Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Februari 2017 | 14.50 WIB

Pedagang Barang Antik di Jalan Bodri Menjelang Relokasi ke Pasar Bratang

SIBUK BERES-BERES: Ade Supriyadi, ketua kelompok pedagang, mengemasi barang-barang antiknya di Jalan Bodri. - Image

SIBUK BERES-BERES: Ade Supriyadi, ketua kelompok pedagang, mengemasi barang-barang antiknya di Jalan Bodri.

Deretan benda-benda antik tergantung cantik di tepi Jalan Bodri. Namun, pemandangan eksotis itu segera berganti. Hari ini para pedagangnya siap pindah ke Pasar Bratang.



DEBORA DANISA



AGUS tengah membersihkan barang-barang di kiosnya. Stan yang terletak paling ujung itu tampak semrawut. Berbagai barang pecah belah diturunkan dari lemari. Satu per satu kuningan dan marmer yang biasa dia pajang dibungkus. Berlembar-lembar koran bekas dia gunakan untuk menutupi kilau barang antik jualannya. Dia bahkan menyiapkan busa empuk berwarna ungu. Setelah terbalut sempurna, semua barang tersebut dimasukkan ke kardus berukuran jumbo.


Aktivitas hampir serupa ditemui di toko milik Ade Supriyadi. Bersama salah seorang pegawainya, dia menata barang-barang, mulai lampu kapal hingga hiasan kuningan mini, di dalam karton cokelat. Meski berbenah sejak pagi, masih banyak barang yang belum diturunkan dari tempat pemajangannya.


Jumlah pedagang barang antik di sepanjang Jalan Bodri memang hanya 12 orang. Namun, keberadaan mereka mudah menarik perhatian orang yang lewat. Apalagi bagi para pencinta barang antik. Pengunjungnya pun tidak hanya berasal dari dalam negeri. Ketika Jawa Pos mampir, ada sepasang wisatawan asal Jepang yang melihat-lihat.


’’Pengunjungnya di sini 60 persen lokal, 40 persen dari luar negeri,” ujar seorang pedagang bernama Harun. Memang, barang-barang antik menjadi incaran para pelancong. Wisatawan mendapat kepuasan tersendiri ketika bisa membawa buah tangan yang tidak lazim. Alat serut es zaman baheula, misalnya.


Namun, sejak hari ini, warga mungkin tidak akan lagi melihat deretan kios penjual barang antik di Jalan Bodri. Sebab, PD Pasar Surya memindahkan mereka ke tempat yang baru, yakni Pasar Bratang. Para pedagang diberi batas waktu hingga Kamis (2/2) untuk mengosongkan kios lama mereka. Karena itu, pedagang harus berjibaku membereskan dagangan.


Masalahnya, barang dagangan mereka yang antik membutuhkan penanganan khusus. Untuk barang pecah belah seperti guci dan lampu kristal, pedagang harus mengemasnya dengan cermat. Bukan hanya urusan membungkus, pengangkutannya pun perlu kehati-hatian ekstra. Karena itu, meski dikabarkan mendapat bantuan pengangkutan dari PD Pasar Surya, beberapa pedagang memilih memindahkan sendiri barang mereka.


Salah seorang adalah Muharom, pedagang mebel antik. Dia sudah mengangkut beberapa lemari kayunya ke pikap. Bahkan, Muharom menjadi satu-satunya pedagang yang sudah menempati stan baru di Pasar Bratang, Rabu (1/2). Ketika Jawa Pos berkunjung, rolling door stan lain masih tertutup. Hanya milik Muharom yang sudah diisi barang-barang pindahan dari Jalan Bodri.


Karena belum jatuh tempo, sebagian besar pedagang memilih tetap berjualan. Ada yang baru berkemas saat sore dan malam, ada pula yang memutuskan beres-beres hari ini. Bagaimana bila mereka tidak bisa merampungkan pengemasan sore ini? ’’Ya masak nggak ada kompensasi? Toh, pengemasannya juga nggak gampang,” ujar Harun.


Sebagai pedagang yang sudah 15 tahun mengadu nasib di Jalan Bodri, Harun berharap di pasar yang baru nanti, usahanya tetap berjalan baik. Tentu, harus ada campur tangan dari orang-orang di atas. Entah itu PD Pasar maupun dinas pariwisata. ’’Karena kan hitungannya ini daerah wisata, bisa menunjang wisata lokal juga,” imbuhnya.


Pasar yang berada tepat di tepi jalan dirasa nyaman bagi para pedagang. Karena itu, meski tidak menolak relokasi, para pedagang merasa sangsi dengan stan yang baru di Bratang. Lokasinya yang berada di lantai 2 membuat mereka khawatir tidak ditengok pembeli. ’’Ibaratnya kita mulai dari nol lagi, harus cari pelanggan lagi,” katanya. Mereka juga cemas kalah bersaing dengan pasar burung dan pasar bunga yang ada di sebelahnya. Pasar Bratang memang ramai. Tapi, rata-rata pengunjung berbelanja burung dan tanaman saja. Belum tentu pengunjung tahu ada deretan toko barang antik di lantai atas.


Kesulitan lain adalah proses mengangkat barang-barang antik ke lantai 2. Tak masalah bila barangnya kecil, lain soal kalau yang diangkat sebesar lemari pakaian. Menimbang hal tersebut, ada pedagang yang memutuskan untuk mengangkut lemari-lemarinya lebih dahulu. Ada pula yang memilih tidak membawa lemari besar itu ke Bratang, melainkan memulangkannya ke rumah.


Ukuran kios di Pasar Bratang juga tidak sebesar di Jalan Bodri. Di belakang Gelora Pancasila, mereka berjualan di kios berukuran 2,5 x 3 meter. Malah bisa lebih panjang lagi karena penambahan teras di depannya sehingga bisa jadi 5 meter. ’’Tapi kalau di Bratang, batas kios segini (sebatas rolling door, Red) ya segini,” tutur Harun seraya menunjuk ujung tekelnya.



Rupanya, tidak semua pedagang bersedia pindah ke Pasar Bratang. Dyah Yuni, kepala Pasar Bratang, mencatat, hanya 10 kios yang terisi pedagang dari Jalan Bodri. Dia tidak tahu-menahu alasan pedagang tak mengambil kios. Pembagian kios pun tidak dilakukan pihak pasar. ’’Kami serahkan ke pedagang biar mereka undi sendiri supaya kalau ada masalah, larinya nggak ke pasar,” terang Dyah. (*/c7/oni/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore