Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 8 Januari 2017 | 04.40 WIB

Punakawan Pengurus Taman Abhirupa Krian, Ada Yang Merusak Mentolo Ngajak Gelut Ae

BERDEDIKASI: Dari kiri, Anton Hariono, Mulyono, Andik Setiawan, dan Slamet. Keempatnya adalah pengurus ruang hijau terbuka Krian, termasuk Slamet Kumpo. - Image

BERDEDIKASI: Dari kiri, Anton Hariono, Mulyono, Andik Setiawan, dan Slamet. Keempatnya adalah pengurus ruang hijau terbuka Krian, termasuk Slamet Kumpo.


Andik dan Slamet tahu betul kontroversi dan gontok-gontokan saat proses pembersihan lahan kala itu. Sebab, kedunya berprofesi sebagai makelar hewan ternak di pasar tersebut.


’’Wah, kalau salah pendekatan, bisa bacok-bacokan beneran di sini. Karena itu, pas kami dimintai pendapat Pak Amig, saya jawab, dibuat apa pun, kami mau kepentingan masyarakat setempat didahulukan,’’ tutur Slamet.


Pada 2009, saat Amig menjabat camat Krian, wacana mengalihfungsikan pasar sapi dan membersihkan praktik lokalisasi berkumandang. Anton mengaku dipanggil oleh Amig untuk membicarakan rencana itu.


Sebagai pemuda asli Dusun Bibis Timur dan anggota karang taruna setempat, dia betul-betul paham seluk-beluk kondisi sosial di sana.


’’Awalnya, mau dibuat sekolah. Tapi, melihat kondisi sekelilingnya yang kurang memungkinkan, tidak jadi,” ujarnya.


 Camat Krian berganti dari Amig, agenda tersebut belum terwujud. Pada 2014 kelimanya dipanggil Amig yang sudah menjabat kepala DKP (sekarang DLHK) untuk diajak rembukan kembali.


Anton menyebutkan, dibutuhkan waktu hampir lima tahun untuk mempersuasi warga seluruh dusun supaya mendukung rencana pembangunan taman itu.


’’Kami berlima geraknya grass root, benar-benar dari hati ke hati setiap warga,’’ ungkap Anton yang juga berprofesi sebagai juru parkir Ramayana Krian tersebut.


Satu per satu warga akhirnya merelakan pindah supaya lahan itu bisa dibuat taman dan memiliki manfaat buat masyarakat luas. Pembebasan lahan tersebut dilakukan pada Maret 2015. Namun, kontroversi belum mandek.


Masyarakat sempat berang kala tim survei pemerintah berniat membangun rusunawa. ’’Kalau dibangun itu, ya kamarnya saya sewa saja buat perempuan-perempuan kayak dulu lagi,’’ respons Anton saat itu.


Situasi sempat memanas. Tetapi, akhirnya, pada November 2015, pembangunan Taman Abhirupa dimulai. Anton dan empat kawannya adalah para punggawa yang juga ikut serta dalam proses tersebut tanpa dibayar serupiah pun.


’’Kami mau Krian lebih baik. Malu lama-lama dikenal jadi pusat maksiat. Apalagi, Pak Amig dan DKP juga sangat percaya kepada kami, padahal kami ini siapa,’’ ucap Anton.


Slamet berharap, dengan adanya RTH itu, keramaian masyarakat Kelurahan Krian yang sangat padat bisa terbagi. Setelah proses pembangunan selama satu tahun, Taman Abhirupa akhirnya berfungsi.


Meskipun sarananya belum lengkap, rerumputan hijau telah menyapa saat pengunjung menginjakkan kaki ke gerbangnya. Selain itu, ada ikon gerbong kereta yang jadi kesukaan anak-anak untuk bermain.


Plus, jalan setapaknya dibuat beralur untuk anak-anak yang mau bermain sepatu roda yang lagi booming.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore