Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 4 Januari 2022 | 14.48 WIB

Supomo, Mantan Pejabat Pemkot Surabaya yang Kini Berkarier di Kemensos

Supomo dilantik menjadi Kepala Dinas Pendidikan Surabaya. (Hariyanto Teng/Jawa Pos) - Image

Supomo dilantik menjadi Kepala Dinas Pendidikan Surabaya. (Hariyanto Teng/Jawa Pos)

Tepat 30 tahun Supomo berdinas di lingkungan Pemkot Surabaya. Meniti karier dari bawah sejak 1991, sejumlah jabatan penting pernah diembannya. Mulai camat, kepala dinas sosial, hingga terakhir kepala dinas pendidikan. Atas permintaan Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini, dia ditarik ke Kementerian Sosial (Kemensos).

UMAR WIRAHADI, Surabaya

GELAP GULITA. Hening. Sepi. Itulah yang dirasakan Supomo ketika duduk seorang diri pada suatu malam di sebuah gua di kawasan pegunungan Pacet, Mojokerto.

Hanya suara nyamuk yang menyertainya. Tidak jarang, tubuh Supomo menjadi sasaran empuk serangga tersebut. Namun, gigitan nyamuk yang bertubi-tubi tidak menyurutkan tekad untuk beranjak dari tempat duduk. Itu dilakukan berjam-jam. Mulai pukul 23.00 hingga subuh tiba pukul 04.00. Aksi tersebut dilakukan Supomo pada awal 2014 silam. ”Mungkin terdengar seperti di film-film. Tapi, ini nyata kok,’’ kata Supomo saat berbincang dengan Jawa Pos Minggu (2/1).

Itu bukan uji nyali. Bukan pula untuk bertapa dengan tujuan mencari kekuatan supranatural atau klenik. Supomo ketika itu hanya ingin menenangkan diri. Melakukan kontemplasi sambil terus berzikir. Merenungi kelemahan diri sebagai manusia. Meski saat itu dia menjabat kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Kota Surabaya. ”Saya merenung betapa lemahnya saya. Pangkat dan jabatan yang saya sandang tidak ada apa-apanya. Kalau Tuhan mau mencabutnya, saya bisa apa,’’ ujarnya.

Apa yang dilakukan Supomo ketika itu bukan tanpa tujuan. Saat itu 2014, sedang berlangsung misi besar penutupan sejumlah lokalisasi di Kota Surabaya. Tentu yang paling besar adalah lokalisasi Dolly. Kala itu dikenal sebagai kawasan prostitusi paling terkenal dan terbesar di Asia Tenggara.

Sebagai Kadinsos, Supomo ditugasi wali kota Surabaya saat itu Tri Rismaharini untuk mengawal misi tersebut. Komitmen Risma sudah bulat untuk menutup lokalisasi Dolly. Juga sejumlah zona merah lainnya di beberapa kecamatan. Dinas sosial dibantu satpol PP dan institusi lainnya diminta sebagai eksekutor. ”Tujuan utama Ibu (Tri Rismaharini, Red) hanya ingin menyelamatkan dan melindungi perempuan dan anak-anak dari prostitusi,’’ tutur Supomo.

Nah, selama misi penutupan lokalisasi itu, banyak ancaman yang diperoleh Supomo. Khususnya ancaman fisik. Oleh karena itu, dia butuh kebulatan tekad, niat yang ikhlas, dan komitmen yang tulus untuk mengawal kebijakan wali kota dalam menutup tempat prostitusi. ”Saya niatkan ibadah ke Allah. Kalaupun saya mati, ya saya mati untuk tujuan mulia. Itu saya tekadkan dalam hati,’’ sambungnya.

Misi pun berhasil. Pada pertengahan 2014, eks lokalisasi Dolly berhasil ditutup. Penutupan juga diikuti zona merah lainnya. Misalnya, Bangunrejo, Kremil, Sememi, hingga kawasan makam Kembang Kuning. Tentu atas dukungan semua pihak. Mulai tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga backup TNI/Polri serta warga Surabaya secara umum. ”Sehingga bisa saya katakan misi menutup lokalisasi adalah yang paling berkesan selama bertugas di Pemkot Surabaya,’’ tutur pria 54 tahun itu.

Selain itu, Supomo juga membuat banyak terobosan selama menjabat kepala dinas pendidikan (Kadispendik). Jabatan itu diemban mulai 2019–2021. Di antaranya, pemberian beasiswa bagi anak dari kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Siswa yang masuk dalam program itu bisa sekolah dengan gratis di berbagai SMP swasta.

Program lain yang digagas Supomo adalah percepatan perizinan pendirian sekolah baru. Selama menjabat, hampir 1.000 lembaga baru berdiri. Mulai jenjang PAUD, TK, SD, hingga SMP sederajat. ”Percepatan izin ini penting untuk memberikan kepastian hukum bagi sekolah. Toh, yang sekolah juga anak-anak warga Kota Surabaya,’’ imbuhnya.

Saat ini Supomo sedang siap-siap melanjutkan tugas barunya di Kementerian Sosial (Kemensos). Kepindahan dari Pemkot Surabaya ke Kemensos itu bukan atas kehendak dirinya. Dia ditarik atas permintaan Mensos Tri Rismaharini. Supomo pun mengaku belum mengetahui jabatan barunya nanti. ”Saya ini ASN. Saya siap ditempatkan dan ditugaskan di mana pun,’’ tegas arek Suroboyo itu.

Kabarnya, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sudah mengeluarkan izin kepada Supomo untuk pindah tugas ke Kemensos. Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surabaya Hendro Gunawan menyampaikan, secara aturan tidak ada persoalan bagi ASN untuk pindah tugas. Baik dari pemkot ke instansi pemerintah pusat maupun mutasi ke kabupaten/kota lain. ”Kalau dari sisi ketentuan memang dibolehkan,’’ jelas Hendro Gunawan.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore