Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 September 2021 | 20.40 WIB

Sang Ibu Sampai Bilang, Sudah Rahim Ibu buat Dita Saja

PERHATIAN PENUH: Dita Anggraeni (tengah) mengajari anak didiknya di Yaysan Laskar Bintang di Desa Cikuda, Parung Panjang, Kabupaten Bogor (4/9). (HENDRA EKA/JAWA POS) - Image

PERHATIAN PENUH: Dita Anggraeni (tengah) mengajari anak didiknya di Yaysan Laskar Bintang di Desa Cikuda, Parung Panjang, Kabupaten Bogor (4/9). (HENDRA EKA/JAWA POS)

Dita Anggraeni Merasakan Jadi Ibu Melalui Yayasan Laskar Bintang


Dita Anggraeni didiagnosis tak akan bisa memiliki anak karena sindrom langka yang cuma terjadi pada 1 di antara 5.000 kelahiran. ”Saya mungkin tidak bisa hamil. Tapi, saya bisa jadi ibu dengan ngurusin anak-anak yang tidak mampu,” katanya.

ZALZILATUL HIKMIA, Kab Bogor

---

HARI itu akhirnya tiba. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan panjang, Dita Anggraeni segera tahu kondisi dirinya: mengapa dia tak mengalami menstruasi seperti perempuan pada umumnya.

Sayangnya, hasil pemeriksaan tak sesuai dengan yang diharapkan. Senin, 19 Desember 2011, Dita dinyatakan tidak akan bisa memiliki anak dari rahimnya.

Dokter mendiagnosisnya mengalami agenesis uterus. Sebuah kelainan rahim yang mengakibatkan rahim dan vagina tak berkembang.

Hingga dinyatakan tak memiliki rahim sindrom mayer rokitansky kuster hauser (MRKH). Kasusnya sangat langka, hanya 1:5.000 kelahiran.

Dunianya hancur seketika. ”MRKH belum familier memang waktu itu,” kenang perempuan 29 tahun tersebut saat ditemui di rumahnya di Parung, Kabupaten Bogor, Sabtu (4/9) dua pekan lalu.

Keluar dari ruang pemeriksaan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), tangisnya langsung pecah. Langkahnya gontai. Dunia serasa runtuh saat itu.

Bayangan indah masa depan bersama calon suami, Fahmi Ibrahim, perlahan memudar. Ya, motivasinya memeriksakan diri disebabkan dia dan Fahmi berencana menikah pada 2012.

Setiba di rumah, kabar itu langsung disampaikan kepada orang tuanya. Sang ibu menjadi orang yang paling terpukul.

Rasa bersalah kepada sang anak tak bisa dibendung. Dita pun menjadi orang yang justru menguatkan meski jiwanya juga remuk redam. ”Ibu aku sampai bilang, ya udah bilang dokter, rahim ibu buat Dita aja,” tuturnya menirukan ucapan sang ibu saat itu.

Dita sejatinya sejak lama menyadari ada sesuatu yang tak lumrah pada dirinya. Alumnus Universitas Budi Luhur, Jakarta, itu tidak pernah mengalami menstruasi sama sekali. Ketika teman-teman sebayanya mulai datang bulan saat SMP, Dita tak merasakan itu. Dia berusaha membesarkan hati.

Berpikir bahwa memang menstruasinya telat. Dia akan mengalami itu saat SMA. Tapi, ternyata tidak.

”Saat SMA, kok masih belum. Padahal, adikku yang SMP waktu itu udah menstruasi,” tutur perempuan berkacamata tersebut.

Kendati begitu, belum ada niat untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan (obgyn). Apalagi, biaya yang harus dikeluarkan cukup mahal. Dia baru berani memeriksakan diri setelah mendapat dorongan dari Fahmi pada 2011 saat keduanya berencana menikah.

Belum selesai kesedihan yang dirasanya, badai kembali menghantam Dita. Dia harus berpisah dari Fahmi. Padahal, keduanya merajut hubungan tidak singkat. Sudah empat tahun sejak kali pertama keduanya bersama.

Keputusan itu memang dibuat berdua. Tapi, nyatanya, tak semudah kesepakatan mereka. Keduanya hancur.

Setelah menerima vonis dokter, Dita berpikir tak mau menikah. Menurut dia, untuk apa menikah kalau tak bisa memberikan keturunan kepada suaminya kelak.

Belum lagi, dia juga mengalami saluran vagina pendek akibat MRKH ini. ”Aku gak mau ngecewain dia dan keluarganya,” katanya.

Takdir berkata lain. Setelah delapan bulan berpisah, keduanya ternyata bertemu kembali di salah satu acara santunan kemanusiaan.

Keduanya memang sering terlibat di acara sosial sejak dulu. Dari sana, komunikasi kembali terjalin. Hubungan keduanya pun terus membaik hingga memutuskan melanjutkan rencana pernikahannya.

”Tapi, aku minta ketemu ibunya dulu. Kalau ibunya rida sama calon menantunya, kita nikah,” tutur sulung dua bersaudara tersebut menceritakan apa yang disampaikannya kepada Fahmi ketika itu.

Keduanya akhirnya memutuskan menikah pada 2012 sesuai dengan rencana awal. Mereka sepakat bahwa Dita memang tak bisa memiliki anak, tapi mereka bisa menjadi orang tua untuk anak-anak yang lain.

Dita dan Fahmi lalu mendirikan Laskar Bintang, sebuah yayasan untuk anak yatim dan duafa. Mereka juga membuat Rumah Anak Bumi untuk mencurahkan kasih sayang bagi anak-anak di Desa Cikuda, Parung Panjang, Bogor.

”Saya mungkin tidak bisa hamil. Tapi, saya bisa jadi ibu dengan ngurusin anak-anak yang tidak mampu,” ungkap perempuan yang berulang tahun tiap 25 Januari tersebut.

Setelah menikah dan memiliki Yayasan Laskar Bintang, ternyata Dita belum juga berdamai dengan kondisinya. Kesedihan itu masih ada.

Rasa kecewa, penolakan, bercampur penasaran atas apa yang dideritanya masih begitu besar. Mengingat, informasi mengenai penyakit tersebut masih sangat minim di Indonesia kala itu.

Hingga pada 2014, Fahmi menemukan informasi lebih detail mengenai kondisi sang istri melalui Beautiful You MRKH Foundation. Setelah membaca sejumlah jurnal ilmiah yang dipublikasikan di luar negeri, ternyata kondisi Dita sama dengan MRKH yang dimaksud.

Keduanya pun kembali ke RSCM untuk mendapat penjelasan lebih lanjut. ”Ternyata menurut dokter agenesis uterus itu sama dengan MRKH ini,” katanya.

Dita pun semakin penasaran. Apakah penyakit itu benar-benar langka? Apakah di Indonesia hanya dia yang mengalami keanehan itu. Sebab, sepengetahuannya, masalah kesuburan memang bisa terjadi, tapi bukan jenis yang tak memiliki rahim.

Dia pun memutuskan membuat fan page dan akun Instagram MRKH Indonesia untuk mencari ”teman” seperjuangan. Siapa sangka, banyak pesan masuk ke media sosial MRKH Indonesia. Mereka mengaku mengalami hal yang sama.

Dari sana, kedekatan mereka berlanjut ke grup WhatsApp. Dita bahkan mengundang satu dokter obgyn untuk bisa berbagi bersama mereka. Dari awalnya hanya lima orang, kini anggotanya sudah mencapai seratusan.

”Dan aku yakin masih banyak sih. Tapi, mereka diam. Karena ini isunya privasi banget dan tabu ya,” ungkapnya.

Grup itu betul-betul membantu Dita bangkit. Mereka berbagi pengalaman dan menguatkan satu sama lain. ”Ada yang cerita sebulan menikah, lalu ditinggal suaminya. Ada juga yang sudah 11 tahun, tapi harus pisah karena suaminya tetap ingin punya keturunan,” sambungnya.

Kebahagiaan Dita pun bertambah. Tepat setelah lima tahun membangun rumah tangga, dia akhirnya dipertemukan dengan calon anak mereka. Ada orang tua yang secara ekonomi tidak mampu, lalu memercayakan anaknya kepada Dita dan Fahmi. Proses kelahirannya pun diurus Dita dan Fahmi, bahkan sejak hamil.

Anak itu diberi nama Starla Qiana Senja. Starla berarti bintang. Qiana artinya berkah Tuhan. Senja karena lahirnya sore. ”Alhamdulillah, saya akhirnya punya satu anak perempuan,” katanya sambil memperkenalkan Qiana.

Menurut dia, semua serba dimudahkan. Sebab, saat Qiana butuh air susu ibu (ASI), adik ipar ternyata juga baru melahirkan. Karena itu, pasokan ASI Qiana bisa tercukupi.

Kini Qiana sudah berusia 4 tahun. Oleh Dita, dia pun dikenalkan kepada sang ibu kandung. Dita tak mau memutus hubungan darah keduanya.

Bahkan, ketika nanti sang ibu kandung ingin mengambil Qiana kembali, Dita akan merelakannya. Sebab, sedari awal dia menyadari bahwa semuanya hanya titipan. (*/c19/ttg)
Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore