Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Februari 2017 | 05.08 WIB

Kiprah Kelompok Ekonomi Kreatif (Ekokraf) Yayasan Mata Seger

KHAS KOTA GIRI: Kris Aji menunjukkan karya-karya anggota kelompok Gresik Djaloe Heritage di gerainya. - Image

KHAS KOTA GIRI: Kris Aji menunjukkan karya-karya anggota kelompok Gresik Djaloe Heritage di gerainya.

Yayasan Masyarakat Pencinta Sejarah dan Budaya Gresik (Mata Seger) terus melangkah maju. Organisasi pelestari kesenian punya kelompok ekonomi kreatif. Dilabeli Gresik Djaloe Heritage, anggotanya getol melahirkan produk berciri khas Kota Pudak.



EKO HENDRI SAIFUL



EMPAT hiasan lampu bergambar damar kurung berderet rapi di meja. Wadah lampu berukuran mungil. Hiasannya unik dengan beragam warna. Wadah lampu bukan satu-satunya produk unik. Semuanya dipajang di sebuah rumah di Jalan Usman Sadar Gang 17 Nomor 15. Ada puluhan benda artistik. Ada kaus bertulisan pepatah Jawa, kerajinan kaca, batik, dan sebagainya.


’’Ini model baru. Kaus bergambar wayang Sunan Giri,” papar Ketua Yayasan Mata Seger Kris Adji pekan lalu. Dia memastikan bahwa kaus itu merupakan karya pemuda asal Kota Pudak yang kini berkuliah di Jogjakarta.


Kris terlihat asyik mengenalkan produk-produk kreatif yang terpajang di rumahnya. Semua karya bertema kearifan lokal. Produk didesain dengan menonjolkan unsur budaya Kota Giri. Ada beberapa produk. Ada batik ikat celup, batik sibori, baju lukis, kopi biji kurma, dan hiasan pencak macan. Semua unik dengan unsur Gresikan.


”Sayang, kalau anak-anak kreatif ditelantarkan. Kami mencoba mewadahi,’’ papar lelaki 55 tahun tersebut.


Kris memaparkan, semua produk itu dibuat kelompok ekonomi kreatif (ekokraf) yayasannya. Yakni, kelompok ekokraf Gresik Djaloe Heritage. Nama kelompok itu semakin populer. Kiprahnya kian matang. Ekokraf Gresik Djaloe Heritage dikenang setelah diluncurkan dalam acara Minggu Sehat Jawa Pos pada Minggu (18/12/16).


”Dulu, jumlah anggota kelompok hanya 14 orang. Sekarang sudah 25 orang dengan beragam produk,” kata Kris yang juga seorang pelukis.


Dia menjelaskan, anggota kelompok ekokraf berasal dari berbagai usia dan profesi. Rata-rata mereka berusia 17–35 tahun. ’’Ada yang memang sudah jadi pengusaha. Ada perintis,’’ lanjutnya.


Pria berambut gondrong tersebut mengisahkan seorang anggota bernama Dewi Sri. Perempuan itu dikenal sebagai pengepul sampah. Dewi Sri bergabung menjadi anggota kelompok dan dimotivasi.


Dia lantas berkreasi. Warga Desa Sukorame itu mengubah sampah kertas menjadi hiasan menarik. Produknya laris di masyarakat. Selain Dewi Sri, ada banyak anggota yang baru merintis usaha.


Menurut Kris, membentuk kelompok ekokraf memang tidak mudah. Perkumpulan kecil tersebut sebenarnya dibentuk pada November 2010. Namun, tidak juga berkembang.


Kesulitannya, semangat anggota masih angin-anginan. Persoalan dana juga. ”Bisnis butuh modal tak sedikit. Kami bersyukur. Sekarang PT PJB Gresik mau menjadi pendamping,” ungkapnya.


Bapak lima anak itu berharap kelompok ekokraf tersebut semakin besar. Kuncinya, anggota harus terus kreatif. Selain itu, anggota kelompok punya tugas tambahan. Mereka wajib berkiprah di masyarakat. Terutama mengampanyekan produk berbasis kearifan lokal.


Kris menambahkan, hasil karya anggota tidak hanya ditujukan untuk mencari untung. Produk juga harus ikut mengangkat budaya lokal. Misalnya, bangunan cagar budaya. ’’Prinsip kelompok, pengusaha harus berkomitmen mengangkat kekayaan budaya daerahnya,’’ papar lelaki yang hobi membaca tersebut.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore