Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 18 Oktober 2018 | 20.33 WIB

The Griya Lombok, Rumah dari 5 Ribu Ton Limbah Kertas

KREATIVITAS LANGITAN: Orang tidak banyak yang menyangka jika The Griya Lombok ini sebagian besar dibangun dari limbah kertas. Termasuk ornamen di dalamnya. - Image

KREATIVITAS LANGITAN: Orang tidak banyak yang menyangka jika The Griya Lombok ini sebagian besar dibangun dari limbah kertas. Termasuk ornamen di dalamnya.


"Coba banting. Kalau bisa pecah, berarti Anda hebat," tantangnya.


Lombok Post pun menjajal membantingnya. Bruuuakk...! Adonan kertas dan lem yang menyerupai batu bata itu menghantam sebuah batu.


Bukannya hancur, batu bata dari kertas tersebut justru mental. Setelah dicermati, tak sedikit pun ada tanda-tanda benda itu akan terbelah atau bahkan lecet.


"Memang, saat pembuatan pertama lunak. Tapi, setelah dikeringkan, kerasnya minta ampun," tegasnya.


Karena itu, saat gempa bertubi-tubi mengguncang Lombok dua bulan lalu, Theo merupakan salah satu warga di pesisir pantai yang sangat percaya diri tetap berada di dalam rumah. Dia bahkan sempat menantang Lombok Post untuk mencari retakan, sekalipun seurat rambut, di tembok rumahnya.


Batu bata dari bahan baku kertas tidak ha­nya membuat bobot rumah sangat ringan. Tetapi, konstruksinya bahkan sangat kukuh. Melebihi material yang selama ini dikenal banyak orang dalam membuat rumah.


"Mau bandingin dengan batu bata atau batako? Ya jauh lebih kukuh ini," tegasnya percaya diri.


Karena itu, getaran 7,0 skala Richter (SR) tidak terlalu berarti. Theo tetap bertahan di dalam rumah. Lalu berdoa dengan khusyuk agar tetangga dan sanak saudara di tempat yang jauh selalu dalam lindungan Tuhan.


"Bangun rumah ini setidaknya saya butuh sekitar 5 ribu ton kertas. Dari atap hingga dinding, semua pakai kertas," katanya.


Menurut Theo, ada beberapa teman mahasiswa yang membantu dirinya menyiapkan adonan, memasang, hingga akhirnya rumah berdiri. Di dalam The Griya Lombok, juga ada ratusan hasil kerajinan tangan. Misalnya, perabot rumah. Sama, semua juga terbuat dari bahan baku limbah kertas.


Misalnya, tempat duduk yang sekilas seperti terbuat dari akar pohon besar. Tentu, harganya bakal mahal. Akar sebesar itu tidak hanya langka didapat. "Pak (mantan) Wakil Gubernur Muhammad Amin tidak hanya duduk di atasnya, tapi berdiri untuk menguji kekukuhannya," ujar Theo dengan wajah semringah.


Kemampuan Theo memadukan warna, lalu melukis kursi itu, membuat banyak orang tidak ragu menyebut itu dari akar kayu. Padahal, seluruhnya hanya berbahan baku kertas yang dicampur lem.


Theo lalu memamerkan meja, beberapa kursi, guci dengan pahatan naga khas milik kolektor Tiongkok, berbagai ornamen rumahan, topeng, tangan, dan berbagai karya kerajinan tangan lainnya. Semua terbuat dari kertas.


Theo menyebutkan, tidak kurang dari 200 karya seni telah dibuatnya dalam berbagai bentuk. Dia masih punya cita-cita untuk membuat 800 karya seni lagi dari bahan limbah kertas. Baru kemudian mimpi terbesarnya akan diwujudkan.


"Saya akan siapkan sebuah ruangan atau galeri. Lalu menjadikannya Museum Paper Art (karya seni yang terbuat dari kertas, Red) terbesar dan pertama di dunia," tegasnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore