alexametrics
Cerita Minggu

Setelah ‘Anak Baru’ Bali United Melantai di Bursa Saham

Karena Sepak Bola Berumur Panjang
16 Juni 2019, 14:43:17 WIB

Membeli saham, bagi para suporter Bali United, adalah dukungan ke arah transparansi, sesuatu yang masih langka di persepakbolaan tanah air. Dana yang terkumpul kelak, antara lain, digunakan untuk menambah kapasitas tribun dan membangun training center.

MIFTAKHUL FAHAMSYAH, Denpasar

PENGUMUMAN yang terpampang di depan stadion itu begitu menggembirakan hati Dewa Putu. Dia tidak hanya akan melihat pengelolaan kesebelasan kesayangannya, Bali United, semakin transparan. Tapi, sekaligus berkesempatan bisa lebih memiliki tim berjuluk Serdadu Tridatu tersebut.

Pengumuman di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, itu menegaskan bahwa PT Bali Bintang Sejahtera Tbk, perusahaan pengelola Bali United, bakal melakukan penawaran saham perdana ke publik. Penawaran tersebut dijadwalkan mulai 10 sampai 12 Juni 2019.

Dan, begitu tanggal 10 Juni itu datang, Dewa Putu pun bergegas ke Denpasar. Persisnya ke Hotel Inna Bali Heritage, tempat penawaran saham perdana Bali United dilakukan.

Laki-laki 35 tahun itu tidak berangkat sendiri. Tapi, bersama rekan-rekannya sesama suporter. “Saya beli 100 lot atau 10 ribu lembar saham,” katanya.

Untuk membeli 10 ribu lembar saham itu, Dewa Putu harus mengeluarkan uang Rp 1.750.000. Per lembar saham dihargai Rp 175.

Bali United melepas total 2 miliar lembar saham atau 33,33 persen dari jumlah modal ditempatkan dan disetor. Dengan begitu, jika terjual semua, perseroan bisa mendapat dana Rp 350 miliar. Dan, setelah 1 persen di antaranya dilepas pada penawaran perdana 10-12 Juni di Bali, saham Bali United mulai diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia pada 17 Juni.

“Saya memutuskan membeli saham karena ingin memiliki Bali United bukan sekadar secara emosional semata,” kata dia kepada Jawa Pos.

Selain itu, dia merasa langkah Bali United baik untuk sepak bola Indonesia. Pengelolaan sepak bola di tanah air yang demikian kusut selama ini bisa digerakkan ke arah transparansi.

“Karena itu, langkah Bali United harus didukung. Kitalah suporter yang harus mendukung,” lanjutnya.

Ketut Subudi mengamini. “Ini hal yang bagus bukan saja untuk Bali United, tapi juga untuk Indonesia,” ujar ketua Semeton Dewata Buldog, salah satu organ suporter Bali United, tersebut.

Yang ditempuh Bali United itu memang hal baru di sepak bola Indonesia. Selama ini segala hal yang menyangkut pengelolaan sepak bola, lebih-lebih perihal keuangan, serba tertutup. Serbagelap.

Yang juga perlu digarisbawahi, keputusan melepas saham ke publik itu justru dilakukan kesebelasan yang terbilang anak baru. Terhitung sejak hijrah ke Pulau Dewata dan menyandang nama Bali United, klub yang dulu bernama Persisam Putra Samarinda tersebut baru berusia sekitar 5 tahun.

“Ada tiga hal yang mendorong kami melepas saham ke publik,” ujar CEO Bali United Yabes Tanuri.

Di antaranya, berkaitan dengan visi Bali United dan industri yang berkelanjutan. “Dan sekarang kami butuh lebih cepat mengembangkan bisnis sepak bola ini,” paparnya. Dengan langkah menjual saham ke publik, Bali United optimistis bukan hanya bisnis yang dijalankan yang bisa berkembang lebih cepat. Melainkan juga bisa menjawab pertanyaan dan tuntutan suporter selama ini tentang transparansi legal dan keuangan. “Kini bukan hanya BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia) dan federasi (PSSI), tapi OJK (Otoritas Jasa keuangan) juga memeriksa kami,” imbuhnya.

Hal lain yang mendorong Bali United adalah umur sepak bola. Bali United percaya sepak bola itu berumur panjang. Contohnya pun sudah begitu banyak. Klub-klub luar negeri yang tetap hidup meski terlahir sebelum 1900. Juga, kesebelasan-kesebelasan legendaris di Indonesia seperti Persebaya Surabaya, PSM Makassar, Persib Bandung, atau Persija Jakarta.

Klub-klub itu hidup dalam tiga zaman: Belanda, Jepang, dan Indonesia. “Satu hal lagi, fanatisme sepak bola itu begitu langgeng. Itu susah dilakukan produk lain,” tambahnya.

Lalu, dana segar dari hasil penjualan saham tersebut kelak hendak dikemanakan? Yang terdekat adalah pengembangan atau perbaikan infrastruktur stadion. Dengan dana di tangan, Bali United bisa lebih leluasa mengembangkan Stadion Kapten I Wayan Dipta. Sebab, mereka memiliki hak pengelolaan hingga beberapa tahun ke depan.

Pengembangan itu, salah satunya, berupa penambahan kapasitas tribun. Dana segar tersebut juga akan dimanfaatkan untuk modal kerja. Jangka panjangnya untuk membangun training center (pusat latihan). “Kami akan mengikuti klub-klub top dunia yang memiliki dana kapital besar sehingga bisa membeli pemain yang harganya mahal. Sebab, target kami di sepak bola adalah selalu berada di peringkat atas,” jelas Yabes.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c10/ttg)