Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 31 Agustus 2017 | 01.22 WIB

Kisah Anak Perempuan ex Pecandu Narkoba, Uang SPP pun Buat Beli Sabu

LEPAS DARI LEMBAH HITAM: Putri tengah membaca. Dia seorang perempuan muda yang inspiratif. Sempat menjadi pecandu dan kurir narkoba, dia kini menjadi aktivis antinarkoba yang gigih. - Image

LEPAS DARI LEMBAH HITAM: Putri tengah membaca. Dia seorang perempuan muda yang inspiratif. Sempat menjadi pecandu dan kurir narkoba, dia kini menjadi aktivis antinarkoba yang gigih.

Fenomena anak atau perempuan pecandu mirip fenomena gunung es. Mereka tergolong silent population. Sebab, kalau mengaku, mereka mendapat stigma dobel dari masyarakat. Wis wedok, nyabu.


FAJRIN MARHAENDRA BAKTI, Surabaya


KONDISI Rumah Sehat Orbit Surabaya (RSOS) terasa lengang Jumat sore (25/8). Praktis, tidak ada kegiatan yang berarti. Beberapa pemuda terlihat bercengkerama dengan keluarganya. Para pemuda itu adalah pecandu narkoba yang sedang mengikuti rehabilitasi medis atau sosial di RSOS.
Saat ini ada 12 orang yang mengikuti program rehabilitasi di RSOS. Semua masih muda. Bahkan sangat muda.


Termasuk Putri (bukan nama sebenarnya). Dia berusia 15 tahun. Masuk kategori di bawah umur. Dia baru saja dinyatakan lulus dari proses rehabilitasi medis dan sosial di RSOS. Sejak kelas VI hidup Putri memang tidak jauh-jauh dari narkoba. Padahal, dari sisi ekonomi, keluarganya termasuk biasa-biasa saja.


Bapak dan ibunya, Yaser Arafat dan Yuli Fitria, bercerai ketika Putri masuk umur sepuluh tahun. Saat dia masih polos-polosnya. Bahkan, dia tidak tahu alasan kenapa ayah dan ibunya berpisah. Dia hanya ingat saat itu hubungan ayah dan ibunya tidak harmonis. ’’Setiap hari selalu bertengkar. Saya juga tidak tahu alasannya kenapa,’’ ujarnya dengan nada polos.


Kondisi tersebut membuatnya trauma. Broken home. Dia tidak tahu ke mana harus menceritakan kisah-kisah masa kecilnya yang penuh keceriaan. Ditambah lagi, orang tuanya tidak ada yang mau mengurusnya.


Bapak dan ibunya menikah lagi. Hidup sendiri-sendiri di tempat yang dia tidak tahu. Yang dia tahu, ayahnya bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Ibunya malah tidak jelas. Dia tidak pernah mendengar kabar tentang orang yang melahirkannya itu. ’’Sampai saat ini saya ndak pernah dipamiti atau dijenguk,’’ katanya.


Putri diasuh sang nenek. Sehari-hari nenek itulah yang mengingatkan Putri untuk sekolah, mengaji, dan beribadah. Namun, perhatian neneknya terbatas. Meski sudah sepuh, neneknya masih sibuk berjualan sayur di pasar senggol Kapas Baru. Dia berjualan mulai dini hari hingga tengah hari. ’’Itu yang buat bosen di rumah. Tidak ada yang bisa diajak ngobrol,’’ ungkap perempuan yang hobi berenang tersebut.


Putri bingung ke mana harus mencurahkan isi hatinya. Dia galau berkepanjangan. Pada saat bersamaan, teman-temannya hadir. Menampung segala keluh kesahnya. Sifatnya yang tomboi membuatnya lebih senang bergaul dengan laki-laki yang tampaknya bukan dari kalangan baik-baik.


Pergaulan itu menjadi jembatan awal Putri untuk mulai berani mencoba berbagai hal negatif. Termasuk narkoba. Dara yang menato namanya di bawah leher itu masih ingat betul bagaimana awal dirinya terjerumus ke dalam dunia gelap narkoba. ’’Saat itu sekitar seminggu sebelum ujian akhir sekolah untuk penentuan kelulusan,’’ ungkapnya.


Ketika itu dia bersama teman-temannya menonton konser musik di daerah Surabaya Utara. Dia tidak menyangka teman-temannya memaksanya merokok ketika pulang. Bukan rokok biasa, tetapi ganja. ’’Narkoba pertama saya ya ngecung (sebutan lain dari mengonsumsi ganja, Red),’’ tutur gadis yang mewarnai rambutnya dengan warna merah itu.


Karena pada kesempatan pertama mau, temannya terus mencekokinya dengan ganja. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Hanya seminggu. Dia mengaku tidak nyaman mengonsumsi daun yang banyak ditemui di Aceh tersebut. ’’Gak enak, pahit,’’ ucapnya polos.


Teman-temannya lantas menawari narkoba golongan I non tanaman. Sabu-sabu (SS). Bocah itu pun merasa nyaman setelah mengonsumsi SS. Cocok. Ditambah lagi, dia mulai mengenal minuman keras. ’’Sudah jadi makanan dan minuman sehari-hari ketika itu,’’ jelasnya.


Masuk ke salah satu SMP swasta yang berbasis agama tidak membuatnya tobat. Malah bak menyiram api dengan minyak tanah. Kelakuan buruknya semakin menjadi.


Apalagi setelah Putri mengenal Rohim, seorang bandar narkoba. Dia menjadi pelanggan Rohim. ’’Belinya pakai uang SPP (sumbangan pembinaan pendidikan, Red),’’ ucapnya. Sekali mengorupsi uang SPP yang jumlahnya mencapai Rp 300 ribu, dia bisa mendapat dua poket SS. ’’Mampunya cuma beli paket hemat,’’ ungkap perempuan yang membenci tikus tersebut.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore