Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 23 Februari 2019 | 23.27 WIB

Cara si 'Suneo' dan 'SpongeBob' Menunjukkan Kepedulian kepada Sesama

Santosa Amin sedang melukis di kediamannya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. - Image

Santosa Amin sedang melukis di kediamannya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.


Pada 2018 lelang kembali dihelat. Dan, satu lukisan Santosa laku terjual lagi ketika itu. Menggambarkan seorang perempuan Tibet yang sedang menggendong anaknya di belakang. Sembari tetap melakukan aktivitas menjahit.


"Lukisan itu laku Rp 10 juta," katanya.


Saat ini masih ada dua lukisannya di LBH yang rencananya diikutkan kegiatan serupa pada tahun ini.


Staf Pelaksana Penggalangan Dana Publik LBH Jakarta Khaerul Anwar menjelaskan sedari dulu pihaknya memang memiliki program bernama Solidaritas Masyarakat Peduli Keadilan (Simpul) LBH Jakarta. Dalam program tersebut, LBH mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berkontribusi.


Kontribusinya dalam bentuk apa pun. Mulai menjadi sukarelawan hingga memberikan donasi. "Jadi, tidak terpaku ke lelang hasil karya seniman. Apa saja akan kami terima."


Kebetulan pada 2016 LBH dibantu Tempo Institute. Dari jaringan LBH dan Tempo, mereka pun mengumpulkan beberapa seniman.


Tidak hanya yang menggeluti bidang seni lukisan seperti Santosa. Tapi, juga pematung seperti Dolorosa Sinaga.


Dari lelang edisi pertama itu, hasil yang terkumpul lumayan banyak. Sebab, beberapa orang yang dituju pun merupakan penggemar seni. Dari pelelangan pertama tersebut, LBH berhasil mendapatkan donasi Rp 350 juta. Meski, tidak semua uang itu masuk ke kantong LBH.


"Jadi, kami memang ada kesepakatan, sebagian besar akan masuk ke seniman dan sisanya baru masuk ke kami. Kami tidak mematok harus menyumbang berapa juga sih," ungkap Arul, sapaan akrab Khaerul Anwar.


Dari Rp 350 juta itu, LBH mendapat laba bersih Rp 100 juta-Rp 150 juta. Hasil tersebut akan mereka gunakan sebagai pendanaan operasional sehari-hari.


Santosa mulai melukis saat di bangku sekolah dasar (SD). Kala itu dia sudah menumpahkan kegemarannya melalui coretan-coretan. Hingga memasuki SMA, pria kelahiran 15 Juli 1974 itu mulai mengenal media kanvas untuk berekspresi.


Ketika lulus dari SMA Negeri 1 Kroya, Cilacap, Jawa Tengah, pada 1994, dia tetap meneruskan kegemarannya melukis. Beberapa pameran pernah dia gelar dan ikuti.


Lukisan pertamanya laku pada 1997. Dia menggambar seorang anak kecil yang tengah tertidur di atas sebuah sepeda.


Lukisan itu dibeli seseorang berkewarganegaraan Jerman. Dihargai Rp 12 juta. "Saat itu nominal segitu sudah dianggap lumayan tinggi," papar pria kelahiran Cilacap tersebut.


Bagi Santoso, lukisan dan gambar merupakan media paling cocok untuk menyalurkan kegelisahannya selama ini. Tidak harus di atas kanvas. Jika sedang gelisah, Santosa terkadang suka mencoret-coret kertas atau buku diari.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore