
HARI PERDANA: Armand van Kempen melintasi Jembatan Suramadu. Di belakangnya ada Piet van Kempen yang juga menjadi navigator.
Oleh karena itu, jet ski memang harus dikendarai dengan sangat hati-hati. Apalagi melewati perairan yang penuh ”ranjau” seperti ini. ”Nanti kalau sudah sampai Situbondo atau Banyuwangi, sampahnya pasti udah nggak ada. Di sini memang keterlaluan sampahnya,” rutuk Armand yang geram.
Tanda-tanda jet ski yang kemasukan air diawali dengan tarikan gas yang sedikit bermasalah. Saat digas, mesin tidak mau melaju. Mesin pun bisa rusak.
Untuk menghindari itu, Armand memutuskan untuk menarik jet ski. ”Kita balik ke Poras (Poras Ditpolairud Polda Jatim, Red). Untuk sementara kita undur dulu,’’ tutur pria yang menggemari olahraga ekstrem sejak umur 19 tahun itu.
Jarak yang dia tempuh saat itu sudah mencapai 15 mil. Untuk kembali ke Poras Ditpolair, otomatis jarak yang ditempuh harus dikalikan dua. Sudah setengah jalan kami tempuh saat itu. Namun, apa daya, salah satu jet ski harus diperbaiki dengan segera.
Agung yang tidak bisa mengendarai jet ski-nya pun harus dievakuasi secepatnya. Armand berpikir keras untuk melakukan evakuasi. Sebab, jarak daratan dan tempat mereka berhenti masih lumayan jauh.
Untungnya, kondisi sedarurat apa pun sudah dia persiapkan sejak berada di darat. Tidak hanya membawa alat komunikasi dan penentu arah, dia juga menyiapkan beberapa perangkat yang terkesan tidak penting di awal. Tali berukuran sekitar 1 kilometer ditaruh di bagasi. ”Ikatkan talinya ke setir jet ski yang dikendarai Agung,” ujarnya.
Satu per satu mereka berbagi tugas. Armand memegang kendali. Piet van Kempen yang membonceng bertugas mengikat tali di bagian belakang jet ski-nya. Sementara itu, Agung harus mengikatkan tali yang dia terima ke setir. Saya dan Reno hanya menonton di tengah suasana kalut.
Tidak sampai lima menit, masalah pun teratasi. Tali yang mereka bawa diikatkan ke bagian setir jet ski yang dikendarai Agung. Ujung tali sisi satunya dikaitkan ke bagian belakang jet ski milik Armand.
Jet ski yang dikendarai Agung pun diseret kembali menuju ke daratan. Dengan kecepatan tinggi, mereka sampai di daratan dengan waktu yang lebih singkat.
Ketika dibongkar, sampah yang menyangkut di mesin jet ski itu tidak seberapa banyak. Hanya satu kantong plastik swalayan berukuran kecil dan satu bungkus mi instan. Namun, hal tersebut cukup membuat seluruh kru kelimpungan. ”Ini kalau tidak segera diperbaiki, nanti mesinya rusak lagi,” terang ayah tiga anak tersebut.
Satu jam sudah berlalu, jet ski yang tersangkut sampah itu kembali bisa beroperasi. Jam menunjukkan pukul 12.00 ketika mesin jet ski tersebut sudah diperbaiki. Kami pun memutuskan untuk kembali meneruskan perjalanan yang tersisa. Siang itu, kami menempuh 60 mil perjalanan.
Tiga jam perjalanan kami lalui. Akhirnya, kami sampai di kawasan Mlandingan, Situbondo, tepat pukul 15.00. Sungguh hari pertama yang sangat berat dalam perjalanan ke Labuan Bajo. (*/bersambung/c6/dos)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
