Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 10 November 2018 | 18.38 WIB

Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Tempat Lukisan Binatang Tertua Dunia

Lukisan tangan di Gua Bloyot di kawasan Karst Sangkulirang - Image

Lukisan tangan di Gua Bloyot di kawasan Karst Sangkulirang


"Di sini (Sangkulirang) rencananya ada tiga gua yang akan dilakukan upaya konservasi. Gua Tewet, Liang Karim, dan Gua Tamrin," terang Edy.


Dibutuhkan sekitar tiga jam untuk mengarungi sungai yang merupakan habitat buaya menuju base camp BPCP Kaltim di tepi kanan Sungai Marang dan di kaki Gunung Gergaji.


Mengutip situs Kemendikbud, Gua Saleh merupakan bagian dari kompleks Gunung Gergaji yang terletak di lereng timur punggungan Bukit Batu Raya. Pada awalnya gua itu bernama Gua Jeriji. Tapi, selanjutnya dinamai Gua Saleh untuk menghormati salah seorang penunjuk jalan lokal yang bernama Saleh.


Gua Saleh ditemukan pada 1998 dengan ruang gua yang cukup luas. Dan, penyebaran gambar-gambar yang ada di ruang utama serta anak-anak gua. Gambar yang ditemukan terdiri atas cap tangan, fauna (banteng dan rusa), serta trek perburuan.


Dari base camp BPCP, Gua Tewet yang paling mudah dijangkau. Kurang dari satu jam berjalan. Naik dan memanjat tebing setinggi 15 meter. Gua itu kali pertama diidentifikasi tiga penjelajah dan arkeolog.


Dua asal Prancis, yakni Luc Henri Fage dan Jean Michel Chazine. Plus peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) Pindi Setiawan pada 1999. Atas petunjuk seorang speleolog (orang yang mempelajari ilmu tentang gua) lokal, Tewet.


Di Gua Tewet, seni cadas mencapai kesempurnaan, seperti dibuktikan lukisan luar biasa ini. Semacam pohon kehidupan yang menghubungkan, dengan garis lengkung penuh corak bunga, tangan dihiasi tanda. Itu adalah puncak karya tulis tangan yang dikombinasi, didampingkan, dihubungkan. Tak pelak lagi estetis, mengusung emosi, dan menggegerkan.


Sedangkan jalur menuju Gua Liang Karim ada dua. Pertama melalui Gua Tewet. Memutar dan terjal. Lewat jalur ini bisa mampir ke Gua Pindi.


Gua Pindi juga punya garca, tapi telah rusak. Yang juga terancam akibat penurunan badan gua. Diduga karena salah satu pilar penyangga gua patah. Dari gua itu puncak Gunung Tandoyan terlihat megah.


Rute lain melalui jalur kiri. Itu adalah rute utama. Telah ada papan petunjuk yang dipasang. Namun, rute tersebut bisa membuat pendaki amatir putus asa. Dengan kemiringan 80 derajat. "Jalur ini berbahaya kalau hujan. Licin," kata Edy.


Sayang, ancaman kerusakan lingkungan besar telah menunggu kawasan Sangkulirang-Mangkalihat. Stepanus Gung dan Satriadi, dua jupel yang ikut dalam rombongan, bercerita, dari Hambur Batu, di sisi kiri Sungai Bengalon hingga ke hulu Sungai Marang, telah dikuasai berbagai perusahaan. Dari yang berstatus hutan tanaman industri (HTI), perkebunan sawit, hingga yang paling membuat masyarakat setempat khawatir, tambang batu bara.


"Tiga tahun lalu sudah ada eksplorasi dari perusahaan batu bara. Itu pondoknya," tunjuk Stepanus ke salah satu bangunan ulin.


Meski saat ini tambang batu bara belum beroperasi, apabila terjadi pembukaan lahan secara masif di dekat karst, dikhawatirkan garca di dalam gua terpengaruh.


"Suhu yang paling berpengaruh. Panas di tubuh manusia saja dari kajian kami bisa merusak gambar," ungkap Edy.


Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim Pradarma Rupang menyatakan, ada 37 izin usaha dan lokasi usaha yang menancapkan taringnya di kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat. Dari izin usaha pertambangan (IUP), perkebunan sawit, karet, hingga HTI.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore