Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 9 Maret 2017 | 22.14 WIB

Hebohnya Minikonser Akon untuk Suku Anak Dalam dan Komunitas Adat Terpencil

KETEMU IDOLA: Para penonton berebut berfoto bersama penyanyi RnB Akon setelah konser mini di kantor Kemensos. - Image

KETEMU IDOLA: Para penonton berebut berfoto bersama penyanyi RnB Akon setelah konser mini di kantor Kemensos.



Menariknya, nada-nada tinggi dan cepat pun tak terlewatkan oleh keduanya dengan apik. Akon sampai tercengang melihat penampilan penggemar beratnya tersebut.



Akon menutup konser mini itu dengan mengucapkan salam sebagai seorang muslim. Dan begitu acara ditutup, puluhan penggemar langsung merangsek ke Akon untuk mengajak berfoto bareng, meminta tanda tangan, dan bersalaman dengan penyanyi yang juga pernah tampil dalam film American Heist, Black November, serta Ghostride the Whip itu.



Mensos Khofifah mengungkapkan, kehadiran Akon ke Indonesia membawa misi mulia. Akon bermaksud membantu warga SAD dan KAT untuk mendapat akses penerangan (listrik). Karena itu, kehadirannya harus mendapat apresiasi.



Khofifah menjelaskan, wilayah tempat tinggal masyarakat SAD dan KAT selama ini memiliki akses yang sangat terbatas. Selain tidak ada listrik, jalan menuju tempat mereka bermukim sangat sulit. Umumnya masih jalan setapak yang terjal, berbatu, dan berlumpur serta keluar masuk hutan.



’’Kalau PLN harus narik kabel sampai ke wilayah mereka, berapa investasi yang harus dikeluarkan? Belum lagi biaya yang harus dibayar penduduk setiap bulan. Sudah pasti ongkosnya besar,’’ ungkapnya.



Belum lagi jika mereka tidak membayar beberapa bulan, tentu aliran listriknya akan diputus. Karena itu, bantuan listrik tenaga surya dari Akon menjadi solusi efektif bagi SAD dan KAT.



Melalui program itu, lanjut Khofifah, hunian tetap masyarakat SAD dan KAT akan dialiri listrik 300 volt ampere. Alat yang dipasang di setiap rumah mampu bertahan sepuluh tahun. Warga pun tidak akan terbebani biaya setiap bulan.



”Harapannya, dalam kurun sepuluh tahun ke depan, mereka (SAD dan KAT) telah lebih sejahtera dan memperoleh akses yang lebih luas,” tuturnya.



Sementara itu, founder Yayasan Dwiyuna Jaya Dwi Putranto Sulaksono menyatakan, langkah mulia Akon merupakan perwujudan dari pelaksanaan sila kelima Pancasila. Yaitu, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. ”Di mana pun berada, mereka mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam mendapatkan fasilitas ketersediaan listrik bagi kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.



Akon pun menyebut Indonesia sebagai pilot project untuk program Akon Lighting Asia. Dia menyebut misinya itu semata-mata atas dasar kemanusiaan bahwa membantu sesama merupakan kewajiban. ”Saya berharap bukan hanya Afrika yang perlu mendapatkan penerangan, tapi juga di negara-negara Asia seperti Indonesia. Sebagai umat manusia, kita harus saling membantu,” tuturnya.



Sebelumnya (pada 2014) Akon menggalakkan Akon Lighting Afrika bersama dua rekannya, Thione Niang dan Samba Thily. Aksi kemanusiaan itu bermula dari cerita dua rekannya yang tumbuh di Kaolack, Senegal, sebuah kota tanpa listrik. Masa kecil dan pengalaman pribadi mereka menjalani hidup di kota tanpa penerangan tersebut membuat Akon dan dua temannya itu berkomitmen untuk membantu menerangi warga Afrika yang masih diliputi kegelapan.



’’Saat masih muda, saya harus belajar hanya dengan lilin. Itu pun lilin satu untuk menerangi satu rumah. Saya ingin memastikan tidak ada lagi anak-anak yang mengalami hal tersebut,” ujar Thione Niang dalam pernyataannya di laman Akon lightning Afrika. (*/c5/c10/ari)


Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore