Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 24 Maret 2024 | 11.30 WIB

Mereka yang Berpulang: Mengenang Penyair Kemala dan Suratman Markasan

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

SETIDAKNYA dalam tiga tahun terakhir ini sejak 2021, tercatat terdapat tiga penyair besar di Asia Tenggara yang berpulang ke haribaan Tuhan. Selain Abdul Hadi W.M. yang berpulang di bulan Januari lalu, terdapat dua penyair senior negara serumpun yang berpulang pada tiga tahun terakhir ini. Dua penyair itu adalah: pertama, Ahmad Khamal Abdullah yang dikenal dengan nama pena Kemala, penyair sekaligus sastrawan negara Malaysia ke-11 yang berpulang pada 27 Oktober 2021, dan yang kedua Suratman Markasan, penyair senior dari Singapura, yang baru saja berpulang pada 27 Februari 2024 lalu.

Berpulangnya dua penyair yang disebut terakhir tentu meninggalkan rasa kehilangan tersendiri. Kemala, misalnya, dalam catatan kepenyairannya, tidak hanya memberikan perhatian bagi kepenyairan di Malaysia. Ia memberikan perhatian yang lebih luas pada negara di luar Malaysia yang masuk kategori negara serumpun. Melalui lembaga sastra yang dibentuknya, Numera (Nusantara Melayu Raya), Kemala yang pernah mendapat penghargaan S.E.A Write Awards dari pemerintah Thailand pada 1986 secara berkala mengagendakan event pertemuan penyair di level Asia Tenggara plus sebagian negara-negara di luar Asia Tenggara. Sebut saja misalnya penyair dari Bangladesh, Belgia, dan Rusia. Dari Indonesia penyair yang pernah terlibat dalam event itu, selain penulis sendiri, sebut saja ada Asep Zamzam Noor, Abdul Hadi W.M., Soni Farid Maulana, Syarifuddin Arifin, Lily Multatuliana, Nuthayla Anwar, A’yat Khalili, Abrar Putu Ikhirma, dan beberapa penyair yang lain. Satu gagasan strategisnya adalah dalam membangun kekuatan bersama sebagai politik kebudayaan di Asia Tenggara.

Di samping Kemala, penyair yang tidak kalah penting meninggalkan warisan kepenyairan adalah Suratman Markasan. Penyair senior dari Singapura dengan penampilannya yang bersahaja ini dikenal sebagai penyair pelopor yang mendapat penghargaan S.E.A Write Awards dari pemerintah Thailand pada 1989. Penyair Suratman Markasan cukup tajam dalam membangun ungkapan puitik yang kritis-reflektif. Pergaulannya dengan penyair di Asia Tenggara juga tercatat intens dilakukan. Selain pernah terlibat di Numera, Suratman Markasan tampak pada beberapa event puisi yang lain, misalnya pada PPN (Pertemuan Penyair Nusantara) dan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara).

Kemala dan Ekspresi Puitik Ilahiah

Satu warisan puitik yang patut dicatat dan menjadi penunjuk jalan kepenyairan di Asia Tenggara adalah puisi yang ditulis Kemala. Kemala mampu mewariskan satu bentuk ekspresi puitik bersifat ilahiah dalam banyak puisi yang ditulisnya. Dalam pandangan yang lain, ekspresi puitik yang bersifat ilahiah itu ada yang memosisikannya sebagai ekspresi sufistik. Dapat kita baca dalam satu bait puisi Kemala, misalnya dalam puisi yang bertajuk Kasyaf Danau.

Kupinjami matamu untuk menatap sisi segi rohaniahku

menatap puing budi, puing kasih

yang tersimpang entah ke mana, menatap zarah

kejadian lagi ajaib, kupinjami kedip-nafas

dan erang-akrab yang menjulurkan makna hidup

kupinjami riak dan kecipak sirip bawal putih

yang menolak muslihat sedetik

akal jahat manusia, karang terbungkus

lumut hijau, kerikil tajam yang tersembunyi

Begitu indah ekspresi puitik Kemala dalam bait puisinya. Metafora dibangun begitu indah berbalut dengan nilai-nilai ketuhanan. Sebuah nilai ketauhidan untuk sebuah pengakuan dan penyatuan terhadap eksistensi Tuhan. Penyair Kemala dalam puisinya merefleksikan bagaimana proses penyatuan (itihad) seorang hamba dengan Tuhan-nya membawa implikasi tidak hanya pada nikmatnya hubungan dengan Tuhan yang menciptakannya. Ia menggambarkan keterbukaan seluruh rahasia yang dapat dilihat oleh seorang hamba. Hal ini dapat dicapai oleh mereka yang terpanggil dan dikategorikan sebagai pencinta Allah. Mereka adalah para kekasih Allah yang mencapai kasyaf billah sehingga segala sesuatu tentang tirai diri dan alam semesta dapat terbuka baginya. Suatu bentuk pengungkapan puitis yang menjadikan proses pemilihan diksi puitik dengan metafora kupinjami riak dan kecipak sirip bawal putih. Sebuah metafora yang segar, yang digunakan oleh para penyair.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore