
Pegawai menunjukkan mata uang dolar AS di salah satu kantor cabang BNI di Jakarta, Kamis (12/6/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Nilai tukar atau kurs rupiah menguat 39 poin di level Rp 16.265 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan akhir perdagangan pada Senin (16/6). Sebelumnya, rupiah sempat melemah 7 poin ke level Rp 16.310 per dolar AS.
Pengamat Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan penguatan mata uang Garuda ini dipengaruhi oleh serangan Israel dan Iran yang dikhawatirkan akan meluas di seluruh wilayah dan secara signifikan.
Perkembangan terbaru telah memicu kekhawatiran tentang gangguan di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting. Sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia, atau sekitar 18 hingga 19 juta barel per hari (bpd) minyak, kondensat, dan bahan bakar, melewati selat tersebut.
"Fokus minggu ini adalah pada serangkaian pertemuan bank sentral, dimulai dengan Bank Jepang pada hari Selasa (17/6). Di mana Federal Reserve akan memutuskan suku bunga pada hari Rabu (18/6) sementara Bank of England, Bank Nasional Swiss, dan Bank Rakyat China juga akan memutuskan suku bunga akhir pekan ini," kata Ibrahim dalam analisisnya, Senin (16/6).
Selain itu, data pemerintah yang dirilis juga menunjukkan produksi industri Tiongkok tumbuh sedikit lebih rendah dari yang diharapkan di tengah meningkatnya tekanan dari tarif perdagangan AS. Namun, pertumbuhan penjualan ritel Tiongkok melampaui ekspektasi, menandikan ketahanan dalam belanja konsumen meskipun ketidakpastian ekonomi meningkat.
Sementara itu, dari sisi internal, Pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga kredibilitas dengan mengelola Utang Luar Negeri (ULN) secara hati-hati, terukur, dan akuntabel untuk mendukung belanja prioritas pemerintah. ULN Indonesia kembali mencatatkan kenaikan secara bulanan pada April 2025 senilai USD 800 juta menjadi USD 431,55 miliar atau sekitar Rp 7.197,76 triliun (JISDOR akhir April 2025 Rp 16.679 per dolar AS).
Meski terjadi kenaikan ULN sebesar 8,2 persen secara tahunan atau Year-on-Year (YoY), posisi utang tetap terjaga. Di mana, kata Ibrahim, kenaikan kewajiban luar negeri pemerintah tersebut meningkat sejalan dengan pelemahan rupiah yang terjadi usai pengumuman tarif resiprokal AS pada awal April lalu.
Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tecermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 30,3 persen pada April 2025, dari 30,6 persen pada Maret 2025, serta didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 85,1 persen dari total ULN.
"Secara umum, perkembangan posisi ULN April 2025 tersebut bersumber dari sektor publik. Secara perinci, posisi ULN pemerintah pada April 2025 mencapai USD 208,8 miliar atau tumbuh sebesar 10,4 persen (YoY), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan 7,6 persen pada Maret 2025," tukasnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
