
IBU HEBAT: Etik Herawati begitu telaten mendidik sang buah hati Reza Gusti Erlangga (kiri).
Memiliki anak berkebutuhan khusus tentu bukan keinginan mereka. Bukan pula permintaan. Tapi, semuanya adalah kehendak Tuhan. Pada akhirnya, kasih sayang yang tulus mampu meredam egoisme dan berjuang sekuat tenaga agar sang anak dapat diterima dunia.
Antin Irsanti, Surabaya
NAMANYA Etik Herawati. Dua puluh dua tahun lalu, tepatnya 24 Mei 1995, dia dikaruniai seorang anak laki-laki. Bayi itu dia beri nama Reza Gusti Erlangga. Angan-angan besar mengiringi pemberian nama itu. Kelak, dia berharap sang anak bisa menjadi orang sukses. Jadi dokter, misalnya.
Dua tahun berjalan, sang anak baru bisa berjalan. Kata orang tua zaman dulu, perkembangan anak laki-laki biasanya memang lebih lambat. Tapi, sebagai ibu, Etik merasakan hal lain. Ada yang berbeda dengan buah hatinya.
Semakin lama, tumbuh kembang Angga, sapaan Reza Gusti Erlangga, semakin menunjukkan perbedaan dengan anak di sekitarnya. Bahkan, ketika sudah masuk playgroup pun, perilaku Angga tidak berubah. Dia tidak bisa duduk diam dan mengikuti irama lagu. Juga, tidak bisa bersosialisasi dengan teman-temannya.
Curiga ada yang tidak beres, Etik mendatangi pemilik playgroup itu yang juga seorang psikiater. Di sana, Angga menjalani serangkaian tes. Angga terdeteksi menyandang autisme. Tujuh di antara 10 tanda autis sesuai dengan kriteria Angga.
Etik tidak terima. Dia mencari dokter lain. Namun, dua ahli gangguan emosional yang didatanginya mengatakan hal sama. ’’Di situ sebenarnya saya mencari ahli yang mengatakan bahwa anak saya tidak seperti itu. Tapi, ketika tiga orang mengatakan hal sama, saya akhirnya menyerah,’’ ungkapnya.
Berita tersebut seakan meruntuhkan dunianya saat itu juga.
Apa yang telah saya perbuat?
Kenapa Tuhan memberikan cobaan seberat ini?
Apa saya sedang dikutuk?
Pertanyaan demi pertanyaan seakan tiada habis membayangi pikirannya saat itu. Apalagi, pada saat bersamaan, dia harus menghadapi perpisahan dengan sang suami. Sungguh perempuan tangguh yang bisa menghadapinya.
Karena itu, Etik tidak boleh terus bersedih. Angga membutuhkan ibunya. Langkah pertama yang dilakukan Etik adalah mempersiapkan diri. Pertama-tama, yang harus dia ubah adalah mindset. Anaknya tidak bisa diperlakukan sama dengan anak-anak normal lainnya. Baru setelah itu, dia mempersiapkan orang-orang terdekatnya. Terutama orang tua dan saudara-saudaranya.
’’Saya akan merasa sangat berdosa jika tidak mempersiapkan anak ini dengan baik karena saya tidak bisa menemaninya selamanya. Kalau saya tidak ada, setidaknya dia sudah bisa mandiri dan tidak menyusahkan orang lain,’’ ujar alumnus Jurusan Manajemen Universitas dr Soetomo tersebut.
Sejak saat itu, Etik tidak pernah meninggalkan Angga. Hanya saat bekerja dia menitipkan bocah itu kepada orang tuanya. Namun, jika sedang tantrum dan tidak bisa dikendalikan orang-orang di sekitarnya, Angga harus segera dibawa ke ibunya. Meski sedang bekerja, Etik tak berkeberatan. Bagi dia, hidupnya hanya untuk Angga.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022