
KOMUNITAS PEMBACA SEJARAH: JJ Rizal, direktur dan salah satu pendiri Komunitas Bambu. (INSTAGRAM JJ RIZAL)
Komunitas Bambu dan Ajakan Memahami Sejarah dengan Lebih Baik
Berawal dari rumah kos, dalam dua dekade lebih usianya, Komunitas Bambu merentang jadi penerbitan, toko buku, dan kelompok diskusi. Buku-bukunya banyak yang mengajak ’’pulang’’ ke pemikiran para pendiri bangsa.
AGUS DWI PRASETYO, Depok
---
RUMAH di Jalan Taufiqurrahman, Beji, Depok, itu tampak begitu asri, dengan berbagai tanaman tumbuh di beberapa sudut. Barang-barang lawas seperti terakota dan furnitur kayu ditata di sisi depan rumah seolah menyambut siapa saja yang bertandang ke hunian unik dan etnik milik sejarawan JJ Rizal tersebut.
”Mau teh atau kopi?” tanya JJ Rizal saat Jawa Pos bertandang pada Jumat (19/8) dua pekan lalu.
Hunian yang dipenuhi banyak tumpukan buku di beberapa ruang tersebut bisa dibilang sekaligus jadi markas penerbitan buku Komunitas Bambu (Kobam). Di lantai 2-nya juga ada toko buku yang buka di hari kerja, Senin–Jumat. Rumah tersebut juga kerap menjadi jujukan banyak orang untuk mendiskusikan banyak isu.
Mulai politik, hukum, sosial, hingga pemerintahan.
Dari penerbitan buku dan diskusi organik yang rutin dilakukan itulah rumah JJ Rizal nyaris tak pernah sepi kunjungan. Orang-orang yang datang pun punya latar belakang beragam. Mulai penulis, aktivis, wartawan, hingga mahasiswa.
”Komunitas Bambu ini sebenarnya komunitas pembaca sejarah. Mereka merasa negara tidak menunaikan tugasnya menjernihkan sejarah,” kata Rizal.
Kobam berusia 24 tahun saat ini. Komunitas yang didirikan JJ Rizal dkk itu lahir 22 Mei 1998 atau sehari setelah Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden RI. ”Dulu (Kobam) awalnya tempatnya di kamar kos, bukan di sini (Jalan Taufiqurrahman, Red),” terang alumnus Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia tersebut.
Sementara kata bambu sendiri terinspirasi dari banyaknya jenis bambu yang dibudidayakan di Depok pada masa itu. Karakter bambu yang lentur juga dianggap sebagai ciri khas Indonesia. ”Ciri khas dari ke-Indonesia-an kita kan kelenturannya,” paparnya. ”Dulu karena kritis terhadap pemerintah, Komunitas Bambu sering diplesetin jadi Komunis Bambu,” imbuh Rizal, lantas tertawa.
Sejak awal, buku-buku terbitan Kobam diperuntukkan bagi masyarakat yang ingin memahami sejarah dengan lebih baik. Itu bertalian dengan pendirian Kobam pada 1998. Kala itu, Kobam percaya bahwa kekuasaan Orde Baru (Orba) didirikan dengan memanipulasi dan mendistorsi sejarah. ”Waktu itu yang gabung komunitas ada dosen, mahasiswa,” ingatnya.
Karena punya pemikiran yang sama, yakni berliberalisasi di banyak hal, Kobam saat itu bersemangat untuk berdiskusi tentang negara krisis dan penyebabnya. Pengetahuan yang dihegemoni kekuasaan pada masa Orba satu per satu diuji lewat diskusi. ”Salah satu yang menyebabkan krisis waktu itu negara memegang otoritas tentang pengetahuan dalam segala hal,” terangnya.
Sudah ratusan judul buku yang diterbitkan Kobam dari tahun 1998. Mayoritas bertema sejarah yang menjadi bacaan alternatif. Misalnya, buku ’’Musim Menjagal: Sejarah Pembunuhan Massal di Indonesia 1965–1966’’ yang ditulis Geoffrey B. Robinson pada 2018 lalu. Buku itu mengungkap pembunuhan massal dan sistematis yang pernah ada di Indonesia.
Rizal menceritakan, Kobam juga menerbitkan beberapa buku tentang Tan Malaka, pahlawan nasional yang sempat terlupakan. Salah satunya berjudul ’’Suara Tan Malaka dari Penjara ke Penjara”. Buku tersebut merupakan hasil perenungan panjang sejarawan Helen Jarvis dalam memahami siapa sebenarnya Tan Malaka.
”Tan Malaka ternyata mengajarkan kepada kita untuk 100 persen merdeka tanpa kompromi,” tuturnya.
Menurut Rizal, tak banyak orang mau memahami secara mendalam tentang pemikiran tokoh bangsa seperti Tan Malaka seiring stigma tertentu yang melekat pada sosok tersebut. ”Waktu itu kita menerbitkan buku itu sebagai bentuk protes kenapa ada kompromi dalam reformasi?” terangnya.
Pembukaan Toko Buku Komunitas Bambu di Jogjakarta. (DOKUMENTASI)
KOMUNITAS PEMBACA SEJARAH: JJ Rizal, direktur dan salah satu pendiri Komunitas Bambu. (INSTAGRAM JJ RIZAL)
Kobam paling banyak menerbitkan buku tentang Presiden Pertama RI Soekarno. Totalnya ada 12 judul. Salah satunya ’’Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926–1933” yang tentu saja menceritakan konstruksi pemikiran Soekarno ketika masih muda. Buku itu membuat Rizal diundang sutradara Hanung Bramantyo untuk membahas film Soekarno (2013).
Posisi Tan Malaka dan Soekarno terbilang kurang mendapat tempat saat masa Orba. Padahal, menurut Rizal, dua sosok tersebut punya peran penting dalam pendirian bangsa. ”Kalau kita nggak ngerti tentang mereka, maka kita pasti nggak akan mengerti apa itu Indonesia. Nah, menurut kami, penyebab Indonesia krisis saat itu karena banyak yang belum mengerti tentang Indonesia,” bebernya.
Dengan memahami pemikiran para pendiri bangsa, Kobam mengajak pembaca sejarah untuk "pulang ke rumah” ketika menghadapi persoalan bangsa. Rizal meyakini, dengan "menghidupkan” tokoh bangsa lewat buku, masyarakat bisa memahami nilai-nilai Indonesia dengan lebih baik. ”Kita ini krisis nilai,” ungkap pria kelahiran 1974 tersebut.
Kobam juga aktif diundang dalam diskusi dan pameran buku di kampus sampai institusi partai politik. Tak jarang juga menggelar tur sejarah. Semua itu dikerjakan bersama dengan kelompok-kelompok atau komunitas lain. Misalnya, tur sejarah dengan menggandeng komunitas gowes.
Seiring gairah pencinta sejarah yang semakin tinggi, Kobam berupaya mendekatkan diri dengan komunitas pembaca di seluruh pelosok negeri. Bahkan, kini tak hanya di Depok, toko buku Kobam juga telah hadir di Jogjakarta. ”Pada intinya, Kobam memberikan perspektif histori, bukan story, apalagi misteri,” katanya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
