Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 1 Juni 2018 | 05.09 WIB

5 Tahun Sekali, Suku Tengger Gelar Unan-unan, Menetapkan Penanggalan

Warga mengarak kerbau pada saat upacara Unan-unan. - Image

Warga mengarak kerbau pada saat upacara Unan-unan.

JawaPos.com - Suku Tengger yang berada di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang dikenal masih memegang teguh adat dan budaya. Dari berbagai upacara adat, salah satunya yakni pelaksanaan panglawu agung atau upacara sedekah agung bertajuk unan-unan.


Upacara ini pun hanya dilakukan setiap lima tahun sekali. Pada 2018 ini, upacara tradisi unan-unan jatuh pada tanggal 30-31 Mei. Sama seperti tradisi Suku Tengger yang lain, Unan-unan juga menyimpan kearifan lokal yang beragam.


Kepala Desa Ngadas, Mujianto mengungkapkan bahwa pada 2018 ini, unan-unan dilaksanakan dua hari. "Unan-unan ini lima tahun sekali, dengan tujuan menetapkan bulan dan tahun penanggalan Tengger," ujar Mujianto di sela-sela upacara, Kamis (31/5).


"Kan hitungan bulan antara masehi dengan kalender Tengger berbeda, ada selisih yang digenapkan. Yakni sasi (bulan) desta (kesembilan) digenapkan atau disepuluhkan," ujar bapak dua anak itu.


Berbagai ubarampe atau perlengkapan upacara pun dipersiapkan khusus. Salah satunya yakni kebo bule atau kerbau dengan bulu putih seberat dua kuintal. Kerbau itu disembelih secara khusus untuk unan-unan. Penyembelihan itu dilakukan satu hari sebelum puncak upacara adat.


"Jadi disembelih, tetapi dipisahkan antara bagian kepala, keempat kaki dan seluruh kulit badan dipertahankan untuk diarak, lalu bagian dagingnya dibuat masakan selamatan," terangnya.


Pria yang menjabat sebagai kepala desa sejak 2013 itu menjelaskan, selama dua hari, beberapa rangkaian kegiatan dilakukan. Hari pertama, yakni mulai tahapan turun, mupu, dan mepek. Mereka juga menyembelih kerbau di hari pertama.


Kemudian hari kedua, kerbau tersebut dihias yang termasuk dalam tahapan semenikan, hingga akhir unan-unan berupa prepekan. "Upacara ini diharapkan dapat memberi ketenteraman bagi desa dan seluruh warganya," paparnya.


Tokoh adat Desa Ngadas, Ngatono menambahkan, unan-unan berasal dari bahasa Tengger kuna. Yakni ngunan wulan nglungguhne taun atau menetapkan bulan mendudukkan tahun.


"Makna dan tujuan unan-unan, secara singkat yakni masyarakat Desa Ngadas mengadakan panglawu agung, yakni sedekah yang agung. Atau nguna wulan nglungguhne tahun," ujar Ngatono.


Kenapa harus didudukkan atau ditetapkan, Ngatono menerangkan, karena kalender Tengger itu berdasarkan siklus bulan. Ada yang umurnya 29 hari dan ada yang 30 hari. "Untuk menutup yang kurang, saat ini sudah terkumpul 30 hari," lanjutnya.


Peringatan kumpulan 30 hari selisih bulan itulah yang ditetapkan dalam rangkaian upacara. "Untuk menetapkan itu, dilakukan korban agung sebagai rasa syukur untuk yang masih hidup dan juga untuk semua leluhur agar tahu bahwa hari ini penetapan tahun," tegasnya.


Jika tidak ada penetapan, lanjut Ngatono, maka leluhur tidak akan tahu adanya perhitungan baru lima tahunan. Dikhawatirkan, itu akan membawa dampak buruk bagi kehidupan warga suku Tengger.


"Kalau sudah didudukkan dengan korban kerbau seperti ini, masyarakat Tengger kalau mau mendirikan rumah selamatan dan lain-lain butuh hari baik bisa langsung dihitung. Leluhur agar tahu ketetapan hitungan ini agar semua aman," pungkasnya.


Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Made Arya Wedanthara mengatakan, tradisi yang ada di Ngadas ini memang banyak sekali. Namun, dia mengaku baru pertama kali ini mengikuti upacara tradisi unan-unan ini.

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore