Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 6 Juni 2017 | 19.25 WIB

Meet the CEO: Dirut PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Suprajarto

OPTIMISTIS: Suprajarto. - Image

OPTIMISTIS: Suprajarto.


JawaPos.com - Setelah menorehkan prestasi pada laba dan pertumbuhan di BNI sebagai wakil direktur utama, Suprajarto pulang kandang ke BRI, bank yang dulu membesarkan karirnya. Berikut petikan wawancara wartawan Jawa Pos Koran Shabrina Paramacitra dengan Suprajarto.




Pertumbuhan ekonomi tahun ini diprediksi 5,1 persen lebih tinggi daripada tahun lalu. Tahun depan bahkan bisa sampai 6,1 persen. Bagaimana efeknya ke sektor perbankan?  Kalau ekonomi tumbuh lebih cepat, tentu kami lebih optimistis. Sebab, sektor riil dan sebagainya akan tumbuh lebih baik. Kami berharap kredit perbankan tumbuh serta DPK (dana pihak ketiga) dan lain-lain membaik. Trigger-nya terutama di capex (capital expenditure). Capex industri kita belum banyak keluar, ini yang harus kami tumbuhkan.




Bagaimana dampak kenaikan harga komoditas pada sektor perbankan? Kalau CPO (crude palm oil), kami sudah lama bergerak di situ. Kami wait and see di batu bara. Dari diskusi saya dengan pihak-pihak yang bergerak di pertambangan, harga komoditas itu akan terus naik, tapi memerlukan waktu lama. Kalau belahan dunia sudah bergerak ke renewable energy seperti Jepang yang mulai sedikit bahkan tidak menggunakan batu bara di sana, ya permintaan mengandalkan negara lain. Yang paling tinggi adalah India dan Tiongkok. Permintaan dari dalam negeri juga banyak. Apalagi, PLN (PT Perusahaan Listrik Negara) terus membangun power plant. Nikel juga mulai bergerak. Kami ingin mencari pengusaha yang sudah lama di situ dan sudah punya captive market yang jelas.




BRI mencatat nett profit-nya yang tumbuh bagus di level 5 persen. Bagaimana proyeksinya sampai akhir tahun? Kalau dari sisi kredit, saya optimistis antara 16–18 persen. Sebab, pertumbuhan hingga kuartal I lalu lebih dari 16 persen. Nah, itu yang agak problem di DPK ya karena agak ketat. Jadi, ya harapan kami itu pertumbuhan ekonomi sebenarnya karena banyak kredit modal kerja yang dimulai dari situ. Kalau ekonomi tumbuh, likuiditas akan longgar. Sebab, LDR (loan to deposit ratio) kita agak mentok sekarang. Otomatis, saya agak sulit mengatur ekspansi kredit.



Sekarang saya berusaha mengembangkan tabungan dengan berbagai inovasi. Dari segi database, saya yakin database kami luar biasa. Tinggal kami olah sekarang agar kami bisa menggali celah-celah di masyarakat. Saya berharap bisa ada relaksasi lagi. Kami memberikan usul dana-dana di luar negeri yang offshore bisa diperhitungkan untuk LFR (loan to funding ratio).




Apakah program tax amnesty kemarin cukup membantu kondisi likuiditas? Tax amnesty itu kan ujungnya disetor kepada pemerintah. Belum terlalu kelihatan. Justru yang kami harapkan itu dana-dana yang mengikutinya (dana repatriasi).




Pemerintah tengah gencar membangun infrastruktur dan membuka peluang kredit sindikasi. Bagaimana peran BRI? Kami banyak ikut. Misalnya, tol, pelabuhan, bandara, dan lain-lain. Tapi, kembali lagi, sepanjang LDR seperti ini, kami agak sesak napas juga. Tapi, nanti kalau LDR sudah longgar tentu lebih baik. Sebab, sekarang yang sudah punya komitmen dan menunggu progress project kan juga banyak. Jadi, kami juga tidak bisa langsung sekarang melakukan ekspansi. (*/c23/sof)




Editor: Dwi Shintia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore