Research Associate IFG Progress Mohammad Alvin Prabowosunu saat ditanyai Jawa Pos di kantornya. (Foto: Agas Putra Hartanto/Jawa Pos).
JawaPos.com - Kondisi makro ekonomi berdampak terhadap kinerja industri asuransi. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi maka turut mengerek pendapatan premi. Sejumlah sektor ekonomi juga dinilai masih resilien di tengah dinamika global saat ini.
"Ada hubungan antara pertumbuhan ekonomi atau GDP (gross domestic product) ke gross return premium alias pendapatan premi. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi itu ada korelasinya dengan pendapatan premi. Namun sebaliknya, semakin tinggi inflasi, justru berbanding terbalik dengan pendapatan premi," ucap Research Associate IFG Progress Mohammad Alvin Prabowosunu saat ditanyai Jawa Pos di kantornya, pekan lalu.
Indikator tersebut menjadi sistem peringatan. Memasuki Semester II 2025, industri asuransi Indonesia dihadapkan pada tantangan struktural yang tidak ringan. Tantangan tersebut meliputi ketidakpastian global, tekanan inflasi, pelemahan daya beli masyarakat, serta peningkatan rasio klaim di sektor asuransi umum.
"Jika proyeksi ekonomi akan lambat, berarti premi industri asuransi jaga-jaga untuk lambat juga. Menjadi faktor yang harus direspons dengan kehati-hatian dan strategi adaptif," terangnya.
Meski demikian, setiap daerah di Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi yang berbeda. Oleh karena itu, perlu identifikasi dan pemetaan potensi. Sehingga mampu memberikan layanan maupun produk asuransi yang tepat sasaran dan sesuai kebutuhan di wilayah itu.
Di Indonesia Timur, misalnya, Sulawesi dan Maluku yang memiliki pertumbuhan ekonomi karena ada tambang nikel. Artinya, kebutuhan asuransi untuk pertambangan tinggi. Segmen pasar tersebut yang lantas menjadi potensi.
Head of IFG Progress Ibrahim Kholilul Rohman menyatakan, Indonesia Financial Group Sectoral Health Index menggambarkan secara makro sektor-sektor mana yang relatif memiliki gambaran kinerja yang bagus. Data itu melihat dari kinerja ekonomi, pertumbuhan, kemudian jumlah kredit, dan rasio kredit macet alias non-performing loan (NPL). "Sehingga kelihatan heat map dari industri-industri atau sektor-sektor yang sehat," terangnya.
Menurut dia, sektor-sektor yang masih tumbuh yakni pertambangan dan quarrying sejalan dengan proyek hilirisasi pemerintah. Kemudian, financial services melihat dari mayoritas listing stock di Indonesia. Serta segmen transportasi dan komunikasi yang masih cukup solid.
Dengan demikian, peluang tetap terbuka lebar. Melalui reformasi kebijakan, digitalisasi layanan, serta komitmen pemangku kepentingan dalam membangun sistem keuangan yang berkelanjutan. Di tengah tekanan eksternal dan domestik, industri asuransi perlu menata ulang pendekatan bisnisnya. Dengan menempatkan tata kelola, inovasi, dan integrasi sebagai fondasi utama.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Digelar Tertutup, Ini yang Terjadi di Dalam Ruangan
