Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Agustus 2019 | 00.25 WIB

Kelas Menengah Jadi Generasi Sandwich, Perlu Melek Literasi Keuangan

PEDULI NASABAH: Presiden Direktur & CEO Manulife Indonesia Ryan Charland tos dengan anak nasabah saat memperkenalkan solusi perlindungan MiFuture Income Protector (MiFIP) di Jakarta, Kamis (15/8). (Muhamad Ali/Jawa Pos) - Image

PEDULI NASABAH: Presiden Direktur & CEO Manulife Indonesia Ryan Charland tos dengan anak nasabah saat memperkenalkan solusi perlindungan MiFuture Income Protector (MiFIP) di Jakarta, Kamis (15/8). (Muhamad Ali/Jawa Pos)

JawaPos.com - Indonesia bisa gagal memanfaatkan besarnya potensi pertumbuhan kelas menengah jika masyarakat tidak melek literasi keuangan. Pasalnya, selain harus memenuhi kebutuhan anak, kelompok masyarakat kelas menengah saat ini juga terbebani ketergantungan finansial orang tua.

Presdir dan Chief Executive Officer Manulife Indonesia Ryan Charland mengatakan, kelas menengah di Indonesia masih dihadapkan persoalan menanggung kebutuhan orang tua dan keluarganya sendiri. Yakni, istri dan anak-anak. "Jadi kelas menengah sekarang ini disebut generasi sandwich karena bebannya tinggi harus menanggung dua pihak sekaligus," ujarnya saat peluncuran produk baru Manulife MiFuture Income Protector (Mifip) di Jakarta kemarin (15/8).

Kondisi itu terjadi karena banyak orang tua yang tidak mengenal literasi keuangan. Akibatnya, saat tidak bekerja lagi dan pensiun para orangtua malah menjadi tanggungan anakm“Harusnya pertumbuhan kelas menengah menjadi kesempatan bagi perusahaan asuransi untuk meningkatkan penetrasi. Tetapi kenyataannya tidak ternyata pas. Optimisme tidak didukung persiapan finansial yang matang,” tutur dia.

Head of Product Manulife Indonesia Richard A Sondakh menambahkan berdasarkan kajian Boston Consulting Group, pertumbuhan masyarakat kelas menengah Indonesia akan meningkat 64 persen dari 41,6 juta jiwa di 2012 menjadi 68,2 juta jiwa di 2020. "Kelompok kelas menengah ini bisa menjadi potensi yang luar biasa jika mampu digerakkan untuk mendongkrak industri asuransi," katanya

Oleh sebab itu, sejak dini mereka harus dikebalkan pada literasi keuangan, khususnya asuransi. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hanya 13,5 juta pekerja atau sekitar 27 persen dari 50 juta pekerja formal di Indonesia yang memiliki program pensiun."Kami ingin memutus mata rantai generasi sandwich. Nasabah harus bisa menyiapkan hari tua dengan lebih baik, tanpa membebani anak," sebutnya.

Sementara itu, Chief Agency Officer Manulife Indonesia Jeffrey Kie menjelaskan, Mifip dijual lewat jalur distribusi keagenan. Saat ini, sekitar 7.000 tenaga pemasaran di 25 kantor pemasaran Manulife siap memasarkan Mifip. “Lewat MiFIP, masyarakat tidak perlu khawatir bagaimana memperoleh income tetap, terutama ketika mereka sudah tidak lagi bekerja,” jelasnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore