
PRODUKTIF: Irwan Prayitno dan buku Pantun Spontan ala Irwan Prayitno Jilid I di rumah dinas gubernur Sumbar (14/9) di Padang.
”Pada 12 Februari 2016 saya dilantik kembali menjadi gubernur Sumbar (untuk periode kedua). Nah, sehari kemudian, ketika sertijab dengan Pj (penjabat) gubernur, saya mulai berpantun,” terangnya.
Sejak itu produktivitas penyuka badminton tersebut terus mengalir. Di berbagai acara, misalnya saat melantik bupati/wali kota, dia selalu menyelipkan pantun di sela sambutan.
Begitu pula ketika berkomunikasi dengan anak buahnya di Pemprov Sumbar melalui grup WA. Dia tak berpantun dengan mereka hanya ketika bertatap muka langsung.
”Kalau tidak ingin saya berpantun, tidak usah undang saya menghadiri kegiatan,” kelakar Irwan.
Tak heran kalau kemudian penghobi motor trail itu bisa sampai membukukan karya-karyanya sebanyak enam jilid. Dan, semuanya telah pula mendapat sertifikat hak cipta dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM). Diserahkan langsung oleh Kepala Kanwil Kemenkum HAM Sumbar Dwi Prasetyo Santoso.
Ketika merangkai bait-bait pantun, IP selalu menyesuaikan dengan tema kegiatan yang akan dihadiri. Dimulai selepas salat Subuh, setelah ajudan memberikan daftar agenda yang akan disambanginya hari itu.
Lantas, sambil menuju lokasi, IP memastikan siapa-siapa saja yang menghadiri acara. Sesampai di lokasi, untuk membuat pantun spontan penghormatan, Irwan terlebih dahulu memperhatikan hal yang paling menarik dari seluruh undangan.
Misalnya, banyak yang berkacamata, memakai baju batik, atau baju merah, IP pasti akan mengulasnya dalam bait pantun penghormatan.
”Jadi, itu memang betul-betul spontan. Kalau sampai lama saya menunggu untuk memberikan sambutan, bisa sampai 60 pantun selesai,” katanya.
Penghormatan hanyalah satu di antara beberapa tahapan dalam pola pantun IP. Pertama-tama hanya untuk sambutan terima kasih, lalu selamat datang, dan lama-kelamaan masuk ke isi atau konten sehingga jadinya lengkap.
”Sekarang pantun saya itu ada lima urutan. Mulai pembukaan, penghormatan, pengantar, isi, hingga penutup,” katanya.
Respons pun berdatangan atas produktivitas Irwan berpantun. Ada yang mengkritik pola pantunya salah. Tidak sesuai dengan tradisi pantun di Minangkabau.
Tapi, Irwan mengaku tak menghiraukan kritikan seperti itu. Bagi dia, yang terpenting adalah kreativitas yang terus terasah dengan berpantun.
Selain itu, menurut dia, seni selalu mengalami kemajuan sesuai kreasi. Kecuali pantun adat yang jelas-jelas ada aturannya sehingga tidak boleh sembarangan diganti dengan pola lain. ”Pantun saya kan untuk motivasi, komedi, dan pesan kepada orang lain,” kata Irwan.
Akhirnya, sebagai jalan tengah, Irwan pun menamai karya-karyanya Pantun Spontan ala Irwan Prayitno.
Jadi, lanjut dia, kalau ada yang bilang pantunnya tidak sesuai standar Minang, dia bisa gampang menjawab. ”Kan itu (pantun) ala IP,” terangnya, lantas terbahak.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
