Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 25 Oktober 2017 | 01.24 WIB

Ni Luh Komang Ayu, Disc Jockey (DJ), dan Julukan Pengacara Malam

DUA DUNIA: Ni Luh Komang Ayu menjalani dua profesi sebagai pengacara dan DJ. - Image

DUA DUNIA: Ni Luh Komang Ayu menjalani dua profesi sebagai pengacara dan DJ.


Pengalaman seperti itu tidak sekali atau dua kali terjadi. Sering, bahkan hampir setiap klien yang berkaitan dengan narkoba kenal dengannya. Terlebih, Ayu merupakan pengurus Persatuan Disk Jockey Indonesia (PDJI) wilayah Jatim. ’’Tapi, saya tetap menjaga kehormatan profesi saya,’’ katanya.


Saking dekatnya dengan dunia malam dan para tersangka narkotika, Ayu mendapat julukan baru. Salah seorang penyidik di Polrestabes Surabaya sampai memanggilnya pengacara malam. Tanpa diduga, panggilan itu pun populer. ’’Sampai sekarang saya sering disebut pengacara malam,’’ ungkap perempuan yang juga humas DPD Partai Demokrat Jatim itu.


Meski begitu, dia nyaman dengan julukan tersebut. Apalagi, Ayu yang yang memulai karir di dunia DJ pada 2015 itu menilai profesi DJ bukan hal negatif. Dia mengenal DJ saat membela kasus Aditya Wahyu Budi Hartanto. Aditya merupakan DJ yang meninggal akibat pengeroyokan di kawasan Ngagel. ’’Saya mendapat kesempatan menjadi kuasa hukum keluarga,’’ katanya.


Dia menceritakan beberapa polemik kasus yang menewaskan DJ muda tersebut. Kala itu beredar kabar bahwa korban pulang dalam kondisi mabuk dan mengalami kecelakaan tunggal. Kesan bahwa DJ selalu dekat dengan alkohol pun cukup kental. Karena itu, ada cibiran terhadap meninggalnya Adit.


Ayu lantas terpanggil untuk mendalami kasus tersebut. Apalagi, wakil ketua Forum Komunikasi Putra Purnawirawan TNI dan Polri (FKPPI) Surabaya itu merasa memiliki ikatan emosional. DJ Adit tinggal di kompleks TNI. ’’Saya yang juga keluarga besar TNI ingin membantu keluarga yang ditinggalkan,’’ ucapnya.


Dia lalu mengawal kasus tersebut mulai dari penyidikan hingga persidangan. Saat menangani kasus itu, Ayu semakin paham dengan dunia DJ. Dia kenal dengan beberapa DJ di Jawa Timur. Kesan negatif terhadap profesi DJ tidak selalu benar. ’’Saya merasa eman. Banyak kesan positif yang justru tidak tersampaikan,’’ ucapnya.


Anggapan masyarakat bahwa seorang DJ merupakan dunia malam juga tidak benar. DJ selalu lekat dengan diskotek atau pub pun tidak selalu benar. Ada DJ yang hanya tampil di pesta tertentu. DJ juga tidak selalu tampil saat malam. Semua bergantung permintaan panitia.


Dari pemahaman itu, keinginannya untuk mempelajari keahlian sebagai DJ pun tumbuh. ’’Saya kursus mengoperasikan dan menggunakan alat itu,’’ tutur perempuan yang tinggal di kawasan Wiyung, Surabaya, tersebut.


Kursus singkat itu dijalani dalam hitungan minggu. Ayu berhasil menguasai teknik dasar seorang DJ. Antara lain, memilih lagu, menggabungkan lagu, narasi lagu yang disajikan, hingga cara menghibur audiens.


Awalnya, kursus tersebut hanya untuk menambah keterampilan. Karena itu, dia tidak pernah membayangkan bakal tampil di depan umum dan menghibur banyak orang. ’’Semula hanya pesta tertentu yang mengundang saya tampil,’’ ujar perempuan yang sedang mengikuti program magister humaniora di Universitas Bhayangkara itu.


Bisa jadi, mereka yang mengundang Ayu tidak mengenal profesi yang sebenarnya. Namun, Ayu dikenal sebagai seorang DJ yang tergabung di PDJI Jawa Timur. Meski begitu, dia tetap nyaman dengan pekerjaannya saat ini.


Kini Ayu atau Sayu tetap menjalani aktivitasnya seperti biasa. Ketika pagi dia sibuk dengan persoalan hukum dan politik. Saat malam, kesan trendi dan gaul melekat pada diri Sayu.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore