Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 28 Februari 2019 | 21.49 WIB

"Jalan Sunyi" Gloria Elsa: Merias Jenazah tanpa Memungut Bayaran

Gloria Elsa - Image

Gloria Elsa


Kebetulan rumah sang adik bersebelahan dengan Gloria. Gloria juga satu gereja dengannya di GPIB Blok M, Jakarta Selatan. Nama Gloria direkomendasikan pula oleh GPIB untuk merias adiknya.


Tak banyak bicara, dia memasrahkan urusan merias adiknya ke Gloria. Tak sepeser rupiah dia keluarkan. "Dan, hasilnya, cakep banget," katanya.


Di awal merias jenazah, Gloria mendapatkan alat make-up dari pemberian sejumlah saudara. Tidak jarang, dia juga menggunakan alat riasnya yang tak terpakai lagi. Tapi, seiring banyaknya permintaan merias jenazah, itu tak lagi cukup.


Akhirnya pada 2017 dia membuat sebuah status di akun pribadinya di Facebook. Sebuah status yang menyebutkan bahwa dia menerima donasi make-up kedaluwarsa.


Tidak banyak yang menanggapi. Hasil donasinya juga tak membeludak. Biasa-biasa saja.


Setahun berlalu. Di 2018 Gloria merasa perlu makin masif untuk menyebarkan informasi donasi alat rias. Dia lalu mengunggah sebuah posting-an di feed Instagram-nya. Kemudian, ibu satu anak itu menandai beberapa selebgram hingga beauty influencer.


Lagi-lagi gayung tak bersambut. Bala bantuan tak banyak yang datang juga. Akhirnya, unggahan itu diarsipkan di akunnya. Perasaannya sempat teriris dan miris, mengapa tidak banyak orang yang ingin ikut terlibat. Padahal, cukup mendonasikan alat rias yang tak terpakai atau kedaluwarsa. Bukan alat make-up baru.


Untuk masa kedaluwarsa di atas dua tahun, perempuan kelahiran Jakarta itu perlu mengoplosnya dengan baby oil. Supaya tekstur alat riasnya tak kering. Sebab, ketika masa kedaluwarsa lebih dari dua tahun, tekstur alat rias cenderung kering. Lain halnya jika durasi alat rias yang diterimanya di bawah dua tahun.


Tahun berganti. Tak disangka, status Facebook yang dibuat pada 2017 itu viral di awal tahun ini. Di suatu pagi, perempuan 35 tahun itu kaget ketika melihat beberapa pemberitahuan muncul di aplikasi pesan instannya, WhatsApp.


Lebih dari 100 pesan instan menyerbu ponselnya. Isi pesannya terkait donasi make-up yang kedaluwarsa. "Baru bangun tidur ngelihat handphone. Buset, pesan gue banyak amat dah," ucapnya, lalu tertawa kecil.


Alat-alat rias pun berdatangan ke rumahnya. Mulai yang belum pernah dipakai hingga yang kedaluwarsa. Mereknya pun sempat membuatnya terperangah. Merek dari yang biasa dimiliki kaum borjuis hingga proletar ada. Lengkap.


Pengirim alat make-up berasal dari Jakarta dan luar Jakarta. Pengirimannya juga beragam. Dikirim menggunakan jasa ojek daring dan ada yang bertemu langsung.


Dia menyortir semua alat rias berdasar tahun kedaluwarsa. Sortir itu bertujuan mengetahui alat rias mana saja yang perlu dicampur dengan baby oil. Selain itu, dia memisahkan warna foundation sesuai dengan tone kulit. Menurut dia, tone kulit orang Indonesia Timur lebih sulit.


Make-up natural jadi pilihan Gloria saat merias jenazah. Dia menghindari riasan yang terlalu heboh. Misalnya, menggunakan corrector di beberapa titik wajah.


"Ini riasan untuk menghadap Tuhan. Jadi, riasan yang terbaik ya seperti riasan yang sedang tidur saja," ujarnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore