Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 November 2018 | 17.20 WIB

Bejamu Saman, Tradisi Turun-temurun Suku Gayo yang Mengakrabkan

Bejamu Saman tradisi turun temurun yang mengakrabkan dan meningkatkan tali persaudaraan suku Gayo di Aceh. - Image

Bejamu Saman tradisi turun temurun yang mengakrabkan dan meningkatkan tali persaudaraan suku Gayo di Aceh.

JawaPos.com - Pemuda di Kabupaten Gayo Lues setiap tahunnya umum melakukan tradisi Bejamu Saman untuk merayakan pascapanen maupun Idul Fitri atau Idul Adha. Ritual yang telah dilakukan turun-temurun oleh masyarakat Suku Gayo itu dilakukan dengan tujuan mendapatkan serinen (sahabat, Red) antardesa dan sebagai ajang silaturahmi untuk mengakrabkan persaudaraan antardesa.


Saman berasal dari bahasa tsamaanun, yang dalam bahasa Arab artinya delapan, seperdelapan. Gerakan Saman awalnya dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo, Aceh Tenggara. Hal tersebut seperti yang diungkapkan pelaku Saman sekaligus Camat Rangon, Gayo Lues, Sabri pada JawaPos.com.


"Saman itu dari bahasa Arab, tsamaanun, artinya seni kedelapan. Saat itu Syekh Saman menyiarkan agama Islam dengan Saman sebagai fasilitas," ungkap Sabri saat ditemui usai pertunjukkan Saman Bale Asam di Gayo Lues, Minggu (24/11).


"Karena orang (suku) Gayo dulu itu kalau sudah duduk bertiga atau lebih pasti ngajak main Saman. Jadi itu budayanya. Pertama kali Besaman itu di Baling, (mereka) duduk semacam ini (bersimpuh) ada bentangan kayu yang isinya serbuk gergaji," tuturnya sambil mengenakan pakaian khas Gayo, baju Kerawang lengkap dengan kain penutup kepala sebagai simbol takhta.


Kopi dan rokok tak bisa lepas dari budaya masyarakat Gayo. Hampir tiap rumah menawarkan kopi sebagai jamuan minum. Bukan air putih atau teh. Bertukar rokok pun menjadi simbol keakraban bahwa antara tamu dan tuan rumah bisa cocok satu sama lain.


Pak Sabri pun meneruskan ceritanya. Bejamu Saman tak dimungkiri menjadi simbol kerukunan di masyarakat Gayo. Pasalnya, Bejamu Saman mempertemukan seluruh pemuda desa dengan desa lain hingga menjadi serinen (sahabat, Red) yang akan menjadi simbol persaudaraan abadi yang menular ke sanak keluarganya kelak.


Bejamu Saman dilakukan dengan mengirimkan salah satu pemuda desa untuk meminang desa lain sebagai rekan Bejamu. Waktu yang dilakukan dalam Bejamu Saman biasanya dua hari dua malam (saman roa lo roa ingi) dan satu hari satu malam (saman sara lo sara ingi).


Awal dari kegiatan ini biasanya bermula dari perbincangan seberu sebujang di suatu kampung. Kemudian, keinginan Bejamu Saman ini disampaikan kepada tokoh masyarakat yang ada di kampung tersebut melalui mufakat. Jika sudah di dapat kata sepakat maka hal ini disampaikan kepada seluruh sebujang Gayo (desa tamu dan penamu), dan biasanya mereka langsung melakukan latihan saman untuk menyambut kedatangan serinen mereka.


Sembari latihan, ada beberapa pemuda yang ditunjuk untuk mencari ketersediaan suatu desa untuk menjadi serinen mereka nantinya. Jika suatu kampung tidak menyetujui karena suatu alasan, maka pemuda tersebut langsung mencari desa lain. Setelah mendapatkan kesediaan dari suatu desa maka dilakukan perjanjian, di mana dalam perjanjian itu memuat kapan Bejamu Saman dilakukan.


Saat hari-H, desa A akan melakukan penyambutan kepada desa B yang hanya terdiri atas sebujang dan orang tua laki-laki saja. Biasanya penyambutan dengan melakukan didong alo, yakni pengalungan kalung bunga oleh gadis gayo kampung A kepada tokoh masyarakat kampung B.


"Setelah penyambutan maka seluruh tamu yang datang dibawa ke tempat Bejamu Saman yang biasa disebut “bangsalan” yang sebelumnya telah dihiasi seberu sebujang gayo kampung A dengan adat istiadat setempat," ungkap Sabri.


Biasanya, tempat yang dipilih adalah tempat yang luas karena biasanya pada saat Bejamu Saman, selain menampilkan Saman antara desa A dan B, akan banyak datang penonton yang datang dari desa lain. Setelah itu, dilakukan pemilihan serinen yang sebelumnya mereka tak saling kenal. Biasanya sebujang A mendatangi sebujang B kemudian serinen mereka dibawa ke rumah untuk dijamu dan diperkenalkan pada keluarga.


Acara bejamu saman dilanjutkan dengan berkumpul kembali di bangsalan dan acara saman pun kemudian dilakukan yang biasanya pertama kali dilakukan oleh tuan rumah.


"Segala fasilitas apa pun dari A sampai Z yang dia butuhkan saat 2 hari 2 malam, mulai dari makan, pakaian, tempat mandinya itu kita (penerima tamu) yang melayani. Nah, ini yang dikatakan bejamu saman ini hanya 2 hari 2 malam yang tujuannya mengikat silaturahmi ke orang lain. Prinsipnya 2 hari 2 malam ini sahabat sejati dunia akhirat lah," lanjut Sabri.


Bejamu Saman ini, hampir sama dengan saman-saman lainnya, yaitu dimulai dari salam kemudian memuat syair-syair yang dibawakan oleh penangkat saman. Pada saat saman, biasanya hal yang paling menghibur bagi penonton adalah gerakan tari saman dan sonek yang dilantunkan oleh pengangkat saman. Sonek adalah salah satu jenis sastra gayo yang biasanya berupa pantun, yang biasanya dibawakan setelah lagu pokok atau jangin. Dalam sonek ini, biasanya memuat tentang pesan, pujian, rasa syukur, dan sindiran halus.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore