
TALENTA MUDA: Komitmen Desi Rani Eka Putri pada seni tari tradisional tidak diragukan lagi. Dia pun kerap tampil di event nasional seperti festival seni di Ponorogo.
Kendati masih berusia 19 tahun, komitmen Desi Ratna Eka Putri terhadap pelestarian tari tradisional tidak bisa diremehkan. Beberapa lomba tari mulai tingkat desa hingga provinsi kerap dia ikuti. Beberapa kali dia juga membawa gelar juara.
KHAWAS AUSKARNI, Jember
ALUNAN musik tradisional Jawa menimbulkan rasa tenteram hati di pagi yang sejuk dan indah itu. Sekelompok anak remaja sedang berlatih tari tradisional Jawa di sebuah sanggar seni yang background-nya lereng sebuah gunung kecil di Ambulu, Gunung Watu Pecah. Mereka asyik berlatih dengan sepenuh hati, seolah tak menghiraukan suasana luar yang hiruk pikuk dengan seni modern.
Adalah Desi Rani Eka Putri, 19, gadis remaja yang sedang tekun berlatih di antara teman-temannya. Gerakan kepala, tangan, tubuh, serta kaki meliuk-liuk halus tetapi tegas, mengikuti irama musik gamelan Jawa yang mengiringinya. Raut mukanya tampak menjiwai betul tarian yang sedang diperagakannya.
’’Ini tari gambyong, tarian tradisi khas Jawa Tengah yang berfungsi untuk menyambut kehadiran para tamu,” ungkap Desi –sapaan akrabnya– ketika ditanya tari apa yang sedang ditarikannya.
Gadis remaja anak pertama dari dua bersaudara pasangan Roni Kurniawan dan Yani Supriyatin itu mengaku sangat menyukai tari tradisional. ’’Kami selalu diberi pemahaman dan ditanamkan hakikat, fungsi, dan nilai-nilai tari tradisional sama mama,’’ ujarnya.
Kendati konsentrasi di tari tradisional, Desi tidak menolak untuk tari kreasi dan modern. ’’Menguasai tari tradisional akan sangat memudahkan dalam menari kreasi dan modern. Kami selalu memegang teguh tradisi, tetapi siap berkreasi,” ujar gadis cantik berperilaku halus penggemar nasi goreng pedas itu.
Bagi dia, belajar menari bukan hal yang mudah. Pertama dan utama adalah niat, selanjutnya menyukai dan mencintai.
Kesulitan menari umumnya terletak pada teknik gerak dan penjiwaan. ”Jika itu sudah ada dalam benak kita, proses selanjutnya lebih mudah,” ucap siswi kelas XII IPS SMA Negeri Ambulu tersebut.
Pengalamannya menari tak terhitung lagi dengan jari. Piagam dan penghargaan serta foto-foto dikumpulkan sebagai portofolio pribadi. Tampil mulai lingkup sekolah, desa, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi kerap dilakukannya. Bahkan, dia sering membawa harum nama Kabupaten Jember sebagai duta seni di berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur seperti Gelar Seni Budaya Jember di Surabaya, Bali, dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.
’’Saya pernah ikut Festival Reog Nasional di Ponorogo selama empat kali. Alhamdulillah selalu membawa hasil yang sangat memuaskan karena selalu masuk sepuluh besar,” kata Desi.
Ketika ditanya apakah nanti bercita-cita menjadi penari, jawabannya sangat diplomatis. ’’Belajar menari atau sekolah tari tidak harus menjadi penari. Mungkin saja bisa jadi penari, mungkin jadi apa pun yang masih ada hubungannya dengan seni (tari). Seniman tari, penggiat seni, penulis seni, atau jadi apa pun yang bisa bermanfaat untuk seni,” ucapnya.
Menurut Desi, kondisi saat ini, seni budaya tradisional yang merupakan warisan luhur nenek moyang sangat memprihatinkan. Hanya sedikit orang yang memiliki komitmen kuat untuk tetap melestarikannya. ’’Itu pun di kalangan bawah dan berada di daerah pinggiran,” ujarnya. Karena itulah, dia bertekad melanjutkan dan melestarikan seni itu.
Komitmen Desi rupanya tidak hanya isapan jempol. Secara rutin, setiap Minggu, dia dan teman-temannya menjadi pelatih bagi anak-anak usia di bawahnya di sanggar yang kebetulan berhadapan dengan tempat tinggalnya. Setelah melatih, Desi dan teman-temannya berlatih untuk tari kelas dewasa dan berproses membuat karya tari dengan bimbingan Enys Kartika. ’’Sehari penuh di hari Minggu, kadang kalau sedang asyik proses garapan, bisa sampai malam. Lumayan capek, tapi dengan hati senang lelah akan cepat hilang,’’ ujarnya.
Harapannya terhadap keberadaan seni tradisi tidak terlalu muluk-muluk. Dia mengajak generasi muda untuk menyukai dulu dalam bentuk menyaksikan pertunjukan seni tradisi. Setelah menyukai, diharapkan generasi muda bisa bergabung untuk melestarikan dan mengembangkan seni tradisi.
’’Saya menyambut baik dan luar biasa kepada Jawa Pos Radar Jember yang telah mengawali membuat acara spektakuler Pendalungan Night Show (PNS) selama Januari sampai Maret 2017. Ini sebagai ajang apresiasi, kreasi, dan ekshibisi seniman tradisi di Jember,’’ ucapnya.
Sementara itu, pelatih dan pemilik sanggar Kartika Budaya Enys Kartika menggarisbawahi bahwa saat ini sanggar yang dia pimpin sedang getol membina dan mempromosikan anak-anak muda untuk bisa menampilkan seni sebagai penerus seni budaya tradisonal.
’’Kami membuat wadah berkesenian bagi anak-anak muda dari berbagai kalangan, sanggar, paguyuban, dan lainnya yang ada di Jember dengan nama Nak Kanak Pandhalungan. Kami kumpul, berlatih bersama, untuk menghasilkan kreativitas yang luar biasa,” pungkasnya. (was/hdi/c17/ano/sep/JPG)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
