
KAMI BISA: Paduan Suara Bahasa Isyarat Baiman saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kreativitas mereka tak berhenti di sini. Mereka sedang mempelajari teater sunyi.
Selama dua pekan paduan suara kalangan tuli berlatih keras mendengarkan getaran untuk menyanyikan Indonesia Raya. Berikutnya bertekad mempelajari teater sunyi.
SYARAFUDDIN, Banjarmasin
---
DARI deretan kursi terdepan, Siti Wasilah tak kuasa menahan haru. Beberapa kali istri wali kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu mengusap air mata. "Saya salut dengan kerja keras mereka," katanya kepada Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group) yang menemuinya seusai acara.
Mereka yang dimaksud Siti adalah ke-22 anggota paduan suara bahasa isyarat yang pada Sabtu (1/12) lalu unjuk gigi untuk kali pertama. Dalam perayaan Hari Disabilitas Internasional yang dihelat Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin di balai kota.
Sebanyak 22 personel paduan suara itu penderita tuli.
Merekalah paduan suara bahasa isyarat pertama yang tampil di depan publik di Kalimantan Selatan. Bahkan mungkin juga di Indonesia.
Indonesia Raya yang mereka nyanyikan pun ditampilkan dalam bahasa isyarat. Tanpa suara. Tapi, siapa pun yang hadir Sabtu siang lalu di Balai Kota Banjarmasin tak akan bisa menyangkal semangat dan keseriusan mereka dalam "bernyanyi".
Tak heran kalau Siti dan beberapa undangan lain tak kuasa menahan haru. "Bagian tersulit adalah menyelaraskan tempo lagu. Ketika temponya cepat, tangan kami kesulitan mengiringinya," ungkap Rini Hayati, salah seorang anggota paduan suara.
Rini mengaku lebih senang menggunakan istilah "mendengarkan getaran" ketimbang "merasakan getaran". "Kami berlatih keras selama dua pekan," katanya melalui perantara Shintya Subhan, guru SDN Banua Anyar 8 Banjarmasin.
Rabiatul Adawiyah, personel paduan suara lainnya, mengaku girang bisa tampil di depan orang banyak. Sekaligus tentu bangga akhirnya bisa menyanyikan lagu kebangsaan. "Kami tidak perlu merasa malu," tuturnya.
Dalam kesehariannya, Rini dan Rabiatul aktif di Gerakan Kesejahteraan Tuli Indonesia Cabang Banjarmasin. Rini adalah ketua dan Rabiatul bendahara organisasi. Salah satu kegiatan organisasi tersebut ialah memberdayakan kawan-kawan tuli mengolah kerajinan tangan. Misalnya miniatur rumah adat Banjar dengan mendaur ulang logam sisa material konstruksi.
Latihan paduan suara bahasa isyarat itu dilakukan di sela-sela kegiatan harian mereka tersebut. Rini yang berperan meyakinkan rekan-rekannya sesama penyandang disabilitas bahwa mereka bisa.
Maklum, awalnya banyak kawannya yang berasal dari berbagai latar belakang itu yang merasa tak percaya diri. Atau malu karena tidak pernah bernyanyi di depan orang banyak sebelumnya.
Tapi, Rini dengan bantuan Rabiatul perlahan berhasil meyakinkan mereka. Dia pula yang melatih sendiri rekan-rekannya tersebut. "Hambatan utama kami adalah pendengaran. Untuk mendapatkan tempo lagu, kami kemudian berlatih dengan mendengarkan getaran," katanya.
Sebagai ucapan terima kasih kepada Pemkot Banjarmasin atas kesempatan yang diberikan, grup itu kemudian diberi nama Paduan Suara Bahasa Isyarat Baiman. Mencomot semboyan yang kerap digaungkan Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina dan wakilnya, Hermansyah.
Bentuk dukungan lain kepada kalangan difabel dari istri wali kota Banjarmasin Siti Wasilah juga ditunjukkan dengan memenuhi tantangan Koordinator Sapda (Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak) Fatum Ade. Fatum menantang tamu peringatan Hari Disabilitas Internasional 2018 untuk merasakan pengalaman sebagai penyandang disabilitas. Meskipun hanya dalam hitungan menit.
Selain Wasilah, Danramil 1007-03/Banjarmasin Barat Mayor Czi Tandra Wideru turut menjawab tantangan tersebut. Mata Tandra ditutup rapat dengan seikat kain hitam. Selayaknya orang buta, dia harus berjalan dengan menggunakan bantuan sebilah tongkat.
Andaikan langkahnya tak dihalangi, Tandra sudah pasti menabrak kotak-kotak pengeras suara di samping panggung siring. "Meski cuma beberapa menit, saya merasakan dunia berubah menjadi sangat terbatas. Mau berjalan maju saja sulit dan takut," ungkapnya.
Sementara itu, Wasilah memilih kursi roda. Dia menjajal ram (tanjakan miring) yang berada di samping bibir panggung. Saat turunan, Wasilah melaju dengan mulus. Tapi, saat tanjakan, Wasilah dibuat ngos-ngosan. Baru setengah perjalanan, Wasilah sudah meminta suaminya, Ibnu Sina, membantu mendorong. "Ya Allah, berat banget!" ucapnya.
Bagi Fatum, pengalaman lima menit itu penting untuk memahami posisi penyandang disabilitas. Fatum sendiri pengguna tongkat kruk. "Banyak yang nyinyir. Buat apa ram? Apalagi itu namanya guiding block? Fasilitas untuk difabel sering disebut pemborosan anggaran. Nah, sekarang mereka tahu betapa pentingnya ini bagi kami," tegasnya.
Said Khaidir, anggota paduan suara lainnya, juga mengalami sendiri sulitnya mendapatkan pekerjaan berbekal ijazah dari sekolah luar biasa (SLB). Pada 2014 Said lulus dari SLB Dharma Wanita. Bermodal ijazah dari sekolah di Jalan Dharma Praja, Banjarmasin, tersebut, dia memberanikan diri melamar pekerjaan ke salah satu rumah sakit swasta di Banjarmasin. Dia melamar menjadi office boy sekitar 2016.
"Sekarang sudah akhir 2018, tak kunjung ada panggilan kerja. Saya paham, mereka mungkin takut mempekerjakan orang tuli," ujar Said yang kini menyibukkan diri dengan membantu usaha milik orang tuanya.
Pengalaman tampil bernyanyi di depan publik pada Sabtu lalu, menurut Rabiatul, turut membantu kepercayaan dirinya dan rekan-rekan. Mereka pun tak mau berhenti di sana. Rabiatul bertekad mempelajari beberapa lagu lainnya. "Kami juga sedang mempelajari teater sunyi. Ini bukti bahwa teman-teman tuli bisa berkarya dengan caranya sendiri, bernyanyi dalam sunyi," tuturnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
