Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 Maret 2022 | 19.33 WIB

Siswatri, Rela Menempa Besi untuk Menjamin Anak-anaknya Tetap Sekolah

Caption: PERKASA: Siswatri sedang menempa besi panas untuk dibuat sabit, kemarin. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO) - Image

Caption: PERKASA: Siswatri sedang menempa besi panas untuk dibuat sabit, kemarin. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

JawaPos.com - Tak hanya memerankan diri sebagai ibu rumah tangga, Siswatri, perempuan asal Banjarrejo, Kemiri, Mojosongo, Boyolali ini juga ahli dalam memipihkan besi membara. Tiap pagi hingga petang, peluhnya bertarung melawan panasnya api.

RAGIL LISTIYO, Boyolali

Kedua tangan Siswatri memegang erat gagang palu besi seberat 5 kilogram (kg). Sekuat tenaga, palu dipukulkan pada lempengan besi yang membara. Sang suami, Maryadi, 57, mencapit besi bekas per mobil. Satu tangan lainnya memegang palu. Dentuman pertemuan dua sisi besi saling bersahutan. Diiringi percikan api pijar. Tiap palu bertemu dengan besi panas, Siswatri akan menutup mata. Berjaga kalau percikan api mengenai muka.

Keseharian ini telah dijalani Siswatri sejak 25 tahun terakhir. Bermodalkan tenaga, dia membantu sang suami menjadi pandai besi. Letupan pijar api dari besi membara sudah sering dialami. Terlihat dari daster yang dikenakan terdapat lubang-lubang kecil bekas terkena api. Kedua tangannya juga bopeng-bopeng. Seperti bekas cipratan minyak panas. Namun, semua itu tak pernah dianggap berat.

“Keseharian ya begini. Biasa kena percikan api. Sampai baju pada bolong-bolong semua. Tangan juga blonteng-blonteng (bintik-bintik, Red). Sing penting butuhe cukup (yang penting keperluannya terpenuhi, Red),” terangnya saat ditemui Radar Solo di lokasi pandai besi yang terletak di depan rumahnya kemarin.

Dapur untuk memandai besi cukup sederhana. Beratapkan kayu dengan desain rumah terbuka, pasangan suami istri (pasutri) ini kompak menghabiskan waktu bersama. Mereka memanfaatkan blower kecil untuk memantik api yang berasal dari arang yang dibakar. Rongsokan besi per bekas kendaraan sepanjang 25 sentimeter tersebut dibakar. Satu per satu diletakkan dalam bara api yang terus menyala.

Jika sudah membara dan berwarna merah terang besi siap ditempa. Awalnya besi tersebut ditempa melengkung. Jika bara api mulai padam, lempengan besi dipanaskan lagi. Kemudian ditempa lagi hingga bentuk lengkungan dan pipih sempurna. Berulang-ulang hingga berbentuk sabit atau pisau. Proses pemipihan satu sabit bisa memakan waktu hingga 1 jam. Belum lagi proses penghalusan dan penajaman.

Semua dilakoni Siswatri dengan hanya mengenakan daster tanpa alat pelindung diri. Terkadang dia juga harus berhati-hati pada butiran bubuk besi tajam sisa penghalusan sabit.

Dalam sehari, Siswatri bisa membantu sang suami membuat 10 sabit dan pisau. Karena menggunakan bahan bekas, satu kilogram besi rongsok hanya bisa dimanfaatkan setengahnya. Sisanya terbuang lantaran sudah berkarat.

“Bahan ini disetor dari rongsokan cukup murah, Rp 10 ribu per kilogram. Memang murah, tapi nanti pas dibakar yang bisa digunakan paling setengahnya, karena karatan kan terbuang. Yang berat itu proses pembuatannya. Kalau mukulnya nggak kuat, besinya tidak bisa dipipihkan,” terangnya.

Setelah logam besi ini membentuk sabit dengan sempurna. Dilanjutkan proses penghalusan dan penajaman dengan gerinda. Terlihat biji besi bekas penghalusan menumpuk dan menggunung di sudut tiang. Selain menerima pesanan, Siswatri juga menjualnya ke pasar Simo yang buka pasaran pahing atau tiap lima hari sekali. Sepulang dari pasar, rutinitas menempa besi dilanjutkan.

Harga jual sabit buatannya juga bervariatif. Untuk sabit kecil dan besar bisa mencapai Rp 35 ribu – Rp 100 ribu. Dia juga pernah mengirim sabit dan pisau sampai Jambi. Bakat menempa besi didapatnya dari sang suami yang berasal dari keluarga pandai besi di Delanggu, Klaten. Bakat ini juga diturunkan kepada keempat anaknya. Ketika libur semester, sang anak kerap membantu keduanya.

“Alhamdulillah, penghasilan dari nempa besi ini bisa mengkuliahkan tiga anak saya. Sedangkan yang satu masih SMP. Meski capek juga. Tapi kerja berat ini nggak saya anggap berat. Lihat anak-anak kecukupan (bisa sekolah tinggi, Red) sudah cukup, sudah terbayar lelahnya,” ujar dia.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore