
ANYAK CERITA: Moh Jayari, takmir Masjid Kedondong yang menjadi “saksi bisu” perjalanan Sunan Kalijaga menyebarkan agama Islam di Jawa.(IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)
Sebagai takmir masjid merupakan tugas mulia, karena diberi amanah memimpin dan mengelola masjid dengan baik. Namun bagaimana jika masjid yang dikelola merupakan masjid bersejarah. Inilah kisah Moh Jayari, takmir Masjid Jam’i Sunan Kalijaga atau Masjid Kedondong yang menjadi saksi bisu perjalanan Sunan Kalijaga menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.
IWAN NURWANTO, Kulonprogo, Radar Jogja
Waktu menunjukkan hampir jam tiga sore ketika Jayari sudah terlihat dari kejauhan berjalan kaki menuju Masjid Kedondong, yang terletak di Padukuhan Kedondong 1, Banjararum, Kalibawang, Kulonprogo. Baju batik warna merahnya terlihat semakin mencolok mata ketika disinari matahari senja.
Sesampai di bangunan masjid, Jayari sudah langsung mengambil air wudhu dan menuju ke dalam bangunan masjid. Dipukulnya bedug dan kentongan sebagai tanda akan dimulainya adzan salat Ashar. Ia kemudian langsung melanjutkan dengan ibadah salat yang diikuti puluhan jamaah.
Jayari sudah puluhan tahun dipercaya sebagai takmir Masjid Kedondong. Bersedia berbagi kisah, warga asli Padukuhan Kedondong ini menceritakan tentang senang susahnya bertugas sebagai seorang takmir masjid bersejarah di Kulonprogo itu.
Berbeda dengan takmir pada umumnya, sebagai seorang pengelola masjid bersejarah tentu Jayari harus paham dengan berbagai sejarah berdirinya masjid itu. Pembangunan masjid diketahui diselimuti drama yang melibatkan tokoh Wali Songo dengan muridnya.
Kabarnya, Masjid Kedondong didirikan oleh Sunan Kalijaga ketika mengembara bersama muridnya yang bernama Adipati Terung. Saat itu, Sunan Kalijaga tengah beristirahat di pinggir Sungai Tinalah, lalu memerintahkan muridnya untuk mendirikan masjid.
“Sunan Kalijaga menancapkan sebuah tongkat sebagai pertanda agar menjadi lokasi pembangunan masjid. Hal itu dilakukan oleh tokoh Wali Songo itu sebelum melanjutkan perjalanannya menyebarkan agama Islam ke wilayah Demak, Jawa Tengah,” ujar Jayari saat ditemui Radar Jogja, Selasa (5/4).
Dikatakan, beberapa peninggalan asli Sunan Kalijaga yang sampai saat ini masih tersisa di masjid itu, di antaranya, empat buah saka, kentongan, bedug dan mustaka yang berada di atas bangunan masjid. Sebenarnya masih ada satu lagi peninggalan asli tokoh penyebar agama Islam di Pulau Jawa itu, yakni tongkat yang digunakan khatib setiap salat Jumat.
Ia mengenang, tongkat khatib peninggalan Sunan Kalijaga itu hilang karena ditukar dengan tongkat palsu oleh pencuri beberapa tahun lalu. Jayari mengaku sedih ketika barang bersejarah itu sudah tidak berada di dalam masjid. Terlebih tongkat khatib itu juga dipercaya memiliki kekuatan magis dan menjadi unsur penting dalam pembangunan Masjid Kedondong.
“Karena hal itu pula, kini kami sebagai takmir dan masyarakat Kedondong harus lebih waspada. Terlebih lagi Masjid Kedondong juga sering didatangi oleh jamaah dari berbagai daerah,” beber Jayari.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
