
BUAH PENGALAMAN: Seger Purwanto menunjukkan produk boks pendinginnya.
’’Tugasnya, mengatur jadwal untuk karyawan lain agar boks yang dibuat bisa selesai tepat waktu,’’ tuturnya. Menurut dia, saat itu ada sekitar 60 karyawan yang dipimpinnya.
Dua tahun kemudian, tugasnya lagi-lagi bertambah. Dia ditunjuk perusahaan untuk menjadi kepala bagian gudang. Seger bertanggung jawab memastikan stok bahan baku pembuatan boks tidak habis.
’’Meski berat, tetap saya tekuni. Kalau dipikir-pikir, saya juga beruntung karena bisa belajar banyak hal,’’ jelasnya.
Prinsipnya tersebut terbukti. Menjelang tutup tahun 1998, krisis moneter terjadi. Seger berhenti dari pekerjaannya. Dengan modal patungan bersama temannya, dia lantas membuka usaha sendiri yang masih berkaitan dengan karoseri.
Yakni, bengkel modifikasi pelat aluminium. ’’Dipasok ke usaha pembuatan karoseri yang namanya belum terlalu besar. Mayoritas tidak punya peralatan untuk merakit,’’ katanya.
Namun, usaha itu hanya bertahan setahun. Seger menyatakan, kondisi ekonomi di ibu kota benar-benar sulit. Banyak usaha yang terpaksa gulung tikar.
’’Saya langsung pulang (ke Sidoarjo, Red) karena situasinya tidak memungkinkan,’’ ungkap pria yang tumbuh di Desa Seketi itu. Untung, Seger tidak lama menganggur.
Beberapa bulan kemudian, dia mendapat tawaran untuk kembali bekerja di perusahaan karoseri di Jakarta. ’’Nama saya ternyata sudah dikenal di sana. Buktinya, ada yang nyari,’’ ucapnya, lantas tertawa.
Meski begitu, Seger ternyata tidak betah bekerja di tempat baru tersebut. Dia merasa lingkungan kerjanya sangat tidak mendukung. Baru beberapa bulan bekerja, Seger pun mengundurkan diri.
Suami Sulistyowati itu memilih kembali ke kampung halaman. Uniknya, meski tidak bekerja, dia tetap mendapat upah dari mantan perusahaannya. Dalam enam bulan, rekeningnya rutin diisi.
’’Saya bilang kepada bos ada kesalahan di bagian keuangan. Tapi, kata dia (bos perusahaan tersebut, Red), saya memang belum dianggap keluar. Bos malah bilang sudah menyiapkan lokasi di Surabaya agar saya bisa melanjutkan pekerjaan,’’ ujarnya.
Ucapan itu terwujud pada 2001. Perusahaan milik bosnya membuka cabang di kawasan Margomulyo, Surabaya. Seger ditunjuk menjadi penanggung jawab. Dia bertugas mengawasi gudang, produksi, dan pemasaran.
’’Tapi, pada 2007 saya keluar,’’ tuturnya. Dia memutuskan keluar setelah dikecewakan bosnya. Meski begitu, Seger enggan menjelaskan secara detail alasan keluar dari perusahaan tersebut.
Berbagai upaya mencari penghasilan dilakoninya setelah itu. Mulai membuka warung kopi, menjadi sales apotek, hingga membuka bengkel las. Meski demikian, Seger merasa tidak menemukan kenyamanan.
Pada awal 2010, dia berpikir membuka usaha pembuatan karoseri sendiri. ’’Bekal pengalaman sudah punya. Modalnya meminjam kepada teman,’’ jelasnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
