Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 Agustus 2017 | 10.02 WIB

Suka Makan Darah Sapi, Sehari 37 Nyawa Orang Meregang Ditangannya

Ilustrasi pembantaian yang dilakukan Wirdjo. - Image

Ilustrasi pembantaian yang dilakukan Wirdjo.

JawaPos.com - Kisah nyeleneh Wirdjo muda yang dikenal sebagai si pembantai asal Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) ternyata masih sangat diingat oleh sang Paman Sutedjo yang saat itu hidup bersamanya. Meskipun beda rumah.


Nama Wirdjo ternyata masih sangat menempel kuat di ingatan masyarakat Banyuwangi di tahun 1987. Pasalnya, Wirdjo telah menewakan belasan orang dan melukai puluhan lainnya. Tragedi itu terjadi pada 12 Juli 1987. 


Masih dalam penelusuran Tim Radar Banyuwangi (JawaPos Group) Jejak Wirdjo ini dikupas lewat sang paman, Sutedjo yang bertutur langsung soal jejak hidup Wirdjo. 


Selain tempramental dan berprilaku tidak seperti pemuda kebanyak, Wirdjo juga ternyata memiliki selera makan yang tak normal. 


Wirdjo pernah menanak nasi dari lima kilogram (5 Kg) beras. Bermodal satu botol minyak goreng, dia kemudian memasak nasi goreng dari hasil menanak nasi 5 Kg itu.


Ajaibnya, nasi goreng segunung itu pun habis disantap Wirdjo seorang diri. Meski akhirnya, kebanyakan makan membuat dirinya tidak bisa jalan karena kekenyangan. “Saya bilang harus berendam di air sungai biar kenyangnya hilang,” ujarnya.


Bahkan, dalam sebuah kesempatan, selera makan yang meledak-ledak ini nyaris membuat pemilik warung di sekitaran Perliman (simpang Lima) saat itu takut nasinya tidak terbayar. Wirdjo yang makan bersama sang paman mampu menghabiskan hingga lima bungkus nasi dalam waktu cepat.


Bahkan satu piring makanan dedeh (darah sapi beku yang dimasak) juga disukainya. Rasanya yang empuk, rupanya juga mengundang selera makannya.


Sutedjo pun hanya bisa mengelus dada kala itu, saat melihat proses makan Wirdjo. “Dia orangnya keras tapi ada nyelenehnya. Saya kalau ingat itu suka ketawa sampai sekarang,” kenangnya.


Sementara itu, alat yang digunakan Wirdjo untuk membantai puluhan orang di berbagai kampung pada hari nahas itu ternyata bukan celurit. Masyarakat Suku Osing, khususnya di Kampung Watu Buncul menyebut senjata itu jombret.


Bentuknya menyerupai parang. Bedanya alat ini lebih tipis dan memanjang. Tepat gi ujungnya, ada bagian yang melengkung sedikit. Di kalangan petani, jambret sering digunakan untuk memotong rumput.


Alat inilah yang digunakan Wirdjo saat kalap dan melukai puluhan orang di tahun 1987 silam. Sutedjo hanya mengingat kejadian yang melibatkan keponakannya itu terjadi sekitar bulan April 1987.


Tanggal pastinya dia lupa. Namun petunjuk atas insiden berdarah itu kemudian ada di makam Wirdjo  yang letaknya ada di makan keluarga.


Di batu nisan yang tertulis tanggal wafat Wirdjo pada tanggal 16 April 1987. “Yang pasti sebelum tanggal itu. Sebab setelah ditemukan gantung diri, dia sempat diinapkan di kamar mayat rumah sakit (RSUD Blambangan) selama semalam,” beber Sutedjo.


Lewat keterangan Sutedjo ini pula, penyebab Wirdjo berubah jadi sang pembantai mulai terkuak. Sinyal akan datangnya tragedi berdarah itu muncul saat Wirdjo mengasah jombret miliknya. 

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore