
Petugas bank menyusun lembaran uang rupiah dan dolar di salah satu bank di Jakarta. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
JawaPos.com - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah 17 poin di level Rp 16.437 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan akhir perdagangan awal pekan, Senin (5/5). Sebelumnya, rupiah sempat menguat 40 poin di level Rp 16.455 per dolar AS.
Pengamat Mata Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan ketidakpastian terus berlanjut atas tarif perdagangan AS. Ini terjadi setelah Presiden Donald Trump mengatakan tidak memiliki rencana segera untuk membuka dialog dengan mitranya dari Tiongkok.
Trump mengisyaratkan bahwa AS sedang mempersiapkan penandatanganan perjanjian perdagangan dengan beberapa negara, dan bahwa pemerintahannya sedang berdialog dengan Tiongkok.
"Namun, kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok merupakan titik ketidakpastian terbesar bagi pasar, terutama setelah keduanya terlibat dalam perang dagang dan pertukaran tarif yang sengit hingga April," jelas Ibrahim dalam analisisnya.
Lebih lanjut, Tiongkok mengatakan sedang mengevaluasi kemungkinan perundingan perdagangan dengan AS dengan menyatakan bahwa dialog apa pun harus didasarkan pada ketulusan dan penghapusan tarif sepihak.
Sedangkan investor juga melangkah hati-hati menjelang pertemuan kebijakan Fed yang dimulai akhir minggu ini. Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah karena para pembuat kebijakan telah mengambil sikap hati-hati untuk menilai dampak tarif Trump terhadap inflasi.
Tak hanya didorong oleh sentimen asing, rupiah yang melemah juga dipicu oleh laporan Badan Pusat Statistik soal pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2025 yang melambat ke 4,87 persen (yoy) dan terkontraksi 0,89 persen (qtq).
Meski terjadi kontraksi secara kuartalan, BPS akan terus memantau perkembangan ekonomi pada triwulan berikutnya dengan mempertimbangkan berbagai faktor.
Termasuk belanja pemerintah, tren konsumsi domestik, serta kondisi eksternal seperti harga komoditas dan stabilitas perdagangan internasional.
Lebih jauh, prospek ekonomi pada kuartal berikutnya diperkirakan akan sangat bergantung pada kecepatan pemerintah dalam mencairkan anggaran belanja, stabilitas harga bahan pokok, dan keberlanjutan ekspor di tengah perang dagang global.
Dukungan moneter seperti penguatan nilai tukar rupiah serta langkah Bank Indonesia dalam menjaga likuiditas pasar akan menjadi penentu dalam menjaga momentum pertumbuhan. "Dengan menjaga komunikasi publik yang efektif dan menjaga kepercayaan pelaku usaha, pemerintah dinilai dapat meminimalkan gejolak yang muncul akibat tekanan domestik maupun eksternal," pungkasnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
