Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 21 Desember 2016 | 20.29 WIB

RW 8 Genteng, Peraih Best of the Best Surabaya Akseliterasi 2016, Sajikan Bekupon Buku hingga Edu House

SADAR LITERASI: Karang Taruna RW 8 Genteng bersama Sa’adah (tiga dari kiri), istri Syahri, salah seorang fasilitator di kampung tersebut. - Image

SADAR LITERASI: Karang Taruna RW 8 Genteng bersama Sa’adah (tiga dari kiri), istri Syahri, salah seorang fasilitator di kampung tersebut.

Kampung RW 8 Genteng menjadi jawara dalam Surabaya Akseliterasi 2016. Kampung itu memang terasa berbeda. Terutama dalam hal komitmen warga untuk menumbuhkan kesadaran dan minat membaca.





PUJI TYASARI





RUMAH berwarna hijau itu tampak sederhana. Cukup asri. Ada plakat Edu House terpasang di depan rumah tersebut. Itulah yang membedakan rumah tersebut dengan para tetangganya.



Dan memang, di dalam rumah, perbedaan itu kian terasa. Ruang tamu tidak berisi sofa dan meja tamu. Tembok-temboknya tidak didominasi hiasan dinding. Yang ada malah ratusan buku.



Terpajang di rak-rak yang menempel pada tembok. Ada buku cerita anak, buku memasak, buku pengetahuan, dan sebagainya. Si empunya rumah adalah Elly Witartiningsih.



Dia adalah salah satu orang tua peduli pendidikan anak dalam perhelatan Surabaya Akseliterasi 2016. Elly mengungkapkan, anak-anak warga kampung RW 8 Genteng sering berkumpul di rumahnya. Untuk membaca dan belajar bersama.



Di kampung itu memang sudah ada taman baca masyarakat (TBM). Namun, ada jam operasionalnya. Nah, saat TBM tutup, anak-anak memilih berkumpul di rumah Elly.



Rumah Elly pun menjadi jujukan anak-anak untuk membaca. Edu House tidak hanya memfasilitasi buku untuk dibaca, tetapi juga sebagai tempat belajar soal alam. Ada green house di depan rumahnya.



’’Kami juga kenalkan beragam tanaman, pembibitan, herbal, toga, dan lain-lain. Karena literasi bukan hanya membaca, tapi juga praktik langsung,’’ katanya.



Fasilitator RW 8 Genteng Syahri menyebut taman baca masyarakat memang menjadi syarat dalam sebuah kampung literasi. TBM di kampungnya baru berdiri satu tahun.



Agar menarik masyarakat, TBM itu didesain seperti planetarium. Ada tata surya sekaligus planet-planet di dalamnya. Planetarium itu juga menjadi daya tarik tersendiri dibanding kampung lainnya.



TBM tersebut juga menjadi balai RW. Beragam kegiatan banyak dilakukan di situ, termasuk koordinasi dengan masyarakat. Ada 1.300 judul buku yang ada di TBM.



Mulai buku bacaan untuk anak, novel, buku-buku kreasi, hingga buku pengetahuan umum lainnya. ’’Kami sudah punya aplikasi untuk katalog online,’’ terangnya.



Paling tidak, imbuh dia, TBM sangat membantu anak untuk mengurangi interaksi dengan gadget. Mereka didorong rajin membaca ketimbang main gadget. TBM buka pukul 13.00–16.00.



TBM tidak buka pada pagi hari. ’’Sebab, petugas perpustakaannya kalau pagi ke sekolah,’’ katanya. Namun, TBM bisa dibuka ketika ada kunjungan pada pagi hari.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore