
MATERIAL EKSPOR: Dari kiri, Kusnen, warga Punjung, Direktur BUMDes Sejahtera Lilik Musthofa, dan kepala Dusun Ketro, Desa Punjung, di kebun jahe merah di desa, Kabupaten Pacitan (27/11). (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS)
Untuk Pasar Luar Negeri, Pertaniannya Harus Organik, tanpa Fungisida dan Insektisida
Upaya Punjung di Pacitan Bangkit Jadi Pengekspor Jahe lewat Program Desa Devisa
Lewat Desa Devisa, pendampingan mulai dari masa menanam hingga memanen dilakukan. Penjualan pun disesuaikan dengan jenis jahe yang dilego. Agar harga jual bisa tinggi dan tak ada lagi yang sampai harus menjual mobil untuk beli bibit.
WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Pacitan
---
DENGAN percaya diri, rombongan tiga pikap dari sudut Pacitan itu berangkat ke Ponorogo. Di bak tiga kendaraan tersebut ada berton-ton jahe yang baru dipanen. Siap untuk dijual di Kota Reog.
Dengan harga jual Rp 14 ribu–Rp 15 ribu per kilogram, itu pun sudah turun dari harga awal pandemi, masih terbayang keuntungan yang bisa didapat. Namun, malang memang tak dapat ditolak.
Sesampai di Ponorogo, harga jual jahe sudah seperti penerjun payung yang parasutnya tak mengembang. Jatuh drastis, jadi Rp 1,8 ribu–Rp 2 ribu. ’’Akhirnya hanya satu pikap yang muatannya dijual untuk menutup biaya wira-wiri Pacitan–Ponorogo–Pacitan.
Dua pikap terpaksa dibawa pulang dan jahenya ditanam kembali,’’ kata Direktur BUMDes Sejahtera Desa Punjung Lilik Musthofa kepada Jawa Pos (27/11).
Kisah pahit yang dituturkan Lilik itu dialami Oktober lalu oleh seorang warga desanya, Punjung. Desa di Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, itu dikenal sebagai lumbung jahe untuk waktu yang lama.
Warga setempat juga pernah menikmati kejayaan di awal pandemi Covid-19. Harga jahe sampai menembus Rp 30 ribu–Rp 35 ribu per kg. Dengan perbandingan 1 banding 10 alias 1 ton bibit membuahkan 10 ton panen jika tanahnya sangat subur, wajar jika banyak warga Punjung yang ’’gelap mata’’.
Ada yang sampai rela menjual pikap untuk membeli bibit. Bibit seharga Rp 30 ribu pun dijabani, sampai berkuintal-kuintal. ’’Tahun lalu, sekali panen keuntungan saya bisa seharga satu motor baru,’’ ujar Kusnen, warga Dusun Ngamplungan, Desa Punjung.
Tapi, sekarang, jangankan mendapat untung. Untuk kebutuhan perawatan dan biaya panen saja tidak cukup. Oktober lalu, Kusnen seharusnya memanen jahenya. Namun, hingga Desember, hal itu belum bisa dilakukan.
Lahan milik Kusnen termasuk yang sengaja tidak dirawat. Rumput dan semak belukar dibiarkan menutupi tanaman jahe. Dia pun lupa ada berapa titik jahe yang ditanam. Semua bayangan indah berubah jadi mimpi buruk setelah harga jahe menurun tajam.
Kini, upaya untuk membangkitkan kembali jahe Punjung dilakukan lewat program Desa Devisa. Secara garis besar, Desa Devisa berarti desa yang produk unggulan dari desa itu ditujukan untuk ekspor.
Dimulai November lalu, Desa Devisa Punjung didesain tidak hanya untuk menyuplai kebutuhan pasar dunia, tapi juga membentuk pola pikir baru para petani. Pendampingan dari menanam hingga panen dilakukan oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang sekaligus menangani pembiayaan. Sistem penjualan pun turut ditata. Para petani tak lagi menjual ke tengkulak, tetapi langsung melalui offtaker yang ditunjuk.
Desa Devisa Punjung bekerja sama dengan PT Indo Bumi Lavanaa sebagai offtaker. Jahe emprit dan merah nanti diekspor dalam bentuk setengah jadi alias berupa bubuk. Tujuannya ke Timur Tengah dan Eropa. Sementara itu, jahe gajah bisa diekspor dalam kondisi segar ke Asia Selatan. Tujuannya Bangladesh dan Pakistan. ’’Sampel powder (bubuk) jahe sudah kami kirim ke negara tujuan,’’ ucap Dirut PT Indo Bumi Lavanaa Mayang Anggun.
Jatim menjadi provinsi dengan Desa Devisa terbanyak, yakni 28 desa. Tahun ini Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meresmikan enam Desa Devisa baru. Selain Punjung di Pacitan yang mengolah jahe, ada pula Desa Parengan di Lamongan yang memproduksi tenun ikat, Desa Minggirsari di Kabupaten Blitar yang memproduksi jimbe, Desa Ngubalan di Ngawi yang membuat kerajinan akar jati, serta dua desa di Tuban yang memproduksi batik dan tenun gedog. ’’Saya optimistis Desa Devisa mampu meningkatkan kinerja ekspor di Jatim. Produk lokal pun bisa tembus pasar ekspor,’’ tuturnya.
Jenis jahe dari Punjung nanti juga menyesuaikan kebutuhan pasar. Sebab, segmentasi jahe emprit, jahe merah, dan jahe gajah berbeda. Begitu pun proses ekspornya.
Masa tanam jahe juga diatur. Jadi, waktu panen tidak sama dengan negara lain. Hal itu akan berpengaruh pada harga. Menurut Mayang, potensi ekspor jahe di Pacitan sangat tinggi.
Selama ini, kabupaten di sisi selatan Jatim itu kalah oleh Ponorogo untuk hasil jahe. Padahal seharusnya tidak. Sebab, jahe di Ponorogo juga berasal dari kabupaten tetangganya tersebut.
Begitu juga Wonogiri, tetangga Pacitan lainnya yang masuk wilayah Jawa Tengah. Di sana terkenal pula hasil jahenya. Padahal, 60 persen jahenya berasal dari Pacitan pula.
Menurut Mayang, masuk ke pasar ekspor tidak mudah. Salah satunya, sistem pertanian dibuat organik. Tanpa pestisida, fungisida, atau insektisida.
Pemberdayaan petani pun dilakukan. Mereka tak hanya diedukasi, tapi juga difasilitasi. Sebanyak 70 petani jahe sudah bergabung. Mereka diberi modal bibit jahe gajah. ’’Bibitnya dibayar saat panen,’’ terangnya.
Peralatan nantinya juga disiapkan, khususnya alat pencacah dan penggiling jahe. Sebab, produk setengah jadi yang berupa bubuk itu diolah di Desa Punjung. Tepatnya di bawah naungan BUMDes Sejahtera Punjung.
Lahan yang disiapkan mencapai 10 hektare. Kalau diekspor bentuk powder, harganya naik 10 kali lipat. Bisa sampai Rp 40 ribu per kg. ’’Hasil panen petani nanti kami beli dan olah,’’ tutur Lilik.
Selain menggaet banyak petani, program tiap rumah menanam jahe juga dikampanyekan. Caranya dengan menggandeng PKK agar ekspor tahun depan semakin banyak. Diharapkan, harga jual jahe di Pacitan naik dan petani lebih sejahtera. Termasuk bisa menyerap banyak tenaga kerja, terlebih untuk pengolahan produk jahe setengah jadi. ’’Per rumah ada jahe yang ditanam di polibag,’’ ucapnya.
Pada 2023, Punjung ditargetkan bisa mengekspor setidaknya 50 ton jahe segar dan 18 ton jahe powder. Tapi, Lilik optimistis bisa lebih dengan cara menghimpun beberapa desa lainnya. ’’Mudah-mudahan paling tidak ada 150 ton jahe segar yang diekspor dari Pacitan,’’ katanya.

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
