Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 Maret 2017 | 20.11 WIB

Topa Jip dan Iwan Jip, Bangun Jip Militer Selama Lima Tahun

BARANG LANGKA: Iwan Jip (depan) menunggang Harley-Davidson WLA 41. Kanan, Topa Jip dan utility truck bekas US Marine Force. Belakang adalah Khalil Jip dan kendaraan bekas US Army. - Image

BARANG LANGKA: Iwan Jip (depan) menunggang Harley-Davidson WLA 41. Kanan, Topa Jip dan utility truck bekas US Marine Force. Belakang adalah Khalil Jip dan kendaraan bekas US Army.

Di garasi rumah Iwan, ada dua buah jip militer jenis utility truck. Tipe M151 A2. Keduanya dilengkapi berbagai perangkat operasi militer dalam berbagai skenario tempur. Semuanya orisinal dan masih berfungsi 100 persen. Dua jip itu favorit pejabat untuk properti arak-arakan.



TAUFIQURRAHMAN 



YANG membuat dua jip itu istimewa adalah kondisinya yang siap tempur. Mustofa alias Topa Jip dan Iwan Efendi alias Iwan Jip memang tak mau tanggung-tanggung. Mereka menginvestasikan waktu dan uang yang tidak sedikit. Karena itu, dua kendaraan tersebut tampak benar-benar seperti saat mereka beroperasi di hutan-hutan Vietnam pada 1955–1975.



Mobil yang cokelat tua metalik berseri kesatuan US Army. Yang kedua, hijau gelap, berasal dari US Marine Force. Iwan dan Topa membelinya pada 2011. Waktu itu masih berbentuk jip hutan pada umumnya.


Dengan sabar, keduanya mencari aksesori dan onderdil militer. Dengan sabar memesan dan mengantre dari supplier di Amerika.



Setelah lima tahun, dua mobil itu tampak benar-benar seperti masa jayanya dahulu.



Kaki-kaki dilengkapi pegas keong yang lentur. Kalau berjalan, suspensinya benar-benar lentur. Bannya tubeless. Tanpa ban dalam. Tepat di tengah as roda, terdapat ring untuk mengaitkan sebuah sling (tali besi) yang ditalikan ke helikopter. ”Jadi, jipnya diluncurkan dari udara langsung ke daerah musuh,” kata Iwan.



Meski peredam kejut kedua jip mati, Topa menggeber mobilnya di jalanan kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang rusak dan bergeronjal parah kemarin. Hasilnya, jalannya mulus. Minim guncangan. ”Tambah cepat, tambah empuk, ” kata Topa kemarin (24/3).



Mesin diesel 2.200 cc bertengger gagah di bawah kap depan. Semua komponennya dipercaya dibangun dari bahan komposit yang ringan dan tahan air. Tujuannya, jip itu bisa beroperasi dalam format semi-amfibi. Dirancang untuk bisa melaju dengan posisi terendam total.



Untuk mendukung peran itu, jip tersebut dilengkapi dengan deep water fording. Semacam snorkel raksasa tempat mesin bisa ”bernapas”. Tombol snork valve ditarik untuk mencegah air masuk ke karburator. Kedalaman air yang bisa dilalui jip itu hanya dibatasi oleh pucuk fording dan kepala si sopir. Tinggi fording bisa sampai 2 meter. Tinggal si sopir mau ngebut sambil kelelep atau tidak.



Tidak cukup itu, ada propeller (baling-baling) kecil di bagian bawah mobil. Menghadap ke belakang. Propeller tersebut berputar untuk menyediakan tenaga dorong bantuan pada roda saat melaju di bawah air. ”Propeller-nya berputar ikut gardan,” kata Anang, salah seorang kawan Iwan.



Interior dalam mobil ditaburi aksesori militer. Ada ratusan panel, kenop, sakelar, dan meter indikator. Di kursi belakang, ada sebuah stasiun radio mini yang dilengkapi dengan repeater sinyal.



Sebuah speaker khusus melekat di bawah jok. Cukup keras untuk didengar oleh seluruh kru dalam mobil. Sebagai cadangan, radio transmiter punggung terikat di belakang kursi pengemudi. Jika suatu saat jip tak bisa lagi meneruskan perjalanan, radio punggung bisa digendong ke mana-mana.



Karena bernama utility truck, keduajippunyasemuaperlengkapan agar mereka bisa survive secara mandiri. Ada mesin kompresor untuk pompa ban. Bisa juga berfungsi untuk vacuum. ”Katanya, kompresor juga bisa dibuat alat untuk operasi darurat prajurit yang terluka,” papar Iwan. Selain kompresor, masing-masing membawa mesin las sendiri.



Untuk mengatasi medan yang berat, di bumper depan terdapat alat towing (penarik) yang bisa menarik beban seberat 2 ton. Jika satu mobil dalam konvoi terperosok, mobil lain bisa menarik. Jika terperosok sendirian, tinggal melilitkan ujung towing ke pohon, kemudian mesin penggulung akan membantu menarik. Hanya, alat towing itu masih manual. Ditarik dan dikendalikan dengan semacam tuas tangan. ”Kalau yang pakai mesin, malah tidak seperti jip militer zaman itu,” kata Iwan.

Editor: Thomas Kukuh
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore