
PENGABDI: Samadi dan Syawaliah saat menerima penghargaan sebagai guru berdedikasi dari Kemendikbud di rumah dinas bupati Bengkalis (18/4).
Predikat pahlawan tanpa tanda jasa saja tak cukup untuk para guru. Apalagi untuk mereka yang berjuang dengan fasilitas minim di pedalaman. Syawaliah dan Samadi adalah representasi ribuan guru di pedalaman yang butuh perhatian lebih dari pemerintah.
SAHRUL YUNIZAR, Bengkalis
LUAS Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, 628,5 kilometer persegi. Nyaris sama dengan luas daratan Jakarta yang mencapai 661,52 kilometer persegi. Namun, jumlah sekolah di dua wilayah tersebut jauh berbeda.
Di Jakarta, jumlah sekolah mencapai ribuan. Namun, di Kecamatan Rupat Utara hanya ada 22 sekolah mulai tingkat SD, SMP, sampai SMA. Persebaran guru yang mengajar di wilayah itu pun minim. Data PGRI Kabupaten Bengkalis mencatat, hanya 96 guru yang bertugas di kecamatan tersebut. Syawaliah yang saat ini menjabat kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan Kecamatan Rupat Utara salah satunya.
Kali pertama mengajar, Syawaliah terdata sebagai tenaga honorer di SDN 2 Tanjung Medang. ”Mulai 1989,” kata dia ketika membagikan kisah hidupnya kepada Jawa Pos di Bengkalis bulan lalu (18/4). Status honorer perempuan kelahiran 10 Desember 1968 itu memang tidak bertahan lama. Hanya dua tahun bertugas, dia sudah diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS).
Cepatnya perubahan status itu berbeda dengan masa penempatan kerjanya di SDN 2 Tanjung Medang. Tidak kurang dari 24 tahun dia mengabdi di sekolah tersebut. ”Akhir 2013 baru dipindah,” kenang Syawaliah. SDN 2 Tanjung Medang memang berlokasi di ibu kota Kecamatan Rupat Utara. Namun, jangan bayangkan serupa dengan tanah Jawa.
Sampai saat ini, sebagian jalan di Kecamatan Rupat Utara belum diaspal. Masih mengandalkan hamparan batu di atas tanah. Meski mengkhawatirkan, bagi Syawaliah, kondisi jalan itu lebih baik. Jauh lebih bagus ketimbang ketika kali pertama dia mengajar. ”Dulu jalan masih tanah, susah lewat,” kata dia.
Belum lagi bila hujan mengguyur, tanah berubah menjadi kubangan lumpur. Kalau sudah begitu, Syawaliah semakin sulit untuk berangkat mengajar. Untung, ibu tiga anak itu lahir dan besar di Kecamatan Rupat Utara sehingga sudah terbiasa berhadapan dengan kendala alam. Bukan minta pindah tugas, semangatnya untuk mendidik generasi penerus dari kecamatan itu kian membubung.
Kesempatan pindah tugas ke ibu kota Kabupaten Bengkalis tidak dia indahkan. Bagi dia, lebih baik mengajar di Kecamatan Rupat Utara dengan peluh di sekujur tubuh ketimbang pindah tempat mengajar. Di samping asli dari Kecamatan Rupat Utara, dia kurang yakin bahwa ada guru lain yang bersedia ditugaskan di kecamatan tersebut.
Berkat tekad itu, Syawaliah berhasil mencetak anak-anak berpendidikan dari wilayah yang bersebelahan langsung dengan Selat Malaka tersebut. Meski tidak semua meneruskan pendidikan sampai perguruan tinggi, setidaknya mereka bisa mengeyam pendidikan sampai tingkat SMA. Tidak berhenti di tingkat SD atau SMP.
Berkat tekad itu pula, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengganjar Syawaliah sebagai salah satu guru berdedikasi yang puluhan tahun mengabdikan diri di wilayah perbatasan. Tempat yang jauh dari keramaian kota serta bersebelahan langsung dengan negara tetangga, Malaysia.
Lebih dari itu, Kecamatan Rupat Utara tempat Syawaliah bertugas termasuk daerah khusus di Kabupaten Bengkalis. Sebab, untuk mencapai kecamatan tersebut dari ibu kota kabupaten, harus dua kali menyeberang laut dan melalui perjalanan darat yang melelahkan. ”Kalau berangkat jam tujuh pagi, sampai Bengkalis jam tiga sore,” ungkapnya.
Artinya, sedikitnya dibutuhkan delapan jam untuk sampai di ibu kota kabupaten dari tempat Syawaliah bertugas. Ketika masih bertugas di sekolah, dia memang tidak sering bepergian ke wilayah itu. Namun, sejak tahun lalu tidak demikian.
Sebab, Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkalis memberi dia kepercayaan sebagai kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Rupat Utara. Alhasil, dia harus bolak-balik ke kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkalis di ibu kota kabupaten. Dia juga harus siap inspeksi ke seluruh SD dan SMP di Rupat Utara. Meski jumlah SD dan SMP hanya 18 unit, jangan berharap bisa menginspeksi seluruh sekolah itu dalam sehari. ”Tidak akan selesai,” imbuhnya.
Sebab, tidak semua sekolah dapat dijangkau dengan jalur darat. Beberapa sekolah harus disambangi setelah Syawaliah melintasi dua sungai yang bermuara di Selat Malaka. SD di Desa Kadur misalnya. ”Harus naik pompong, lewati dua sungai,” jelasnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
