Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 November 2022 | 22.18 WIB

Orang Tua Juga Baru Nonton Pertunjukan setelah si Anak Nyinden

M Yusuf Pebriansyah (M Yusuf Pebriansyah untuk Jawa Pos) - Image

M Yusuf Pebriansyah (M Yusuf Pebriansyah untuk Jawa Pos)

Inovasi Dalang, Sinden, Perawit Muda agar Wayang-Karawitan Tetap Diminati

Yusuf berusaha menyesuaikan wayang dengan minat generasi muda, Tata mulai nyinden bermodal kegemaran pada lagu pop, dan Imam memadukan karawitan dengan musik kontemporer untuk menarik minat mahasiswa lain.

LAILATUL FITRIANI, Surabaya

---

PAJANGAN wayang di tembok rumah tetangga mencuri perhatian Yusuf kecil. Pemilik nama lengkap Muhammad Yusuf Pebriansyah itu terus terpaku pada tokoh punakawan. Sampai-sampai si empunya rumah menurunkan hiasan tersebut.

”Akhirnya wayangnya diturunkan dan saya bawa pulang. Sampai sekarang rasa suka itu tidak hilang,” tuturnya kepada Jawa Pos pertengahan bulan lalu (14/11).

Dari sana pertautan pemuda 25 tahun itu dengan wayang bermula. Yang berbuntut pada teraihnya prestasi sebagai juara ketiga Dalang Remaja Majapahit 2019 itu.

Yusuf tidak tahu dari mana bakat mendalangnya diturunkan. Mengingat ibu-bapaknya justru tidak tahu-menahu soal wayang.

Keluarganya pun tidak memiliki akar di kesenian tradisional. Alumnus pendidikan bahasa dan sastra Jawa itu juga baru belajar mendalang di bangku sekolah menengah pertama.

Minatnya pada kesenian daerah semakin terwadahi ketika masuk bangku perkuliahan Unesa. Dia mendedikasikan dirinya di Sanggar Bharada, sanggar kesenian mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Jawa.

”Di sini jadi tantangan tersendiri juga bagi saya dan kawan-kawan yang sudah punya bekal kesenian daerah sebelumnya. Untuk mengajak anggota lain yang baru mulai dari nol belajar bersama,” lanjut pemuda asal Kabupaten Kediri itu.

Sanggar Bharada pula yang mengiringi Yusuf saat melaju di perlombaan Dalang Remaja Majapahit hingga keluar sebagai juara ketiga. Saat itu dia membawakan lakon Palagan Bubat atau Perang Bubat.

Sudah tidak tergabung di Sanggar Bharada bukan berarti berhenti berkesenian. Di tengah kesibukannya mengajar, Yusuf masih aktif menjalankan passion-nya itu. Mulai mendalang sampai karawitan.

”Cuma saya dalangnya by event. Jadi, jarang mendalangnya, malah lebih sering karawitannya,” ucapnya.

Begitu pula Rimaafta Yetikartining, kawan sejurusan dan sesanggar Yusuf dulu. Hingga saat ini, pesinden 24 tahun itu sudah tampil di berbagai pentas wayang. Dari desa sampai kota, pegunungan sampai pesisir, dalam sampai luar pulau.

”Yang belum ke luar negeri aja sih, hehe. Tanggal 6 (November) kemarin juga baru tampil di Pekan Wayang Nasional dalam rangka HWD (Hari Wayang Dunia) di Taman Budaya Jatim. Dalangnya Pak Wardono dari Mojokerto,” ungkap Tata, sapaan akrabnya.

Perjalanan nyindennya memang sudah cukup panjang. Tata masih ingat wayangan pertamanya di desanya sendiri. Ketika itu dia masih pelajar SMP. Iklim nanggap wayang di daerah asal dia tinggal memang masih tinggi.

”Setiap bulan Sura pasti ada wayangan. Kebetulan ayahku perangkat desa. Ayah cerita ke dalangnya, Ki Martak Harsono, bahwa aku suka nyanyi,” cerita perempuan asal Turen, Kabupaten Malang, itu.

Tata pun mendapat kesempatan nyinden untuk kali pertama. Meski saat itu basic-nya menyanyi lagu-lagu pop, bukan langgam Jawa. Di hari pertunjukan, dalang memintanya mengenakan kebaya dan langsung bergabung dengan yang lain.

”Eh, ternyata bisa. Walaupun kebagian nyanyi pas limbukan aja. Waktu itu juga cuma bisa lagu Prau Layar tok,” imbuhnya.

Dari situ, Tata selalu diikutsertakan ketika ada wayangan. Hingga bertemu dengan banyak dalang lain. Dia pun mulai melatih kemampuan nyinden di Dewan Kesenian Malang.

”Orang tua saya aja baru suka nonton wayang pas anaknya sudah jadi sinden, haha,” imbuhnya.

Menurut dia, sinden sangat mencerminkan wanita Indonesia. Karena itu, dia lebih menaruh minat menjadi sinden daripada penyanyi pop.

Minat generasi muda pada pewayangan memang bisa dibilang kurang. Tak heran jika banyak sinden dan dalang yang datang dari kelompok dewasa, bahkan sepuh.

”Kalau di daerahnya banyak seniman/seniwati, mungkin akan lebih mudah interest. Tapi, kalau di lingkungannya nggak ada, agak susah sih,” ujar Tata.

Sebagai pelaku seni, Yusuf melihat untuk regenerasi tidak ada masalah. Yang menjadi problem adalah menyesuaikan wayang dengan minat generasi muda. Menurut dia, banyak yang sudah tidak paham dengan bahasa pedalangan yang masih pakem.

M Yusuf Pebriansyah (M Yusuf Pebriansyah untuk Jawa Pos)

M Yusuf Pebriansyah (M Yusuf Pebriansyah untuk Jawa Pos)

”Mereka tidak tertarik karena memang tidak paham. Kemampuan mereka mencerna hiburan wayang itu sudah tidak pada tataran itu lagi. Setidaknya pergelaran wayang mulai harus disesuaikan,” tutur Yusuf.

Sebagai generasi Z, Imam Gazi Al Farizi sepakat dengan hal itu. Karena itu, ketua Pakarsajen (Paguyuban Karawitan Sastra Jendra) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, tersebut bertekad menyuguhkan karawitan yang tidak hanya sesuai pakem. Dia memadukannya dengan musik kontemporer untuk menarik minat mahasiswa lain. ”Kita kasih nggak cuma karawitan secara tradisional. Kita gunakan juga gitar, piano,” ucap Imam.

Bersama anggota lain, Imam sering menampilkan karawitan di berbagai acara kampus. Termasuk mengadakan pergelaran wayang singkat. Biasanya, dia kebagian menabuh demung. Kadang juga gong.

”Kita juga sudah beberapa tahun dipercaya sama pihak kampus untuk belajar karawitan bareng mahasiswa asing Unair,” imbuh mahasiswa 20 tahun tersebut.

Pemuda asal Kebumen, Jawa Tengah, itu memang sudah biasa berkecimpung di karawitan. Sejak kecil, dia menjadi penikmat kesenian tersebut.

”Sebenarnya nggak sulit. Memainkan gamelan sama dengan main alat musik lain. Cuma ciri khasnya gamelan saling melengkapi dan berkesinambungan, mirip alat musik modern kayak drum dengan bas,” jelas mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Unair itu.

Imam berharap karawitan maupun pewayangan mulai berinovasi. Agar makin banyak anak muda yang tertarik dengan budayanya sendiri.

”Saya yakin wayang itu nggak akan hilang peminat, nggak mungkin punah. Tapi, sudah saatnya wayang berinovasi. Tidak hanya ditampilkan dengan kelir,” tandasnya.

Photo



Imam Gazi Al Farizi (Imam Gazi Al Farizi untuk Jawa Pos)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore