Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 Maret 2018 | 20.10 WIB

Di Balik "Dapur" Pengatur Lalu Lintas Pesawat di Bandara Soetta

Lestari Catur Wulandari Rini saat berada di Ruang TWR ATC Bandara Soekarno Hatta - Image

Lestari Catur Wulandari Rini saat berada di Ruang TWR ATC Bandara Soekarno Hatta


Berhadapan dengan pesawat yang hanya berbentuk titik dan kode di monitor, air traffic controller dituntut bisa berkonsentrasi penuh. Untuk itu, saat akan bertugas, mereka selalu diperiksa dokter. Tiap enam bulan sekali juga harus menjalani uji kompetensi.


FERLYNDA PUTRI, Tangerang


---


ADA 10 orang yang bekerja di ruangan itu. Masing-masing berfokus dengan mikrofon, layar, dan kertas-kertas laporan yang besarnya hanya selebar penggaris Mereka harus mencatat dan memonitor pesawat yang berada di sekitar bandara. "Harus hafal lokasi parkir, taxiway, runway," ungkap Lestari Catur Wulandari Rini, salah seorang air traffic controller (ATC).


Senin tiga pekan silam itu (19/2), Jawa Pos berkesempatan mengintip "dapur" para petugas pengantur lalu lintas pesawat di Bandara Soekarno Hatta (Soetta), Tangerang. Mereka memang seperti bekerja di balik layar. Jarang disorot.


Padahal, mereka memainkan peran vital dalam keselamatan penerbangan. Dan, karena itu, dituntut konsentrasi sangat tinggi.


Untuk yang bertugas di Soetta, tantangannya malah lebih berat. Sebab, Soetta adalah bandara yang sangat sibuk. Terpadat ketiga di dunia. Hanya kalah dari Hartsfield-Jackson Atlanta International Airport dan Beijing Capital International Air­port. Dalam satu jam maksimal ada 81 kali pergerakan pesawat di Soetta. Bahkan, pemerintah berencana menambah slot menjadi 100 kali pergerakan.


Di Soetta, para ATC atau pengatur lalu lintas udara dibagi dalam tiga bagian. "Bagian tower (TWR), approach control (APP), dan area control center (ACC)," tutur Rini yang mendampingi Jawa Pos berkeliling.


Peraturan pertama untuk masuk ke ruang kerja ATC adalah mengheningkan telepon. Sebab, mikrofon yang digunakan untuk berkomunikasi dengan pilot sangat peka dengan suara.


Peraturan kedua adalah tidak boleh mengajak ngobrol yang sedang bekerja. Mereka harus benar-benar fokus karena berkaitan dengan keselamatan pesawat. Ketiga, tidak boleh memotret dengan menggunakan flash. Cahaya dari flash bisa memecah fokus juga.


TWR berada di bagian paling atas tower. Jika dilihat dari luar, ruang kerja TWR mirip gardu pandang. Kaca-kaca besar mengelilingi ruangan tersebut. Petugas di situ memang bertugas memantau pesawat yang bisa terlihat dengan mata. Biasanya pesawat yang hendak landing, take off, dan sedang parkir.


Perempuan 43 tahun yang menjabat supervisor APP itu mencontohkan pesawat Lion Air yang kebetulan akan parkir. Dari pantauan mata, terlihat ada garis bertulisan A1, A2, hingga A7.


A1, A2, hingga A7 itu merujuk pada slot parkir. Pesawat Boeing tersebut akan parkir ke A6. "Berarti harus ada komunikasi dengan pilot agar pesawat itu parkir dan di sekitarnya tidak boleh ada pergerakan. Takutnya tidak cukup dan senggolan," jelasnya.


Sementara itu, untuk daerah yang tidak terlihat dengan mata, misalnya sekitar Terminal 3 Soetta, petugas mengandalkan CCTV. Nah untuk pesawat yang akan mendarat, petugas biasanya melihat dari monitor.


Di monitor, pesawat hanya berbentuk titik dan kode yang berupa angka serta huruf. Biasanya terdiri atas kode pesawat, ketinggian dan kecepatan, serta datang atau pergi.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore