
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
Pengaruh sinema India pada sinema Indonesia tak terbantahkan besarnya, meskipun terlihat terbatas terutama pada film-film kelas bawah (baca: ”Ketika Bollywood Menatap”, Jawa Pos, 12/10/2024). Di pasar lebih tinggi, yang sineas dan penontonnya lebih senang terhubung dengan Hollywood (atau belakangan Jepang dan Korea), jejak Bollywood sepertinya cukup terbatas.
Tapi, terbatas bukannya sama sekali tak ada. Berkat elemen musikalnya, kita bisa temukan jejak Bollywood di Kejarlah Daku Kau Kutangkap (Chaerul Umam, 1985), peraih Citra 1986 untuk skenario terbaik. Tarian dan nyanyian Markum saat melamar Marni jelas merupakan pelesetan dari sekuen menari-menyanyi Bachchan di Laawaris (Prakash Mehra, 1981).
Kodrat (Slamet Rahardjo, 1986), pemenang Citra 1987 untuk sutradara, fotografi, dan pemeran pembantu pria, barangkali adalah film di luar musikal dan melodrama yang memiliki anasir India. Di luar apakah pengaruh itu masuk dengan sengaja atau tidak, langsung atau tidak, thriller kriminal dengan cerita membumi ini ”sangat India”. Atau, boleh dibilang ”sangat Deewaar”.
Kisah dua anak yatim alumni pesantren di Jombang, Kodrat dan Sofyan, yang berhadap-hadapan sebagai penjahat dan polisi, cukup dekat dengan kisah dua bersaudara miskin dari Bombay, Vijay dan Ravi. Tapi, apakah Deewaar secara langsung mengilhami Kodrat tak serta-merta terjawab.
Secara ritme, juga keberadaan tokoh Solihin, sahabat Kodrat sesama gangster yang dibunuh Sofyan, yang jadi motif Kodrat membalas dendam, Kodrat lebih dekat ke A Better Tomorrow dibanding Deewaar. Masalahnya, Kodrat dan A Better Tomorrow rilis di tahun yang sama. Sulit membayangkan John Woo memengaruhi Slamet.
Barangkali kuncinya ada di karakter Mustakim, pengasuh pesantren yang membesarkan Kodrat, Solihin, dan Sofyan, sekaligus yang jadi kompas moral cerita. Fungsi dan nilai Mustakim sangat dekat dengan tokoh ibu di Deewaar maupun The Brothers. Restu ibu membuat Vijay dan Zhigang bertekad mengakhiri kehidupannya sebagai gangster, sementara kematian Mustakim membuat Kodrat tobat.
The Raid (Gareth Evans, 2011), yang nyaris tanpa drama, jelas tak dibuat oleh seorang penggemar film India. Gareth Evans, dalam banyak wawancara, selalu menyebut bahwa ia tumbuh dengan film-film kungfu dan laga Hongkong. Bruce Lee, Jackie Chan, dan John Woo adalah pengaruh besar untuknya. Tak heran, ia menamai penjahatnya Mad Dog, sama seperti penjahat Woo di Hard Boiled (1992).
Dari Hard Boiled juga kira-kira, Rama dan Andi, dua saudara yang sebelumnya berseberangan memutuskan untuk bersatu guna menghadapi musuh paling berbahaya. Boleh dibilang itulah nyaris satu-satunya elemen drama di The Raid. Dan kita bisa sedikit membayangkan ia didapat dari mana. (*)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
