Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 6 Mei 2025 | 06.03 WIB

Sempat Menguat 40 Poin, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Melemah Rp 16.437 per Dolar AS

Petugas bank menyusun  lembaran uang rupiah dan dolar di salah satu bank di Jakarta. (Dery Ridwansah/JawaPos.com) - Image

Petugas bank menyusun lembaran uang rupiah dan dolar di salah satu bank di Jakarta. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

JawaPos.com - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah 17 poin di level Rp 16.437 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan akhir perdagangan awal pekan, Senin (5/5). Sebelumnya, rupiah sempat menguat 40 poin di level Rp 16.455 per dolar AS.

Pengamat Mata Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan ketidakpastian terus berlanjut atas tarif perdagangan AS. Ini terjadi setelah Presiden Donald Trump mengatakan tidak memiliki rencana segera untuk membuka dialog dengan mitranya dari Tiongkok.

Trump mengisyaratkan bahwa AS sedang mempersiapkan penandatanganan perjanjian perdagangan dengan beberapa negara, dan bahwa pemerintahannya sedang berdialog dengan Tiongkok.

"Namun, kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok merupakan titik ketidakpastian terbesar bagi pasar, terutama setelah keduanya terlibat dalam perang dagang dan pertukaran tarif yang sengit hingga April," jelas Ibrahim dalam analisisnya.

Lebih lanjut, Tiongkok mengatakan sedang mengevaluasi kemungkinan perundingan perdagangan dengan AS dengan menyatakan bahwa dialog apa pun harus didasarkan pada ketulusan dan penghapusan tarif sepihak. 

Sedangkan investor juga melangkah hati-hati menjelang pertemuan kebijakan Fed yang dimulai akhir minggu ini. Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah karena para pembuat kebijakan telah mengambil sikap hati-hati untuk menilai dampak tarif Trump terhadap inflasi.

Tak hanya didorong oleh sentimen asing, rupiah yang melemah juga dipicu oleh laporan Badan Pusat Statistik soal pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2025 yang melambat ke 4,87 persen (yoy) dan terkontraksi 0,89 persen (qtq).

Meski terjadi kontraksi secara kuartalan, BPS akan terus memantau perkembangan ekonomi pada triwulan berikutnya dengan mempertimbangkan berbagai faktor.

Termasuk belanja pemerintah, tren konsumsi domestik, serta kondisi eksternal seperti harga komoditas dan stabilitas perdagangan internasional.

Lebih jauh, prospek ekonomi pada kuartal berikutnya diperkirakan akan sangat bergantung pada kecepatan pemerintah dalam mencairkan anggaran belanja, stabilitas harga bahan pokok, dan keberlanjutan ekspor di tengah perang dagang global. 

Dukungan moneter seperti penguatan nilai tukar rupiah serta langkah Bank Indonesia dalam menjaga likuiditas pasar akan menjadi penentu dalam menjaga momentum pertumbuhan. "Dengan menjaga komunikasi publik yang efektif dan menjaga kepercayaan pelaku usaha, pemerintah dinilai dapat meminimalkan gejolak yang muncul akibat tekanan domestik maupun eksternal," pungkasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore