Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 6 Juli 2017 | 22.51 WIB

Personel Efek Rumah Kaca Adrian Yunan yang Berkarya dalam Gulita

MOTIVASI BERKARYA: Adrian Yunan Faisal dan sang putri, Rindu, di Jakarta (20/7). - Image

MOTIVASI BERKARYA: Adrian Yunan Faisal dan sang putri, Rindu, di Jakarta (20/7).



Karena itulah, dokter pun melakukan treatment ’’pemungkas’’. Menyuntikkan obat langsung ke saraf mata. Meski, itu tidak menjamin akan pulih total.
Sepulang dari Singapura, kondisi mata Adrian lumayan membaik. Begitu pula fisiknya. Dengan bersemangat dia turut serta dalam tur ERK ke sembilan kota.



Namun, setelah kota ketujuh, Adrian kembalingedrop. Dia masih memaksakan untuk bisa menyelesaikan manggung di dua kota terakhir.



Dampaknya, beberapa hari setelah pulang tur, Adrian terbangun tanpa cahaya. Gelap di mana-mana. ’’Itu kali pertama saya merasakan tanpa penglihatan sama sekali,’’ ucapnya getir.



Sedih, terpukul, dan frustrasi. Bukan hanya fisiknya yang drop, mental pun terjun bebas. Kepala seperti ditarik-tarik, nyeri, terutama di sekitar mata.



’’Saya nggak bisa naruh kepala di bantal karena sakit banget. Kalau sampai bisa tidur, itu karena saking capeknya merasakan sakit,’’ ungkap dia.



Adrian juga tak mampu menulis lagu. Gitar memang diletakkan di samping tempat tidur, menunggu untuk disentuh. Namun, Adrian tidak sanggup.



’’Saya bed rest total. Rasanya sudah dekat (dengan ajal),’’ kenangnya dengan lirih.



Hari beranjak siang. Rindu masih asyik bermain dengan balonnya. Masih menggelayut manja. Adrian mengusap lembut rambut si upik jantung hatinya itu.



Kenangan Adrian seolah terbang ke masa-masa ketika mimpi-mimpinya terasa hancur karena penglihatan yang hilang itu. Sebab, musik dan ERK adalah hidupnya.



Dia pun kembali memeriksakan kondisinya di rumah sakit yang berbeda dengan rumah sakit pertama pada 2005 di Jakarta. Ternyata, dia mendapat diagnosis yang lagi-lagi berbeda. Yaitu, Behcet disease, penyakit yang melemahkan saraf dan paling sering menyerang mata.



Dipengaruhi faktor genetik yang kebanyakan diderita keturunan Arab dan Tionghoa. Memang, dari garis ibu, beberapa keturunan ke atas ada yang berdarah Tionghoa. Namun, tidak ada yang mengalami gangguan penglihatan seperti itu.



Berada di antara tiga diagnosis berbeda itu tentu saja membuat Adrian bimbang. ’’Namun, sejujurnya saya lebih condong kena virus,’’ ucapnya.



Dukungan keluarga, terutama sang istri tercinta, membuat Adrian perlahan berusaha bangkit. ”Walau nggak bisa baca, saya masih bisa main bas,’’ ujarnya.



Lagu Sebelah Mata yang ditulisnya diambil dari apa yang dia rasakan saat hanya menggunakan mata kanannya untuk melihat. Betapa segala yang tertangkap matanya menjadi demikian berharga. Termasuk, sebagaimana termaktub dalam lirik, sebercak warna sekalipun.



Peran sang istri sangat besar dalam kembali berkaryanya Adrian. Yonita yang tak punya latar belakang musik mau mempelajari dari nol.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore