Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Mei 2018 | 19.15 WIB

Pesantren Al Hidayah, Tempat Deradikalisasi Anak-Anak Teroris (1)

Khairul Ghazali, Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Deli Serdang Sumatera Utara sedang memberikan arahan kepada para santri yang merupakan anak mantan teroris pada Senin (21/5) - Image

Khairul Ghazali, Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Deli Serdang Sumatera Utara sedang memberikan arahan kepada para santri yang merupakan anak mantan teroris pada Senin (21/5)


Saya memegang betul pesan itu. Saya memilih menyemangati mereka dengan menceritakan betapa banyak tokoh negeri ini yang dididik di pesantren. Di antaranya, mantan Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi (almarhum), mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, serta Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid.


Karena itu, tak ada alasan untuk bermalas-malasan. Saya juga berbagi pengalaman selama menjadi santri dan pentingnya menuntut ilmu. Pesantren memberikan ilmu dasar yang akan menjadi modal bagi para santri untuk terjun ke masyarakat.


Belajar dan harus terus belajar. Menghafal mufrodat, kosakata bahasa Arab, menjadi kewajiban. "Setiap hari menghafal tiga mufrodat,’’ kata saya.


Selain bahasa Arab, ilmu lain juga sangat penting. Semua ilmu akan sangat bermanfaat ketika lulus dari pesantren.


Setelah menjelaskan panjang lebar dunia pesantren, saya pun bertanya apa yang menjadi cita-cita mereka. Mereka pun saling bersahutan. ’’Ingin jadi tentara,’’ ucap salah seorang santri. Ada pula yang bercita-cita menjadi polisi, guru, dan pengusaha.


Tibalah pada sesi pertanyaan. Seorang santri pun mengacungkan tangan. Saya mendekatinya. "Bagaimana hukumnya membunuh orang?" ucapnya datar.


Saya menjawab, dengan hati-hati tentu saja, bahwa membunuh orang dilarang oleh agama maupun negara. Dalam Islam, membunuh seseorang dilakukan hanya dalam keadaan perang.


Nabi Muhammad pun menetapkan syarat-syarat yang cukup ketat ketika perang. Yaitu, tidak boleh membunuh perempuan, anak-anak, maupun lansia serta tidak boleh merusak tempat ibadah, bahkan tidak boleh menebang pohon.


’’Bagaimana hukumnya membunuh orang kafir?’’ sahut siswa yang lain.


Saya pun menjelaskan, selama mereka tidak memerangi kita, tidak boleh membunuh orang nonmuslim. Apalagi, Indonesia tidak hanya ditinggali orang Islam. Tapi juga masyarakat beragama lain. Harus hidup berdampingan, saling menghormati dan tolong-menolong.


’’Dalam Islam dikenal ukhuwah islamiyah, persaudaraan sesama muslim; juga ada ukhuwah watoniyah, persaudaraan sesama anak bangsa; serta ukhuwah basyariah, persaudaraan kemanusiaan,’’ terang saya.


Penjelasan itu, tampaknya, menjawab pertanyaan yang mereka ajukan. Sampai kemudian seorang santri lain bertanya lagi. ’’Ustad sudah hafal berapa juz?’’ tanya dia.


Itu pertanyaan yang sulit dijawab, hehehe...


***


Sudah banyak pejabat yang berdatangan ke Pondok Pesantren Al Hidayah. Termasuk para petinggi BNPT.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore