
AGUSTUSAN DI TENGAH RIMBA: Salah satu lomba yang diadakan tim Kemensos bagi anak-anak Suku Anak Dalam dari Kelompok Tumenggung Ngalembo, Ngalembu, dan Jelitai di Batanghari, Jambi (20/8).
Tim dari Kemensos datang menemui dan menggelar berbagai lomba untuk anak-anak Suku Anak Dalam Jambi, khususnya kelompok Tumenggung Ngalembo, Ngalembu, Jelitai, Nyenong, Minang, dan Ngirang. Sedangkan para pria dewasa memanfaatkan kesempatan itu untuk curhat berbagai masalah yang mengimpit.
ZALZILATUL HIKMIA, Jambi
---
MATA Arga, 9, berbinar. Banyak rumbai-rumbai bertema merah putih dipasang di sekitar permukiman sementaranya dalam hutan di sekitar Batanghari, Jambi.
Tak lama, pernak-pernik lainnya seperti bendera dari plastik, bola-bola warna-warni, hingga kerupuk-kerupuk yang digantung mulai dikeluarkan.
Seulas senyum tipis muncul di bibirnya. Sambil melompat kegirangan, dia menggandeng seorang temannya untuk mendekat. Dia tak tahu apa yang terjadi. Yang ada di benaknya, bakal ada permainan seru setelah ini.
Mereka duduk mengitari tim pekerja sosial (peksos) Kementerian Sosial (Kemensos) yang datang Selasa (20/7) siang pekan lalu itu. Ada sekitar 25 anak-anak usia 2–10 tahun di kelompok Suku Anak Dalam yang dipimpin Tumenggung Ngelembo, Ngalembu, dan Jelitai ini. Kebanyakan dari mereka hanya memahami bahasa adat setempat, bahasa Kubu.
”Siapa yang tahu ini apa?” ujar salah seorang petugas peksos sambil mengacungkan bendera Merah Putih dari plastik.
Tak ada jawaban yang terucap. Selain kendala bahasa, mereka pun tak tahu itu apa. Perlahan, para petugas mulai memperkenalkan apa itu bendera Merah Putih.
Berbagai lomba pun dihelat, di antaranya lomba makan kerupuk. Mereka juga belajar soal apa itu kemerdekaan. Lagu-lagu wajib nasional seperti Hari Merdeka tak lupa dikumandangkan.
Arga berharap bisa sering bermain seperti itu. Dia mau terus sekolah sampai nanti bisa menggapai cita-citanya.”Nak jadi tentro (mau jadi tentara, Red),” ungkap bocah yang duduk di kelas III tersebut.
Naban, 9, turut mengamini. Dengan terbata, dia mengungkapkan rasa gembiranya telah dikunjungi oleh Mensos Tri Rismaharini dan jajarannya. ”Senang sekali,” ujarnya.
Di saat para anak dan ibu bergembira, para bapak justru tengah berdiskusi serius dengan Risma. Mereka meminta agar bisa mendapat perhatian negara. Terutama soal hak atas tanah, kesehatan, dan pendidikan.
Tumenggung (ketua adat masyarakat suku Anak Dalam) Ngelembo mengaku, kelompoknya semakin terpinggirkan. Banyaknya perusahaan tambang dan perkebunan sawit yang babat alas membuat mereka kesulitan punya tempat tinggal. Padahal, selama ini mereka hidup di dalam hutan. Belum lagi, mereka harus melangun ketika sedang ditimpa kemalangan.
Melangun itu tradisi yang sangat kental di Suku Anak Dalam. Mereka harus berpindah dari permukimannya ke lokasi lainnya ketika ada anggota keluarga atau kelompok yang meninggal. Melangun seolah jadi obat untuk mengobati kesedihan akibat ditinggal orang tersayang.

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
