video beredar yang menunjukkan warga berada di sekitar lokasi ledakan, bagaimana itu? 

Memang jika melihat video-video yang beredar, tampaknya ada kelemahan signifikan dalam pengamanan area. Yang terlihat dengan masih adanya pergerakan warga sipil di sekitar lokasi. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan serius terkait kepatuhan terhadap prosedur pengamanan. Jadi, ya, kita melihat potensi adanya unsur kelalaian dalam pelaksanaan teknis di lapangan. 

Namun kita tentunya perlu menghormati dan menunggu hasil investigasi resmi dari TNI dan pihak berwenang untuk mengetahui secara pasti apa penyebab dan faktor-faktor yang terlibat dalam tragedi ini. Evaluasi menyeluruh sangat diperlukan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Soal adanya warga sipil yang berada di lokasi ini ada info kalau mereka mengambil logam bekas ledakan. Ternyata ada ledakan susulan amunisi, bagaimana ini?

Dalam SOP, setelah pemusnahan amunisi, lokasi harus menjalani prosedur sterilisasi total. Tim teknis wajib memastikan tidak ada bahan peledak aktif yang tersisa, termasuk detonator, amunisi gagal ledak, atau serpihan berbahaya lainnya. 

Jika warga sipil bisa masuk dan bahkan sempat mengumpulkan logam sisa, itu menunjukkan bahwa tahapan sterilisasi, pengamanan perimeter, atau evakuasi sepertinya tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Soal korban dari TNI, apakah mungkin menghalau warga yang mendekat? 

Idealnya, mereka tidak perlu berada dalam posisi itu. Jika prosedur pengamanan berjalan sesuai doktrin operasi standar personel TNI sampai harus turun langsung untuk menghalau warga, itu artinya perimeter aman tidak terbentuk dan terkendali secara maksimal sejak awal.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore