Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 13 Agustus 2020 | 20.08 WIB

Proses di Balik Adaptasi Legenda Rara Jonggrang Jadi Drama Musikal

CERITA ADAPTASIl: Rara J dan Bandung dalam salah satu adegan di drama musikal yang diadaptasi dari kisah Rara Jonggrang. (INDONESIA KAYA FOR JAWA POS) - Image

CERITA ADAPTASIl: Rara J dan Bandung dalam salah satu adegan di drama musikal yang diadaptasi dari kisah Rara Jonggrang. (INDONESIA KAYA FOR JAWA POS)

Rara J membawa Rara Jonggrang ke milenium baru, dengan berbagai tantangan berproduksi di tengah pembatasan sosial berskala besar. Membuktikan, kreativitas itu tidak dibatasi bujet dan alat.

SHAFA NADIA, Jakarta, Jawa Pos

---

KALAU dulu Rara Jonggrang seorang putri raja yang kecantikannya melelehkan hati banyak pria, Rara J merupakan beauty vlogger yang sukses. Kalau dulu Rara Jonggrang meminta dibangunkan 1.000 candi dalam semalam, Rara J menuntut 1.000 view di live streaming.

Lalu, apa korelasi Rara Jonggrang dan Rara J ini? Rara Jonggrang adalah putri dari Kerajaan Baka dalam legenda atau cerita rakyat Jawa yang berkaitan dengan Candi Sewu yang kini masuk wilayah Klaten, Jawa Tengah. Kepada Bandung Bondowoso, pangeran dari kerajaan tetangga, Pengging, dia meminta syarat dibangunkan 1.000 candi dalam semalam jika sang pangeran yang telah membunuh ayah Rara Jonggrang itu ingin meminangnya.

Itu muslihat kedua setelah syarat pertama membangun sumur bisa diselesaikan Bandung Bondowoso. Bandung juga berhasil keluar ketika berusaha dikubur hidup-hidup di dalam sumur itu.

Nah, Rara J adalah reinkarnasi Rara Jonggrang di era industri 4.0 yang tengah dilanda pandemi Covid-19 ini. Kisah rakyat itu diadaptasi ulang dan dituangkan ke dalam drama musikal Rara J secara daring.

Baca juga: Sang Pengabdi Jateng, Drama Musikal Ganjar Persembahan Relawan Rembang



Rara J bisa ditonton di kanal Indonesia Kaya. Ada lima cerita rakyat lain yang juga telah diadaptasi menjadi drama musikal dengan tema besar #MusikalDiRumahAja. Kelimanya adalah Malin Kundang, Timun Mas, Sangkuriang, Bawang Merah Bawang Putih, dan Lutung Kasarung. Penayangan edisi perdana pada 23 Juli lalu dan edisi terakhir sampai akhir bulan ini.

Adalah Titien Wattimena yang berada di balik penulisan ulang cerita rakyat populer tersebut. Dia berkolaborasi dengan Teater Musikal Nusantara (TEMAN) mengubahnya menjadi drama kekinian. Dengan benang merah cerita yang kurang lebih sama: seorang laki-laki yang jatuh cinta alias jadi bucin atau budak cinta.

Hanya latarnya yang diubah. Dulu bucin kepada seorang putri raja, kini bucin kepada seorang beauty vlogger.

Pemilihan konsep cerita ditentukan Bayu Pontiagus selaku produser drama musikal Rara J. Namun, secara keseluruhan, penggarapan diserahkan sepenuhnya kepada tiga sutradara yang terlibat. Dua sutradara teater dan satu sutradara film.

Baca juga: Ada Gulali di Hatiku, Drama Musikal Operet Karya Anak-anak Rusun

Naya Anindita selaku sutradara film mengatakan, banyak tantangan yang dihadapi bersama kru lain selama memproduksi drama musikal Rara J. Ini kali pertama dia menyutradarai teater musikal. Karena itu, dia membutuhkan waktu lebih lama untuk menyamakan persepsinya dengan tim yang bergabung.

’’Bahasa film dan teater kan beda, jadi sering miskom (miskomunikasi, Red),’’ jelas Naya saat acara pemutaran eksklusif Rara J secara daring pada Kamis (6/8).

Semua proses dilakukan secara virtual dengan kondisi terbatas akibat adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang ketika syuting berlangsung tengah diterapkan di Jakarta. Mulai proses pembuatan skrip, meeting, reading, pemberian treatment, hingga latihan.

Tak mudah bagi Naya karena dia terbiasa melakukan semua itu dengan cara tatap muka. ’’Kalau tatap muka kan enak, semua kesalahpahaman bisa segera didiskusikan,” katanya.

Kendati begitu, timnya berhasil merampungkan drama musikal Rara J sesuai batas waktu dua bulan secara keseluruhan. Proses pengambilan gambar alias syuting musikal yang berdurasi sekitar 36 menit itu hanya memakan waktu dua hari di dua tempat.

’’Tapi, nambah satu hari lantaran ada scene di green screen yang error karena memang persiapannya juga kurang cukup matang. Pokoknya ngeri-ngeri sedap deh, tegang di hari H,’’ tutur Naya.



Tantangan besar juga dihadapi Daniel Ongko yang berperan sebagai Bandung. Apalagi ini untuk kali pertama dia berakting.

’Actually aku biasanya kerja di belakang layar. Feeling-nya beda banget, lumayan nervous. Tapi, Bandung it’s relate so much to me, sama-sama bucin,’’ ungkapnya, lalu tertawa.

Berbeda dengan Daniel, Naela Vangelin yang memerankan Rara J memang sudah terbiasa dengan dunia seni peran teater. Namun, tetap saja, banyak kesan yang didapat dari pengalaman pertamanya akting di depan layar. Meskipun harus melakukan pengulangan pengambilan gambar berkali-kali.

’’Biasanya kan perform langsung, face-to-face dengan penonton. Kalau salah pun nggak bisa diperbaiki, tapi kali ini nggak,’’ tutur Naela.

Cerita Rara J memang sengaja diubah dan dikemas dengan modern agar mudah dipahami generasi milenial dan Z. Membuktikan bahwa fenomena bucin sudah ada sejak dulu kala.

Musikal Rara J membuktikan bahwa karya yang seharusnya ada di atas panggung besar, dengan segala properti yang lengkap, bisa dibawa ke medium lain secara daring.

Koreografer dalam Rara J, Venytha Yoshiantini, menambahkan, semua itu juga jadi pembuktian kepada masyarakat, terutama generasi muda. Berkarya tak melulu soal alat, tapi juga kreativitas.

’’Semua batasan itu ada di pikiran Anda sendiri. Sebab, kreativitas tidak dibatasi dengan bujet dan alat,’’ kata Venytha yang bersama Chriskevin Adefrid sekaligus menjadi sutradara teaternya.

Rizki Kurniawan Putra, seorang penonton, mengaku puas dengan hasil adaptasi Rara J. ’’Seperti 1.000 candi yang diubah menjadi 1.000 view,’’ katanya.

Walaupun berbeda kata, lanjut dia, artinya sama. Pesan dari cerita yang disampaikan juga lebih mudah dicerna generasi sekarang.

Baca juga: Drama Musikal Pelangi di Jantung Kota London

’’Aktornya beradu akting melalui daring. Itu sangat menarik,’’ ucap pria kelahiran Jakarta, 25 tahun silam, itu.

Dalam cerita aslinya, Bandung Bondowoso akhirnya hanya bisa membangun 999 candi. Sebab, Rara Jonggrang yang tak sudi menerima cinta pria yang telah membunuh ayahnya membangunkan para dayang untuk menumbuk padi dan membakar jerami sehingga hari terkesan telah pagi.

Dalam kemarahannya, Bandung mengutuk Rara Jonggrang menjadi patung. Lengkaplah 1.000 candi yang kini berjarak sekitar 800 meter dari kompleks Candi Prambanan di perbatasan Jawa Tengah-Jogjakarta.

Lalu, bagaimana dengan Rara J yang dalam kisah adaptasi menuntut Bandung bisa membuat konten yang bisa menggaet 1.000 view dalam semalam? Sebaiknya Anda menonton sendiri...

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=utPX8kQA2IQ

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore