Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 8 Juli 2017 | 18.08 WIB

Toha Putra, Ahli Taksidermi (Pengawet Satwa) Kebun Binatang Surabaya

AHLI: Toha Putra bersama satwa yang diawetkan. - Image

AHLI: Toha Putra bersama satwa yang diawetkan.


Di tangan Toha Putra, satwa-satwa mati serasa mendapatkan kehidupan kedua. Melalui tangan Toha Putra, Kebun Binatang Surabaya (KBS) bisa punya koleksi satwa-satwa awetan nan apik di gedung diorama.





SALMAN MUHIDDIN, Surabaya





GEDUNG diorama itu bak secret zoo. Kebun binatang rahasia. Cobalah cari sendiri tanpa bertanya-tanya saat berkunjung ke KBS. Niscaya, susah banget ketemunya.



Gedung diorama ditutup tiga tahun lalu. Untuk melihatnya, Anda harus menerobos dinding seng yang menutupi gedung persegi delapan tersebut.



Jangan masuk tanpa izin. Pengunjung bisa ditangkap petugas keamanan. Banyak koleksi satwa yang punya nilai sejarah di sana. Bagi yang penasaran, tunggu saja. Sebab, KBS sedang berupaya menghidupkan kembali tempat itu tahun ini.



Jawa Pos mendapatkan kesempatan masuk. Ahli taksidermi Toha Putra dan Laily Widya Arishandi, humas KBS, turut mendampingi. Awalnya, Toha tidak mau menunjukkan tempat tersebut karena kondisinya belum diperbaiki.



Namun, dia akhirnya mau juga diajak jalan-jalan Selasa (4/7). Syaratnya, tidak mengambil gambar. ”Pokoknya jangan difoto ya mas. Nanti saja kalau sudah jadi. Biar surprised,” harap pria asal Malang itu mewanti-wanti.



Setelah mengobrol di perpustakaan KBS, kami berjalan ke arah timur laut. Gedung diorama tersebut berlokasi di sebelah zona akuarium. Ada jalan setapak menuju tempat itu. Melewati kolam penyu dan buaya.



Toha berjalan paling depan. Dia membuka tutup seng di salah satu sudut gedung, lalu mempersilakan kami masuk. Nuansa nostalgia menyeruak. Tak banyak orang yang tahu keadaan tempat itu setelah ditutup. Termasuk Laily. ”Dulu pernah ke sini, tapi masih TK,” kata perempuan yang mengabdi di KBS selama enam bulan tersebut.



Bak laboratorium Jurassic Park yang diacak-acak dinosaurus, beberapa bagian plafon tempat itu jebol. Sinar matahari masuk di sela-sela atap. Cahaya matahari yang terbatas tersebut tidak bisa diandalkan. Lampu ruangan tidak berfungsi karena listrik yang mengaliri tempat itu sudah diputus.



Kami gunakan alat penerangan seadanya: lampu senter handphone. Langkah kaki kami bergerak perlahan-lahan menghindari jaring laba-laba. Suasana begitu hening. Suara ramainya pengunjung di luar terdengar samar-samar.



Terdapat binatang-binatang yang diawetkan dalam kotak kaca. Agak buram memang. Debu-debu sudah terlalu lama dibiarkan. Wujud binatang itu baru terlihat ketika jidat ditempelkan ke dinding kaca. Terlihat begitu hidup. Terutama saat melihat bagian mata.



Pokoknya, jangan sampai mata-mata itu berkedip. Bisa gawat. Bisa-bisa adegan di film Jurassic Park terjadi di KBS. Bukan dikejar dinosaurus, tapi gorila bernama Makua yang legendaris tersebut.



Sebelum memasuki ruang utama, kami disuguhi koleksi kerangka dugong atau putri duyung. Terletak tepat di depan pintu masuk. Itu adalah koleksi duyung KBS terakhir yang dimiliki.



Sepintas, anatomi tubuh hewan tersebut memang mirip manusia. Terutama bagian dada dan tangan. Terlihat tulang yang mirip jari jemari manusia. ”Ini karya Pak Sueb dan kawan-kawan. Takdisermi senior yang sudah pensiun,” jelas Toha, lalu berjalan ke ruang utama.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore