
Santosa Amin sedang melukis di kediamannya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.
Pada 2018 lelang kembali dihelat. Dan, satu lukisan Santosa laku terjual lagi ketika itu. Menggambarkan seorang perempuan Tibet yang sedang menggendong anaknya di belakang. Sembari tetap melakukan aktivitas menjahit.
"Lukisan itu laku Rp 10 juta," katanya.
Saat ini masih ada dua lukisannya di LBH yang rencananya diikutkan kegiatan serupa pada tahun ini.
Staf Pelaksana Penggalangan Dana Publik LBH Jakarta Khaerul Anwar menjelaskan sedari dulu pihaknya memang memiliki program bernama Solidaritas Masyarakat Peduli Keadilan (Simpul) LBH Jakarta. Dalam program tersebut, LBH mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berkontribusi.
Kontribusinya dalam bentuk apa pun. Mulai menjadi sukarelawan hingga memberikan donasi. "Jadi, tidak terpaku ke lelang hasil karya seniman. Apa saja akan kami terima."
Kebetulan pada 2016 LBH dibantu Tempo Institute. Dari jaringan LBH dan Tempo, mereka pun mengumpulkan beberapa seniman.
Tidak hanya yang menggeluti bidang seni lukisan seperti Santosa. Tapi, juga pematung seperti Dolorosa Sinaga.
Dari lelang edisi pertama itu, hasil yang terkumpul lumayan banyak. Sebab, beberapa orang yang dituju pun merupakan penggemar seni. Dari pelelangan pertama tersebut, LBH berhasil mendapatkan donasi Rp 350 juta. Meski, tidak semua uang itu masuk ke kantong LBH.
"Jadi, kami memang ada kesepakatan, sebagian besar akan masuk ke seniman dan sisanya baru masuk ke kami. Kami tidak mematok harus menyumbang berapa juga sih," ungkap Arul, sapaan akrab Khaerul Anwar.
Dari Rp 350 juta itu, LBH mendapat laba bersih Rp 100 juta-Rp 150 juta. Hasil tersebut akan mereka gunakan sebagai pendanaan operasional sehari-hari.
Santosa mulai melukis saat di bangku sekolah dasar (SD). Kala itu dia sudah menumpahkan kegemarannya melalui coretan-coretan. Hingga memasuki SMA, pria kelahiran 15 Juli 1974 itu mulai mengenal media kanvas untuk berekspresi.
Ketika lulus dari SMA Negeri 1 Kroya, Cilacap, Jawa Tengah, pada 1994, dia tetap meneruskan kegemarannya melukis. Beberapa pameran pernah dia gelar dan ikuti.
Lukisan pertamanya laku pada 1997. Dia menggambar seorang anak kecil yang tengah tertidur di atas sebuah sepeda.
Lukisan itu dibeli seseorang berkewarganegaraan Jerman. Dihargai Rp 12 juta. "Saat itu nominal segitu sudah dianggap lumayan tinggi," papar pria kelahiran Cilacap tersebut.
Bagi Santoso, lukisan dan gambar merupakan media paling cocok untuk menyalurkan kegelisahannya selama ini. Tidak harus di atas kanvas. Jika sedang gelisah, Santosa terkadang suka mencoret-coret kertas atau buku diari.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
